Tuesday, May 10, 2011

Rumah Si Pitung




Masih jelas dalam ingatan sekitar setahun yang lalu, ketika jembatan gantung itu masih mengayun diantara dua daratan yang terpisah.

Nun diujung sana sebuah bangunan bersejarah berdiri dengan tegap dan diam sejuta bahasa. Tidak ada petunjuk arah yang jelas bahwa tempat tersebut menyimpan sejarah panjang kebanggan warga Betawi tempo dulu. Bahkan cerita si Pitung dianggap hanya sebuah cerita fiksi belaka.

Kini rumah tersebut tampil lebih cantik dari setahun yang lalu. Renovasi membuatnya semakin terawat dan lebih lengkap dengan beberapa informasi yang lebih baik.

Semoga rumah ini menjadi semakin penuh jiwa dan dihargai oleh kaum muda. Agar sejarah Jakarta tidak terlupakan, a Great Hero lived here once.

Carpediem!!

Sunday, March 27, 2011

Mystery of Batavia




Sabtu sore ketika sedang berjalan-jalan dengan si eneng ke kawasan kota tua Batavia, secara tidak sengaja kami berdua masuk kehalaman belakang museum Fatahillah untuk sholat maghrib. Sekerumunan orang sedang mengantri dan kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya kepada penjaga tiket. Dan dijelaskan bahwa malam itu ada pertunjukan film 3 Dimensi dari British Council secara cuma-cuma alias gratis.

Setelah menunggu si eneng selesai sholat maghrib, kami berdua segera mengantri tiket. Dan diumumkan bahwa pertunjukkan dimulai pukul 07.30 pm dan diminta agar tidak telat masuknya. Saya masih sangat penasaran, apa yang akan ditayangkan malam itu. Paling banter tentang sejarah Jakarta atau sejarah museum Fatahillah yang sudah hapal diluar kepala. Maklum sejak tahun 1992, saya les LIA digedung BNI 46 kota tua. Jadi kalau sedang menunggu waktu les masuk, saya sering tetirah dilokasi halaman museum atau menikmati benda-benda yang ada didalam museum tersebut.

Pukul 07.15 pm, kami berdua sudah mengantri dihalaman belakang museum yang tampak asri dengan lampu sorot yang semakin membuat suasana semakin romantis. Patung dewa Hermes dengan indahnya bertengger dihalaman belakang museum.

Seorang penjaga dengan pakaian tentara Belanda tempo doeloe menjadi rebutan objek foto pengunjung malam itu. Dan keluarlah seorang tua memakai sorban putih serta baju gamis warna merah menyala sambil membawa sebuah genta. Dan ia menyapa para pengunjung dengan tingkah teatrikalnya yang lucu.

Pukul 07.40, pintu masuk dibuka dan kami segera menempati tempat duduk semi lesehan yang disediakan oleh panitia. Dan disitulah perjalanan "Mystery of Batavia" dimulai. Lukisan dinding animasi yang disorot dengan teknologi 3D membuat saya terperanjat, karena sangat hidup sekali. Pria bersorban tersebut segera bermonolog ditengah panggung sambil menceritakan asal muasal mitos Pedang Pangeran Jayakarta yang hilang. Yang segera mengingatkan saya akan mitos pedang King Arthur.

Pertunjukan yang sangat menarik ini disponsori oleh British Council dengan teknologi Video Mapping Projection yang dikembangkan oleh para DJ di Jerman sekitar 3 tahun lalu, serta Interactive Animated Performance dengan sisipan gaya monolog. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal yang didukung oleh teknologi canggih, sebuah pertunjukkan masa depan. Bayangkan suatu hari nanti Anda bisa menyaksikan sebuah Opera Turandot atau Opera I La Galigo yang dikemas dengan teknologi canggih sehingga penonton tidak perlu lagi menunggu agar layar dibelakang ditarik statis, dan semuanya ada dibelakang panggung sesuai tema yang akan ditampilkan.

