Monday, August 23, 2010

Jakarta Punya Sawah




Kampung Rorotan yang terletak di kecamatan cilincing , Jakarta Utara ini merupakan daerah yang masih terlupakan. Puluhan hektar sawah masih bertebaran dan memberikan nuansa yang seakan tempat ini bukan di Jakarta tapi berada disebuah desa nun jauh dari Jakarta. Jalanan kecil yang masih berlubang dengan pohon kecil dikiri dan kanan jalan serta rerimbunan padi yang memberikan udara segar.

Ditahun 1990an, ketika saya dan keluarga masih tinggal di Kebantenan III, Jakarta Utara...saya dan teman-teman sering ngabuburit dikawasan ini. Karena suasananya masih begitu asri dengan sawah serta tambak ikan bandeng dibeberapa area.

Rorotan sepertinya masih tidak tersentuh oleh pembangunan, masyarakat Betawi masih dengan mudah kita temui disini. Walau sawah mereka sudah sebagian besar dijual dan masih ada beberapa yang tersisa serta masih bisa ditanami padi. Atas kebaikan sang pemilik lahan, mereka masih boleh bercocok tanam sehingga menghasilkan padi yang subur padahal letaknya hanya 1 mil dari tepi laut cilincing, jakarta utara.

Semenjak Banjir Kanal Timur (BKT) dibangun, beberapa masyarakat Betawi harus pindah dari tanahnya dan mungkin akan menghitung waktu lagi disaat sawah dan tambak mereka diubah menjadi kawasan industri atau perumahan.

Sementara disisi paling utara kita bisa menjumpai kawasan pantai terbuka yang sebenarnya bisa dijadikan lokasi wisata, sayang banyak sampah dibibir pantai. Disaat bulan puasa seperti ini masyarakat banyak menikmati pesisir utara jakarta untuk berlibur dan menikmati sunset.

Come and enjoy the last rice fields in Jakarta. Boleh percaya atau tidak, coba kunjungi kawasan ini diwaktu weekend.

Friday, July 23, 2010

Eric Chang - A Young and Talented Photographer from Indonesia




Ketika membuka website PX3 Prix De La Photographie Paris, sebuah ajang penghargaan bagi para fotografer berbakat diseluruh dunia, saya terkesima dengan seorang pemenangnya yang bernama Eric Chang dengan salahsatu hasil karyanya diambil digunung Bromo, Jawa Timur. Dan setelah berfacebookan dengan Alex - baru tahu kalau Eric Chang ini ternyata seorang WNI dan masih sangat muda umurnya, 20 tahun.

Diajang bergengsi tersebut, ia berhasil mendapatkan juara pertama serta juara kedua ditiga kategori advertising dan bahkan menyabet dua juara di kategori beauty sekaligus. Ketika ia membidik Miss Netherlands – Sharita Sopacua, hasilnya sangat menawan. Total ia mendapatkan 5 penghargaan di kategori Advertising serta 1 penghargaan untuk kategori Potret Keluarga. Khusus untuk potret keluarga, karya eric berupa foto yang diambil dari poster film SEPULUH.

Saat ini Eric Chang masih studi di Art Centre College of Design di Pasadena, California - negri Paman Sam. Ketika di Indonesia dan masih berumur 18 tahun, ia pernah membuat sebuah pameran yang bertajuk "Primero" di Mid Plaza 2, Jakarta. Pameran fotogafi tersebut memuat 50 publik figur Indonesia seperti Kris Dayanti, Luna Maya, Adie MS, serta Ruth Sahanaya, dll.

Dari sebuah tayangan youtube, ia bercerita bahwa dulu ia sempat ingin menjadi seorang dokter. Dan kini hobinya menjadi sebuah karya seni yang layak diacungkan jempol dan bahkan sudah diakui dunia. Muda dan berbakat, tapi sayang tidak banyak orang tahu mengenai dirinya apalagi dimedia massa Indonesia yang saat ini lebih suka memberitakan hal-hal yang tidak penting. Padahal masih banyak orang Indonesia yang karya serta bakatnya diakui oleh dunia dan membanggakan negara ini.

Mungkin saat ini lebih baik Eric berkarya dan mengukir tinta emas diluar negri agar diakui secara internasional dan bisa bereksplorasi lebih banyak. Suatu saat kita bisa menyaksikan hasil karyanya kembali dalam bentuk sebuah pameran fotografi di Indonesia. Carpediem!!

