Maribaya sicantik ini agak terlupakan dan kurang perawatan padahal mempunyai potensi wisata yang menarik. Jembatan kayu yang sudah lapuk dan membahayakan pengunjung seharusnya ditutup untuk umum hingga diperbaiki dan jangan sampai mengorbankan nyawa pengunjung yang datang untuk menikmati alam
Sunday, April 25, 2010
Si Cantik yang Terlupakan
Maribaya sicantik ini agak terlupakan dan kurang perawatan padahal mempunyai potensi wisata yang menarik. Jembatan kayu yang sudah lapuk dan membahayakan pengunjung seharusnya ditutup untuk umum hingga diperbaiki dan jangan sampai mengorbankan nyawa pengunjung yang datang untuk menikmati alam
Wednesday, April 7, 2010
To Yogya With Love
Minggu pagi tanggal 7 Maret 2010, saya sudah menginjakkan kaki disebuah stasiun kecil di Jawa Timur – Kertosono. Tiket Argo Wilis jurusan Surabaya – Bandung sudah saya beli, sambil mengisi waktu saya berkeliling kota dan terbersit ingin pergi kesebuah kota yang memiliki banyak kenangan buat saya, Yogyakarta. Pukul 09.00 WIB kereta sudah tiba diperon dan saya beserta puluhan penumpang lainnya segera beranjak masuk kedalam gerbong yang akan membawa saya kembali ke Bandung.
Dalam perjalanan menuju ke Bandung, ada perasaan yang ingin membawa saya kembali ke kota Yogya dan selama 4 jam saya harus memutuskan hingga saya tertidur. Tiba-tiba saya terbangun disetasiun Solo Balapan, hati ini segera berkata bahwa saya harus ke Yogya siang itu. Tepat pukul 13.00, saya telah tiba di kota Yogya dan keputusan terakhir saya ambil ketika kereta sudah memasuki setasiun Tugu. Hati ini semakin berdegup kencang dan “Ya” adalah kata yang tepat.
Saya segera mengambil tas dan hup….kedua kaki saya sudah menginjakkan disetasiun Tugu. Saya terdiam dan pikiran saya melayang ke tahun 1995 ketika pertama kali saya menginjakkan kaki disetasiun ini bersama-sama teman dari Jakarta. Masih tergiang-giang suara teman-teman yang tertawa girang ketika kami tiba di stasiun Tugu setelah menghabiskan perjalanan selama 12 jam yang melelahkan dari Jakarta.
Peluit panjang membangunkan saya seketika, dan kereta Argo Wilis meninggalkan saya perlahan-lahan…”sampai jumpa di Bandung”! Masih ingat jelas ketika kami tiba dulu distasiun ini, kami harus melewati sebuah terowongan bawah tanah untuk menuju pintu keluar. Saya tersenyum kecil ketika mengingat Elizabeth – teman saya membawa sbeuah koper super besar dan kewalahan membawanya. Kusmulyadi teman saya yang membantunya menarik tas koper super besar itu keatas peron menuju pintu keluar.
Tanpa pikir panjang saya menuju ke loket pembelian tiket untuk membeli rute ke Bandung pada malam hari. Tiket seharga Rp 200,000 jurusan Bandung sudah hangus karena saya turun di kota Yogya.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Yogya
Kereta api Lodaya malam kelas bisnis seharga Rp 100,000 sudah saya kantongi, hati ini jadi tenang. Beberapa pengemudi becak menawarkan jasa antar ke penginapan murah di Malioboro dan tanpa berpikir panjang saya segera naik becak. Sudah lama saya tidak naik becak sebuah barang antik saat ini dan tarifnya hanya Rp 5,000 – 10,000 saja. Saya mencari beberapa penginapan murah dan akhirnya mendapatkan sebuah kamar seharga Rp 80,000 dengan fan dan kamar mandi didalam dekat Malioboro.
Tanpa berpikir panjang, setelah menaruh tas saya segera menuju ke Malioboro. Tidak afdol rasanya kalau belum mengunjungi magnet wisata dikota ini. Sebuah kaki lima terpanjang di Indonesia dan berbagai macam barang serta manusia dari berbagai macam ras bisa kita temui ditempat ini.