Selepas acara tersebut berakhir, kami semua digiring keruangan samping teater dan disanalah harta karun Indonesia di era modern tersibak. Sebuah lukisan dinding atau mural yang dibuat pada tahun 1974 atas permintaan Gubernur Alm. Ali Sadikin waktu itu. Dan pelukis Harijadi Sumowidjojo menerima tawaran tersebut dengan bayaran 12 juta, dan ia mulai melukis mural didinding seluas 200m2.

Singkat kata selama hampir 35 tahun, tidak pernah ada orang awam yang mengetahui lukisan mural "The National Treasure" tersebut. Tidak ada yang peduli sehingga menyebabkan lukisan mural tersebut mengelupas karena lembab dan tidak ada yang peduli. Hingga British Council pun merenovasi lukisan mural tersebut dan bisa disaksikan oleh bangsa ini mulai tanggal 13 Maret - 15 April 2011. Pertunjukan dimulai pada hari Sabtu dari pukul 16.00 - 20.00 dan Minggu 10.00 - 14.00.

Dan konon lukisan mural ini pun ditemukan secara tidak sengaja oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia yang mencoba menyimak harta karun yang terdapat disekitar area kota tua ini. Dan lukisan mural ini adalah salahsatunya...kota Paris punya lukisan Monalisa yang terkenal dan kota tua Jakarta punya lukisan mural yang sangat indah dan menyimpan nilai seni yang tinggi. Terimakasih untuk British Council dan seniman berbakat dari Inggris dan Indonesia yang bisa mewujudkan sesuatu yang hal yang mustahil apabila harus menunggu uluran tangan dari pemerintah. Gedung tua sudah banyak yang hancur baik dengan sengaja atau tidak sengaja....harta karun tersebut lambat laun akan hilang dimakan usia.

Wednesday, March 16, 2011

Road to Buble - Crazy Love Tour, March 2011




People said that I am lucky...it might be true, but it's impossible without God wishes. Minggu pagi, saya segera menghubungi sahabat lama yang menetap di Kuala Lumpur untuk dicarikan tiket apabila masih ada. Pukul 14.30 waktu Kuala Lumpur, sahabat saya mengirim text mesej bahwa masih ada tiket untuk yang berdiri senilai 200 RM. Akhirnya saya langsung menyetujui dan berterimakasih karena disaat hari terakhir konser saya masih kebagian tiket walau kelas festival dan harus berdiri. But it's okay coz it's my dream concert...

Setiba dibandara KLIA, saya segera bergegas menaiki kereta express senilai 35RM menuju kejantung kota Malaysia. Dan setelah check in di Cube Hotel, kawasan Bukit Bintang..saya segera merebahkan diri dan kemudian beranjak keluar untuk mencari makan dengan teman kantor.

Di Papa Rich, saya bertemu dengan sahabat lama yang sudah 10 tahun tidak bertemu semenjak dia menikah dengan orang Malaysia. Kami bertiga pun menikmati makanan khas Malaysia..roti canai serta nasi lemak dengan harga yang cukup mahal buat saya.

Selepas makan, kami pun segera bergegas menuju ke stadium malawati dishah alam yang berjarak sekitar 30 menit dari KL. Kemacetan yang luar biasa akibat hujan deras yang melanda KL membuat jantung saya berdetak kencang karena takut telat. Dan sahabat saya sempat tersesat akibat tidak jelasnya petunjuk jalan menuju ke stadium malawati malam itu.

Setelah bertanya dipom bensin, kami pun segera menemukan lokasi. Ratusan mobil sudah berada dipelataran parkir. Gerimis makin membasahi tubuh kami bertiga hingga kepintu masuk stadium yang berbentuk seperti Istora Senayan di Jakarta tetapi dengan kapasitas 3 x lebih besar dan lebih rapi.

Setibanya distadium, kamera Canon saya tidak boleh dibawa masuk dan akhirnya saya harus masukkan didalam tas. Dan saya terbebas dari ancaman tidak boleh memasuki stadium. Pukul 08.20 pm saya dan rekan2 sudah memasuki dalam stadium dan sempat menyaksikan penyanyi lokal malaysia menendangkan beberapa buah lagu.