Tuesday, July 20, 2010

Istana Kegelapan




Sudah 9 tahun ini aku tidak pernah menapaki Istana, istana yang dulu terlihat megah dan mentereng karena dibuat oleh bahan-bahan yang paling bagus dijamannya. Bercat putih dan taman yang luas, lampu gantung impor, lantai marmer kelas satu serta perabotan dari kayu jati serta permadani dari Persia.

Aku masih ingat ketika Ibu membawaku berjalan-jalan disepanjang istana tersebut. Taman dan air mancur serta pohon pelindung yang berada disekitar istana membuatku merasa nyaman.

Setiap sore beberapa tetangga dan bahkan masyarakat sekitar sering masuk dan bermain dihalaman istana, bahkan mereka sering menghabiskan sore hari direrumputan hijau istana sambil menikmati kicauan burung yang hinggap direrimbunan pohon.

Hingga kami sekeluarga pindah dari istana tersebut karena masa kontrak kami sudah selesai, saat ini kami tinggal disebuah rumah sederhana dipinggiran kota. Karena harga tanah yang semakin melambung membuat kami tidak bisa tinggal ditengah kota.

Siang itu aku melihat dua janda veteran sedang duduk terdiam didepan istana, raut muram wajah mereka seperti hendak menceritakan seribu keluh kesah yang tidak mungkin diungkap dengan kata-kata. Kata-kata meeka sudah habis ketika dimeja peradilan, air mata mereka sudah mengering semenjak mereka dikeluarkan dari rumah secara paksa. Aku sendiri berdiri terdiam dari jarak 3 meter dari dua wanita renta tersebut. Kami saling bertatapan dan sesekali wanita itu menyeka kening mereka dari peluh akibat panasnya kota.

Ingin sekali aku membukakan pintu istana untuk mereka dan mengajak kedua wanita renta itu untuk duduk diberanda istana yang asri sambil memberi mereka secangkir teh hangat sebagai obat dahaga. Aku ingin mengajak mereka bicara dari hati ke hati, mendengarkan keluh kesah mereka tentang istana mereka yang sudah lenyap ditelan angkara murka. Dan kalau Bapak sudah datang, aku ingin membujuk Bapakku untuk memberikan mereka sedikit lahan untuk dibangun sebuah istana kecil untuk tempat mereka berteduh. Mereka juga pejuang veteran seperti Bapakku dan sangat besar sekali kemungkinan Bapakku membantu mereka.

Tapi apalah daya, Bapakku tidak sehebat dulu. Kami sudah menjadi rakyat biasa dan bahkan tanah Bapak di kawasan Kelapa Gading sebagai hadiah untuk veteran perang Irian Barat sudah disulap menjadi kawasan bisnis, mal dan bahkan gedung apartemen superblok yang menjulang tinggi tanpa sepeser uang penggantian. Bapak sudah tidak berdaya...

Dikemudian hari, aku melewati istana dan kali ini aku melihat seorang ibu dengan anaknya yang sedang berdiri diistana. Wajah dan kulit mereka terkelupas akibat ledakan sebuah tabung udara dan konon tabung gas untuk memasak. Sekali lagi mereka tidak bisa masuk keistana dan tidak bisa bertemu dengan Sang Tuan Rumah. Beberapa penjaga melarang mereka masuk dengan berbagai macam alasan, sementara si anak menangis sambil menahan sakit akibat kulitnya yang terkelupas.

Oh Tuhan, ingin rasanya aku sekali lagi membuka pintu halaman istana dan mengajak mereka masuk. Mamaku pasti akan membantu mereka dengan memanggil dokter istana yang berjaga 24 jam untuk menyembuhkan mereka. Mamaku seorang wanita yang gampang luluh disaat melihat mereka yang kesusahan. Tidak heran apabila beberapa tetangga sering meminta bantuan apabila sedang kesusahan. Disaat mereka sembuh, mereka sering membawakan pisang goreng, makanan kecil kesukaan kami.

Dulu istana begitu hidup, kami hidup berdampingan satu sama lain dan saling bantu membantu dengan segenap kemampuan kami. Kini istana tersebut begitu angkuh dan terasa semakin gelap walau sorotan cahaya lampu menambah indahnya istana tersebut dimalam hari.

“Mau kemana kamu?” hardik seorang pria tegap yang berdiri didepanku.