Dipersimpangan jalan, kakiku berhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Kali ini syaa menjad turis lokal backpacker alias berkantong cekak, Mal Maliboro masih sama seperti 15 tahun yang lalu. Café Olala dan Mc Donald masih bertahan dan menarik pengunjung untuk datang. Dulu sebelum kami kembali ke Jakarta, kaos Dagadu dijual dimal ini. Dan setiap akhir pekan, mal ini selalu ramai karena tidak ada pilihan lainnya. Diskotik Basement dihotel Maliboro merupakan tempat kuliah malam saya bersama teman-teman disetiap akhir pekan. Tiket masuknya hanya Rp 10,000 saja dan sudah termasuk first drink, diskotik itu paling hips dijamannya. Saya hanya tersenyum ketika mengenangnya dan berdiri sejenak didepan parkiran hotel tersebut.
Saya meneruskan perjalanan ke sisi selatan dan menuju ke depan gedung Bank Indonesia, almamater sekolahku Marsudirini serta ke perempatan gondomanan dengan kelentengnya yang sudah cukup tua. Gang Sayidan begitu anak-anak Yogya menyebutnya dan terkenal berkat group local Shaggy Dog
Wo….coba kawan kau dengar ku punya cerita
Tempat biasaku berbagi rasa
Suka duka tinggi bersama
Di gang gelap, dibalik ramainya Yogya
Mari…sini..berkumpul kawan
Dansa …..dansa…sambil tertawa
Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan
Teman-teman riang menunggu di Sayidan
Gang ini masih sama seperti dahulu ketika kami pertama kali sampai di kota Yogya.
Dirumah mbahnya Donny kami tinggal pertama kali sebelum mendapatkan kamar kostan, sebuah rumah kecil ala Jawa bercat hijau muda, tegel jadul dan teralis vintage dengan 3 buah kamar. Satu kamar ditempati oleh Mbahnya Donny, kami yang pria tidur diruang tamu dan yang wanita dalam kamar yang lain. Selama hampir seminggu kami tinggal dikawasan ini, gangnya cukup berliku dan sedikit penerangan diwaktu malam tetapi kawasan ini cukup bersih dengan Kali Code diujung gang ini.
Semuanya masih sama ketika saya berkunjung ditahun 2010 ini, yang berubah hanya beberapa rumah saja dan sebuah bangunan kastil yang selalu saya cintai arsitekturnya kini seperti rumah hantu. Dulu saya masih bisa mendengar jemaat gereja melantunkan kidung disetiap minggu pagi dan terpampang jadwal misa gereja. Kini rumah itu tidak berpenghuni dan kono karena ada sengketa diantara keluarga besar sipemiliki rumah kastil itu. Saya masih belum diberi waktu untuk memasuki rumah yang begitu indah dengan patung Jesus raksasa diatap balkonnya. Saya hanya bisa menghela nafas dan berharap suatu hari nanti bisa memasuki rumah kastil tersebut sebelum hancur dimakan usia.
Di sayidan, dijalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di sayidan, dijalanan
Tuangkan air perdamaian
Dan kali ini saya meninggalkan gang yang penuh kenangan tersebut, saya angkat gelas untukmu Gang Sayidan…..
Kaki saya membawa setiap langkah ini hingga kegerbang istana Keraton Yogyakarta, alun-alun utara tampak gersang kerana rumputnya habis diinjak-injak pengunjung sekatenan yang telah selesai beberapa hari yang lalu. Pukul 15.00, keraton telah tutup dan saya kembali naik becak minta diantarkan kepasar burung Ngasem – pasar burung tertua di kota ini.