Puluhan tempat duduk masih tampak kosong, walau sudah terisi 80% dari kapasitas sekitar 5000 penonton malam itu. Beberapa merchandise Buble dijajakan dengan harga yang cukup mahal, bahkan untuk segelas air putih dengan ice saja dihargai 2 RM atau sekitar Rp 6000/cup.

Pukul 08.45 pm, layar utama dipanggung terbuka dan semburat tulisan MB "Michael Buble" pun terkuak hingga lantunan opening act dari Crazy Love Tour pun segera hadir. Mr. Buble dengan suaranya yang khas segera membahana diseluruh ruangan stadium, tepuk tangan dan riuhan penonton segera memenuhi setiap ruang kosong didalam stadium.

Permainan cahaya dipanggung yang ciamik dengan tata panggung yang sederhana menambah semakin semaraknya konser Buble malam itu. Dan bukan hanya seorang penyanyi saja, ia juga seorang entertainer yang sangat baik. Buble memperkenalkan satu persatu musisi yang mengiringi penampilannya malam itu dengan luconan khasnya dan bahkan agak sedikit 'nakal' bagi para penonton Malaysia.

Ia pun segera memanaskan stadium dengan lagu-lagunya yang sudah dikenal oleh para pendengar setianya. Buble memberikan kejutan dengan menari 'Moon Walk' ala Michael Jackson, hingga ia memberikan sambutan bahwa ia adalah penggemar MJ dari kecil. Ia pun melantunkan beberapa bait lagu MJ dengan gayanya yang khas dan penonton pun segera berteriak.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika Buble turun dari panggung menemui penonton dibagian belakang. Ia berteriak,"I know that you guys paid so expensive to see me here. And this is the time to see me closely". Penonton segera berhamburan menemuinya dan segera para bodyguardsnya melindungi Buble dari repalan tangan penonton yang ingin menyalaminya langsung.

Dibagian belakang ia segera menaiki sebuah panggung kecil yang memang sudah disiapkan oleh pantia sebelumnya, dan Buble menyanyikan lagu hitsnya "HOME" ala akuistik. Setelah menyanyikan satu lagu, ia segera kembali kepanggung utama.

Dan sekali lagi ia menyerukan,"This is a party, so let's dance!" Ribuan penonton segera berdiri dan menggoyangkan badan sambil mengikuti iringan lagunya. Sudah 10 buah lagu dinyanyikan dan ia membuat salam perpisahan.

Teriakan "We want more" segera bergema didalam stadium Malawati, dan waktu 5 menit ia segera kembali kepanggung dan penonton berteriak kencang. Ia memberikan bonus 2 lagu tambahan diakhir pertunjukannya. Hingga ribuan convetti yang ditembakkan membuat seluruh panggung terlihat seperti bintang-bintang malam akibat diterpa sorotan lampu sorot.

Tepat pukul 10.30 pm, Konser Michael Buble berakhir dan kami pun semua senang dan terpukau akan aksi panggungnya yang menawan. Penonton dengan tertib segera keluar stadium dan hujan pun telah reda.

Kini kami terhalang oleh penonton yang hendak pulang, dan kami seperti orang hilang karena sangat susah mencari taksi. Ternyata konser di Malaysia berbeda dengan di Indonesia, untuk urusan taksi sangatlah sulit karena lokasinya yang jauh dari tengah kota.

Kami bertiga harus jalan kaki sekitar 1 km dan menunggu taksi yang tidak mau distop ketika kerhenti. Puluhan turis asing tampak kebingungan karena seperti kami yang tidak tahu harus pulang naik apa. Bahkan banyak pengunjung dari Indonesia melakukan hal yang sama. Berjalan kaki tanpa arah tujuan.