Arghh ternyata kaki kanan saya melewati garis putih didepan pagar istana, alhasil saya dilarang maju dan disuruh mundur selangkah dibelakang garis putih tersebut. Dan ternyata istana kini diberi jarak agar tidak sembarangan orang boleh masuk dan duduk-duduk ditamannya yang asri diwaktu sore.

Hilang sudah istana yang dulu begitu indah, istana semua rakyat, istana itu kini hanya sebuah bentuk bangunan masif yang begitu angkuh. Ah sudahlah, aku sudah tinggal diistana sesungguhnya bersama Bapak dan Mama yang sedang menungguku saat ini.

Selamat tinggal Istanaku, panggil aku apabila engkau sudah membuka kembali pintu pagarmu dan membuka kembali halamannya untuk kami....

Monday, July 19, 2010

Zombie Party @ Tel Aviv City, Israel




Kota Tel Aviv menyimpan berbagai pesona dan salahsatunya keunikan warganya yang ingin terlepas dari peperangan, rasa takut dan lain sebagainya. Pesta ala zombie adalah salahsatu alternatif untuk melepaskan ketegangan sejenak ditepian pantai kota Tel Aviv yang cantik.

Mungkin patut dicontoh pesta unik tersebut untuk dibuat di Jakarta demi mengusir stress dan pemenangnya adalah yang paling kreatif.

Sunday, June 27, 2010

Jakarnival 2010


pukul 15.30 jalanan masih lancar

Jakarta kembali merayakan HUTnya ke 483 dengan serangkaian acara dan salahsatunya berupa Jakarnival yang dimulai dari depan balai kota hingga ke bunderan HI pada hari minggu sore ini.

Ribuan warga jakarta turun kejalan dan meramaikan acara tersebut. Coba dibuat lebih bagus lagi dengan karnaval yang lebih cantik agar bisa dijadikan agenda wisata.

Mobil hias ada beberapa yang terkesan dibuat seadanya sama seperti dari tahun ketahun tanpa perubahan yang signifikan. Padahal acara seperti ini bisa menghidupkan ekonomi kerakyatan secara tidak langsung.

Tadi waktu datang ke jalan Thamrin pukul 15.30 WIB didepan gedung Bangkok Bank masih belum ramai. 30 menit kemudian, jalanan sudah dipenuhi oleh ribuan orang termasuk para pedagang minuman, jagung rebus, kacang rebus, ice cream, dll.

Turis asing dari jalan Jaksa berhamburan keluar dan melihat ada apa sebenarnya dan saya jamin mereka juga tidak tahu dari mimik mukanya saja mereka tampak bingung.

Bung Foke, Jakarnival seharusnya bisa dijadikan agenda wisata yang lebih OK dan mintalah perusahaan yang ada di Jakarta untuk berpartisipasi di karnival ini. Masak kalah dengan Jember Fashion Carnival or Solo Batik Carnival. Ini hiburan meriah dan murah bagi kami rakyat jelata...

Saturday, June 19, 2010

Tanah Air Beta – A Tribute for the Refugees




Ketika melihat diacara kick andy di metro TV, saya langsung jatuh cinta dengan film ini yang mengkisahkan tentang sebuah keluarga yang tercerai berai akibat pasca referendum di Timor Leste tahun 1999. Dan sekali lagi saya tidak menemukan film ini dibioskop kelas atas di Jakarta, mengapa film Indonesia harus dikalahkan dengan film hollywood, kapan film Indonesia bisa dicintai lagi oleh rakyatnya. I protest for this monopoly.

Film ini dibuka dengan cinematography yang cukup baik mengenai kegersangan alam NTT dan bisa dibayangkan derita yang dialami oleh para pengungsi akan keganasan alam yang mereka hadapi pada saat ini. Diberitakan masih ada 70,000 pengungsi dari Timor Leste yang memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia ketimbang harus berada di kampung mereka, Timor Leste.

Bahkan disebuah harian nasional pernah ditulis, bahwa para pengungsi ini menjadi BEBAN pemda Belu, NTT. Seharusnya kita malu untuk menuliskan kata BEBAN, para pengungsi ini sudah memberikan tubuh, darah, roh dan semangat mereka demi Indonesia dan seharusnya mereka layak dianugrahi PAHLAWAN karena memilih Indonesia sebagai tanah air mereka dibanding Timor Leste. Dan masih ribuan orang yang kehilangan tanah, harta benda dan sanak saudara di Timor Leste hingga saat ini akibat jajak pendapat yang tidak beres tersebut.