Hingga salahsatu teman saya memberitahu bahwa ada free shuttle bus tapi tidak ada petunjuk yang jelas dimana shuttle bus tersebut berhenti. Kami bertiga memutuskan kembali kestadium dan bertanya kepada pihak panitia dengan baju yang basah akibat keringat.

Pukul 11.30 pm kami bertiga naik free shuttle bus setelah panitia menelpon petugas supir bus. Dan ada beberapa penumpang dari Indonesia dengan baju pesta menaiki bus kami.

Pukul 12.15 am, kami tiba di KL Sentral dan lanjut dengan naik taksi hingga kedepan hotel dengan biaya 11 RM saja. Akhirnya saya bisa menyaksikan konser tersebut dengan sangat nyaman, dan berharap Mr. Buble mau berkunjung ke Jakarta tahun depan agar kami bisa menyaksikan kepiawaannya tanpa harus menempuh jarak ribuan kilometer dari Jakarta.


Wednesday, December 22, 2010

Hillarious and Funtastic di Musikal Laskar Pelangi

This is it!  Sudah lama saya ingin menyaksikan sebuah opera asli buatan Indonesia dan sebenarnya sudah ada beberapa opera yang sudah dibuat sebelumnya cuma belum sempat menyaksikan yaitu I La Galigo dan Onrop. Tentu dengan harga tiket yang masih terjangkau dan gedung opera yang gress membuat semuanya bisa disaksikan oleh orang banyak. Setelah sempat mengalami pembatalan pada hari sabtu lalu, tiket saya bisa ditukar hari selasa malam kemarin.

Puluhan penonton sudah mengantri sejak sore hari, padahal pertunjukan sudah mulai 7 malam. Sekitar pukul 7 malam diumumkan pertunjukan akan dimulai dan sekitar 15 menit kemudian layar mulai dibuka.

Dari buku panduan dijelaskan bahwa beberapa pemeran utama dalam musikal laskar pelangi ini diperankan secara bergantian oleh beberapa orang, mengingat dibutuhkan performa suara yang sangat baik serta penguasaan panggung yang apik.

Yang patut diacungkan jempol yaitu setting panggung yang disesuaikan dengan situasi dan cerita, dalam waktu sekian detik setting harus berubah. Akhirnya Indonesia dan Jakarta khususnya mempunyai gedung Opera baru yang bisa mengakomodir kebutuhan setting panggung sesuai cerita dengan standar internasional. Jay Soebiakto memang layak diacungkan jempol ketika permainan multimedia dan setting panggung dijadikan satu sebagai penunjang jalan cerita. Terlebih lagi ketika rintik hujan turun, air yang mengallir dari atas terlihat seperti hujan.

Pemeran Ibu Muslimah, Pak Harfan, Pak Bakri memberikan kekuatan tersendiri dicerita awal. Ketika scene cerita Pak Bakri dalam "Sekolah Miring", ia sangat menjiwai perannya serta suara yang empuk membuat cerita menjadi sangat hidup dan menyentuh. Ibu Muslimah pun mempunyai andil yang besar dimusikal ini, suara yang empuk dari Dira Sugandi malam itu membuat setiap penonton dibawa kesetiap cerita yang dinyanyikan dengan begitu indah.

Pemeran anak-anak pun tidak kalah hebatnya, mereka - Ikal, Lintang, Mahar, Kucai bergantian menunjukkan kepiawaiannya dalam bernyanyi serta bermain drama. Sebuah kombinasi yang sulit untuk dibawakan oleh seorang anak kecil dan Indonesia sudah memiliki bibit berbakat sebagai pemain opera suatu saat nanti. Suatu hari nanti, para pemain Opera Indonesia akan bisa mentas dipanggung internasional dengan membawakan cerita asli negri ini. Dasar yang mereka dapatkan dipentas musikal Laskar Pelangi akan menjadi modal awal yang membanggakan asal mereka bisa berlatih terus serta mendapatkan kesempatan bermain opera lagi.

Komposisi musik yang dibuat oleh Erwin Gutawa serta Mira Lesmana juga bisa menghidupkan musikal Laskar Pelangi, tetapi menurut saya ada beberapa bagian yang terlalu banyak menggunakan unsur musik sumatera barat. Sementara cerita berawal dari Pulau Belitung yang kuat unsur melayunya. Tiupan musik saluang - alat tiup asli Sumatera Barat ini banyak digunakan dan seharusnya bisa diganti dengan alat musik akordion serta biola untuk menceritakan sesuatu kesedihan.

Sayangnya akuistik gedung Opera ini masih ada kekurangan dan mudah2an bisa diperbaiki lagi agar para penonton yang berada ditribun 3 bisa mendengar musiknya dengan jernih. Overall, it's absolutely a hillarious and funtastic opera made in Indonesia. I am proud of it. Semoga dimasa mendatang bisa dimainkan di The Esplanade or Sydney Opera House....
Congrats for Miles Production and team...I love it.


Saturday, December 18, 2010

Pembatalan Opera Laskar Pelangi @ Jakarta Opera House




Jakarta, 18 Desember 2010 - Dengan antusias saya ingin segera menyaksikan Opera Laskar Pelangi yang berlangsung di Teater Jakarta atau Jakarta Opera House di Taman Ismail Marzuki tadi malam. Saya sudah menyempatkan hadir untuk tiba lebih awal karena takut telat, karena setahu saya biasanya apabila telat menonton opera maka pintu masuk sudah ditutup dan harus menunggu sampai jeda waktu berikutnya. Pukul 17.30 saya sudah tiba dan cukup terkesima dengan kemegahan gedung teater yang baru diresmikan oleh Gubenur DKI - Fauzi Bowo pada tanggal 1 November 2010 lalu dan sudah diujicoba oleh Opera Onrop yang tidak sempat saya saksikan.

Ada masalah sedikit ketika hendak memasuki pintu opera house karena tiga orang teman sudah berada didalamnya dan sementara tiket saya dipegang oleh mereka. Kemudian saya mencoba menghubungi mereka melalui selular dan akhirnya berhasil mendapatkan akses masuk kedalam gedung opera tersebut. Suasana gedung yang masih baru membuat saya agak terasing dan cukup bangga berada digedung megah ini. Sudah lama diidamkan Jakarta mempunyai sebuah Opera House yang representatif seperti ini.

Gedung ini dilengkapi dengan eskalator dan juga lift yang mencapai lantai 3 dengan desain minimalis yang dihiasi dengan elemen kayu, metal dan kaca tembus pandang. Ingin membayangkan opera kelas dunia seperti The Cats atau Phantom of the Opera or Miss Saigon hadir di teater ini...

Setelah menikmati makanan dengan harga yang cukup mahal, karena pertunjukan akan berlangsung selama 2 jam dan baru dimulai pukul 7 malam jadi sudah seharusnya saya mengisi perut agar bisa berkonsentrasi menonton opera.

Pukul 6.45 malam, pintu teater sudah dibuka dan kami bergegas menuju kelantai 3, sebuah tribun dengan kemiringan hampir 45' derajat dan kerumunan penonton yang sudah mengantri sejak dini segera berhamburan memasuki ruangan untuk mendapatkan posisi yang terbaik. Maklum tiket tidak mencantumkan nomor tempat duduk, mungkin tiket VIP atau VVIP akan dicantumkan nomor tempat duduk, atau seperti menggunakan sistim sebuah maskapai penerbangan yang murah...

Seharusnya pertunjukan dimulai pukul 7 malam sesuai waktu yang tertera ditiket, tetapi hingga pukul 7.30 malam pertunjukan belum juga dimulai. Sementara ruangan teater sudah 80% terpenuhi oleh penonton dan para pemusik sudah siap dibagian bawah.