Memalukan apabila hingga kini pemerintah pusat masih lupa akan geliat kehidupan mereka saat ini dan dengan adanya film Tanah Air Beta ini membuka mata para pejabat agar tidak hanya mengurus partai dan hal yg remeh temeh. Masih banyak pekerjaan yang belum tuntas dan 2014 masih lama, jadi tenang saja tidak usah khawatir untuk kalah.

Di film ini, Ari dan Nia masih belum cukup fokus untuk menceritakan secara detail sisi kehidupan para pengungsi. Konflik yang seharusnya dibangun disebuah film, tidak diceritakan dengan utuh. Konflik hanya dibangun antara Merry dan Mauro mengenai remeh temeh sebagai sebuah keluarga yang tercerai berai. Anti klimaks yang seharusnya terjadi diakhir cerita malah tidak saya rasakan difilm ini.

Seharusnya Ari dan Nia lebih fokus pada penceritaan seperti yang dibangun difilm Denias, dialog yang sederhana dan mengesankan. Kisah perjalanan dua anak yang mencari saudaranya seharusnya bisa lebih mengena dan ada banyak hal yang bisa dibangun. Tapi buat saya, hasil kerja mereka cukup diacungkan jempol, tidak mudah untuk membuat sebuah cerita dan menjadikannya sebuah film. Dipiala Citra 2010 ini, mungkin hanya masuk beberapa nominasi saja seperti untuk penata artistik dan penata musik saja dan tentu saja untuk Alesandara Gottardo sebagai Tatiana serta untuk Asrul Dahlan sebagai Abubakar.

Dan bila Anda menonton film ini berarti Anda sudah turut memberikan sumbangan bagi para pengungsi di NTT. Semoga Tuhan memberkati para pengungsi dan mereka senantiasa diberikan kekuatan yang luar biasa.

Wednesday, June 16, 2010

The Brothers

When a war is over, it only leaves a wound....
Entah apa yang ada dibenak negri paman sam saat ini ketika mengetahui bahwa Afghanistan menyimpan cadangan mineral berjuta trilliun yang bisa membuat sebuah negeri menjadi kaya raya. Sebuah peperangan yang terus dipertahankan atau sebuah keadilan bagi rakyat Afghanistan.

Film The Brothes besutan sutradara Jim Sheridan menceritakan sebuah keluarga kecil di Amerika Serikat yang rapuh akibat sebuah perang yang dijalankan oleh negara adidaya tersebut. Peperangan telah mencabut nyawa jutaan org dan menghilangkan semangat hidup jutaan veteran yang selamat.

Tom Cahill dan Sam Cahill adalah kakak beradik, Sam akan berangkat ke Afghanistan untuk berperang melawan Taliban dan segera meninggalkan anak serta istrinya. Kerapuhan dalam keluarga besarnya memberikan perpisahaan yang tidak mengenakan antara kedua kakak beradik tersebut.

Dalam peperangan melawan Taliban, Sam Cahill dinyatakan hilang dalam tugas dan jenazahnya tidak ditemukan. Ternyata Sam masih hidup dan menjadi tawanan Taliban yang harus menghadapi serangkaian penyiksaan yang membuat jiwanya terganggu.

Sementara keluarga di Amerika sudah pasrah menerima keadaan bahwa Sam meninggal dunia dan sebagai kakak - Tom Cahil mencoba untuk menata kembali keluarga adiknya yang dilanda kesedihan akibat peperangan. Waktu demi waktu berjalan dan kehangatan membuat semua yang ada dikeluarga tersebut kembali hidup dan sedikit melupakan masa lalu.

Hingga tentara Amerika menemukan Sam Cahil masih hidup dan alhasil membawakan kembali ke Amerika dan bertemu dengan keluarganya. Disinilah cerita berkembang...ada kedinginan, kebingungan, ketidakpercayaan dan semua yang ada dikeluarga ini menjadi berantakan.

Kekuatan dari film ini dibangun oleh kekuatan akting para pemainnya sehingga tidak aneh apabila film yang bercerita sederhana ini memikat hari para juri di Oscar 2010 dan mendapatkan beberapa nominasi. Sebuah sentilan mengenai peperangan yg dilakukan oleh negri Paman Sam, walau bagaimana pemerintahan Obama sepertinya harus memperpanjang perang di Afghanistan dengan sebuah alasan yang irrasional....kebebasan yang naif.

Words will land on me
Then abandon me
Leave me stranded
[..] on the door