Saya mulai memperhatikan sekeliling gedung opera, masih banyak hal yang perlu dibenahi digedung Opera ini..ketika Anda berada dibagian tribun paling atas bisa melihat beberapa bagian - khususnya atap yang masih berantakan. Seharusnya atap yang dijadikan sebagai alat peredam suara tersebut ditutup agar terlihat lebih rapi dan tidak tampak kotor. Ada plastik sisa pemasangan alat peredam tersebut dan sampah yang menumpuk serta salahsatu tiang besi yang patah dan harus diperbaiki segera agar tidak jatuh.

Lampu gedung ada yang masih belum terpasang dan bahkan ada yang putus sehingga tidak menyala, sementara lubang tempat lampu sorot dibiarkan terbuka. Seharusnya bagian controller lebih teliti dan kontraktor gedung bertanggungjawab terhadap segala macam kerusakan termasuk salahsatu tali baja yang kendur dibagian atap diatas panggung utama. Jangan sampai atap peredam jatuh dan menimpa para pemusik serta penonton dibawahnya...seperti di scene phantom of the opera.

Pukul 07.40 malam, Mbak Mira Lesmana, mas Erwin Gutawa muncul diatas panggung dan mengumumkan permintaan maaf karena ada kesalahan tehnis sehingga pertunjukan ditunda hingga 15 menit kedepan. Saya pun kemudian berceletuk kepada teman2 saya yang hadir malam itu, mungkin tirainya nggak bisa diangkat.

Sambil menunggu waktu 15 menit sebelum pertunjukan dimulai, saya segera mengambil beberapa batang rokok dan mengambil balcony dilantai 3 yang terbuka, karena dilarang merokok didalam ruangan opera dan sekitarnya. Dan masih ada ketidaksempurnaan pengerjaan gedung opera ini, pagar pembatas kaca di balcony tidak layak untuk bersandar karena goyah. Sehingga bisa membahayakan Anda apabila bersandar dan kaca tersebut pecah, seharusnya diberikan signage "agar tidak bersandar" atau tanda larangan buat anak-anak. Jangan sampai para penonton yang membawa anak kecil berada didekat balcony ini karena tngginya hanya sekitar 80cm sehingga cukup membahayakan dengan kekuatan kaca pembatas yang tidak terlalu kuat.

Pukul 7.55 malam diumumkan agar para penonton segera masuk kedalam ruangan opera, setelah duduk ditempat semula. Tiba-tiba seluruh crew pemain opera laskar pelangi muncul diatas panggung dan Mbak Mira Lesmana sekali lagi memberikan pengumuman yang sangat mengejukan malam tadi, sebuah permintaan maaf karena pertunjukkan opera laskar pelangi malam tadi dibatalkan. Para penonton bisa menukarkan tiket dihari lain atau direfund, dan diberikan alasan karena tirai panggung tidak bisa dibuka dan ada kerusakan tehnis lainnya sehingga pertunjukan tidak bisa diteruskan.

Sebagai pengobat kekecewaan, para crew menyanyikan 3 buah bait lagu opera laskar pelangi. Kami sungguh kecewa digedung yang megah dan masih sangat baru, ternyata ada kerusakan. Saya sudah rugi waktu, makanan serta minuman yang cukup mahal, dan entahlah...kami sungguh kecewa tapi apa boleh buat. The show was being canceled.

Kami turun kelobby gedung opera dan banyak selebriti tanah air yang turut hadir sedang sibuk bernegoisasi dengan teman-temannya untuk mereschedule rencana menonton laskar pelangi. Dan kami pun harus merubah jadwal acara dengan 2 waktu yang berbeda, karena ada salahsatu teman kami yang harus mempersiapkan koor untuk Natal di gerejanya.

Dan bahkan ketika mengantri, ada salahsatu penonton yang besok harus dinas ke Balikpapan dan waktunya hingga pertengahan Januari 2011 sehingga ia lebih memilih refund karena minggu sudah harus berangkat. Saya tahu pasti pihak miles production juga rugi materi kerana penundaan pertunjukan tadi.

Salahsatu rekan saya sedang mengobrol dengan salahsatu pemain opera laskar pelangi dan dari ceritanya, ternyata ketika pertunjukan Onrop beberapa waktu yang lalu sempat terjadi hal yang sama yaitu tirai panggung hanya bisa dinaikan setengahnya saja dan ada beberapa kendala tehnis lainnya.

Ketika diadakan selamatan, akhirnya pertunjukan selanjutnya kembali lancar. Mungkin mbak Mira Lesmana harus melakukan hal serupa agar pertunjukan bisa lancar kembali dan tidak mengalami gangguan gaib. Ternyata gurauan mengenai Phantom of the Opera semasa dalam ruangan tadi, benar-benar terjadi. Dan bahkan para crew tadinya mengira bahwa penundaan pertunjukan karena ada pejabat penting yang mau hadir, karena mereka tidak diberitahukan. Hanya diinfokan bahwa pertunjukan ditunda sebentar, ternyata crew tehnik sedang bingung karena pertunjukan disore hari sebelumnya berjalan dengan lancar. Tapi malam ini gagal dilakukan.

Ternyata lokasi gedung Opera Jakarta ini, sempat tertunda dari tahun 1996 - 2008 dan beberapa tahun sebelumnya galian untuk lokasi gedung Opera ini menelan korban dua anak kecil yang tenggelam dilokasi galian yang tergenang air. Setahu saya memang dulunya lokasi Taman Ismail Marzuki ada yang bekasi kuburan Cikini yang kemudian dipindahkan karena akan dibangun Taman Ismail Marzuki pada tahun 1968. Sehingga bagian belakang TIM dan IKJ ini memang terkenal angker.

Semoga diacara berikutnya tidak ada halangan lagi agar penonton tidak kecewa.

Sekilas tentang gedung Teater Jakarta atau Jakarta Opera House:

Ide awal pembangunan gedung Opera ini diprakarsai oleh Mantan Gubernur DKI yang terkenal dan paling bersih yaitu Alm. Pak Ali Sadikin, beliau berniat membangun sebuah lokasi untuk kesenian dan gedung opera. Kemudian baru dijalankan oleh Pak Wiyogo - mantan Gubernur DKI ditahun 1996, tapi akibat krisis moneter ditahun 1998, pekerjaan terhenti. Masterplan berubah lagi dan lokasi bangunan ini menghancurkan beberapa bangunan teater kecil.

Tahun 2008 mulai digulirkan kembali pembangunan gedung Opera ini dan kemudian diresmikan oleh Fauzi Bowo pada tanggal 1 November 2010. Tetapi masih ada polemik mengenai siapa yang bertanggungjawab atas gedung Opera ini, apakah pihak TIM atau Pemda.

Sudah seharusnya polemik berbau politik dan bisnis tidak masukan dalam kesenian, gedung Opera ini masih baru tapi masih ada saja yang harus dibereskan. Belum lagi jadwal pementasan dan promosi agar setiap masyarakat bisa menonton seni dengan biaya yang terjangkau.

Bisa dibayangkan berapa harga yang dipatok untuk menyewa gedung Opera ini untuk sebuah pertunjukan? Opera House ini harus menjadi kebanggaan Indonesia dan publik Jakarta...

Thursday, October 28, 2010

Spirit of A Nation

Hari ini 82 tahun yang lalu para pemuda berkumpul dan mengucapkan sebuah janji yang pada akhirnya membentuk sebuah negara yaitu Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, yaitu tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu,yaitu bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia

Ada rasa bangga dan haru ketika membaca janji ini, walau mungkin sudah banyak yang melupakan dan bahkan tidak peduli dengan sumpah ini.

Saya jadi teringat ketika dibeberapa waktu yang lalu di milis kecil, seorang teman mantan warga negara Indonesia yang kini bersatus warga negara jiran....menulis Indonesia dengan kata Indon...saya tersentak dan mengingatkan teman saya bahwa negara ini tertulis dan dibaca dengan kata-kata INDONESIA bukan INDON. Sebuah kata yang terkesan melecehkan bangsa ini...Hingga akhirnya seorang teman menuliskan komentarnya bahwa ia sangat tidak suka dengan kata Indon...dan saya menyetujuinya.

Sudah sering bangsa ini dilecehkan oleh negri lain dan menyebut bangsa ini Indon yang kurang lebih berarti seorang budak. Dengan susah payah negri ini dibangun dengan keringat dan darah, bila seorang mantan WNI memanggil eks negrinya dengan kata Indon, sungguh sangat meresahkan dan sangat menyayangkan tindakan tersebut. Rasa bangga sebagai bangsa harus tetap dipertahankan walau tentunya bukan dengan cara kekerasan. Seperti tulisan teman saya yang menanggapi hal tersebut, bila kita masih meneruskan menyebut nama Indon berarti kita tidak menghormati orang yang tidak suka dengan sebutan tersebut.

Mungkin banyak orang berkata, apalah arti sebuah nama. Indonesia sebuah nama negara yang 82 tahun sudah dikukuhkan secara de facto oleh para pemuda pemudi dari berbagai macam suku dan agama dinegri ini, dan kini rasa bangga menyebut nama tersebut sudah semakin berkurang. Tapi tidak bagi saya dan jutaan manusia di negara ini....kami masih bangga sebagai warga negara Indonesia.

Walau bencana masih mengancam didepan mata dan para pejabat yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing hingga para anggota DPR yang harus belajar etika di Yunani (padahal negri itu mengalami kebangkrutan moral dan ekonomi), kami masih siap dan rela untuk menetap serta membangun negri ini menjadi lebih baik. Karena kami yakin bahwa perubahan besar untuk yang lebih baik dimasa datang akan terjadi suatu saat nanti.

Indonesia akan menjadi panutan dunia, menjadi sebuah negara yang berdikari dan menganut welfare state bagi jutaan penghuninya. Sebuah impian yang Insya Allah akan terjadi bila kita masih bangga dengan negara ini. Bangga untuk tidak korupsi, bangga bisa berdikari, bangga bisa mensejahterakan keluarga dan bangsa ini dan bangga bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup. Tidak ada yang tidak mungkin apabila kita terus berdoa dan bekerja karena semua kekuatan ada ditangan para pemuda dan pemudi negri ini. Yes,we need a CHANGE

Saturday, October 16, 2010

Festival Balkot Bandung 2010




HUT Kota Bandung ke 200 tahun dimeriahkan oleh salahsatu acara, salahsatunya yaitu Festival Balai Kota Bandung yg dimulai dari jembatan pasopati Dago hingga kedepan Balai Kota pada hari sabtu tadi.

Cuaca yang bersahabat membuat masyarakat tumpah ruah dijalanan dan menyebabkan kemacetan dibeberapa tempat. Sayang parade mobil hias dari dinas pemerintahan seperti tampil seadanya. Julukan kota kembang Bandung hanya slogan semata, mobil hias sangat minim hiasan bunga. Beberapa mobil hias hanya ditancapi bunga seadanya saja....padahal mungkin dana yang diminta untuk festival ini cukup besar cuma yg tampil seadanya. Sungguh memalukan dan sepantasnya pemkot Bandung belajar dari kesuksesan Kota Jember yang terkenal akan Jember Fashion Carnival atau Festival Bunga Kota Tomohon....

Yang ada malah diramaikan oleh pawai kendaraan bermotor dan minim kesenian tradisional...beruntung serombongan pemain drumband dari beberapa peserta parade menghiasi jalanan kota Dago pagi itu. Dan menjadi hiburan tersendiri diparade tersebut.

Kota Bandung harus menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih sejuk setidaknya sama seperti Bandung ditahun 1990an yang masih banyak pepohonan dan udara yang sejuk. Gubernur, Wagub dan Walikotanya jangan hanya melakukan acara seremonial, kerja dan tindakan perlu bukti untuk membuat kota ini nyaman untuk setiap warganya dan menjadi kota wisata yang mengasyikkan.

Selamat Ulang Tahun kota Bandung....see you for another century...