Tamansari – tempat pemandian para raja Jawa menjadi tempat pemberhentian selanjutnya tapi kali ini saya masuk melalui pasar burung yang dibangun tahun 1809 ini. Seorang bapak tua menawarkan jasa menjadi guide dan hati ini nelongso rasanya kalau menolak tawaran bapak tua. Saya tersenyum dan beliau mengantarkan saya memasuki jalan tua yang masih sama dan tentu saja saya masih sangat hafal. Tamansari sudah tutup dan sekali lagi saya diajak ketempat yang sama melalui jalan belakang dan sedikit naik kepagar belakang taman sari yang tampak sangat terawat semenjak mendapatkan bantuan dari luar negeri.
Tembok belakang taman sari masih sangat kokoh walau terkena gempa ditahun 2006 yang lalu. Setelah berfoto dikawasan Taman Sari, saya memberikan uang tanda jasa sebagai guide kepada bapak tua itu. Rasa lapar membawa saya untuk menikmati hidangan siomay berbagai macam rasa mulai dari siomay isi udang hingga cumi dengan harga yang sangat murah.
Pukul 17.00 saya sudah kembali ke motel dan beristirahat sejenak sambil menunggu boncengan dari sahabat lama menuju ke Babarsari.
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditengah deru kotamu
Sambil naik motor, saya menikmati kota Yogya dan ingatan saya kembali ditahun 1995…
Ketika saya sedang suntuk, Bayu sahabat saya menjadi satu-satunya obat pelipur lara
Meminjam motornya, saya berkeliling kota hingga dini hari
Menikmati kota Yogya dimalam hari merupakan hiburan tersendiri bagi saya
Jalan Babarsari, disinilah saya indekost tepat disamping kampus Atmajaya gedung baru
Ada 20 kamar dikostan ini tapi hanya 19 kamar yang disewakan
Entah mengapa selalu disisakan 1 kamar oleh si empunya kost
Kami menyewa 2 kamar kost, satu untuk menaruh baju dan tas
Satu lagi untuk kami tiduri dan tarifnya sangat murah sekali hanya Rp 75,000/bulan
Kami mendapatkan kamar dilantai satu dan setiap bulan mamaku selalu mengirimi uang sebesar Rp 200,000/bulan melalui wesel pos yang bisa saya sambil dikantor pos terdekat. Maklum tehnologi ATM dulu masih jarang dan hanya orang The Haves yang bisa memiliki ATM.
Saya, Kusmul, Agus dan Donny tidur sekamar dengan alas kasur busa dan tikar dengan bantal dan guling seadanya. Tapi koq bisa tidur pulas ya dan kami selalu menikmati, setiap sore teman-teman wanita berkunjung dan membawakan bekal makan. Kalau bosan, pecel lele seharga Rp 1500 depan kantor pos Babarsari menjadi makanan yang sangat lezat. Disaat kantong cekak, nasi goreng arang depan kampus Atmajaya gedung lama seharga Rp 1,500 menjadi pilihan lain karena isinya cukup banyak dan mengenyangkan untuk kantung mahasiswa seperti kami.
Pagi hari, warung si Mbok menjadi langganan saya dan kini rumahnya sudah hilang berganti menjadi tempat foto kopi. Si Mbok sangat baik sekali, mungkin beliau tahu saya seorang mahasiswa berkantong cekak sehingga harga makanannya pun sangat murah. Kalau dapat kiriman uang dari Mama, baru saya bisa makan enak dikantin mahasiswa yang nasinya bisa ambil sendiri dan lauknya daging, total hanya seharga Rp 3,000 saja dan sudah sangat mengeyangkan.
Saya kembali berdiri didepan kostan yang masih berdiri, berbagai rasa bercampur menjadi satu melihat jalanan disekitar Babarsari yang sangat ramai. Sawah menjadi kost-kostan dan bahkan Circle K sudah ada. Tahun 1995, masih banyak sawah dan cukup seram hingga pernah kami dikejar anjing kampung setelah pulang apel dimalam minggu. Maklum kostan di Yogya dibedakan antara pria dan wanita.
Walau beberapa teman sempat nekat naik tembok disaat subuh demi menginap dirumah sang pacar agar tidak ketahuan dipemilik kostan. Setiap bulan sehabis menerima kiriman, kami selalu jalan ketempat wisata di kota ini. Kawasan Kaliurang dan Bebeng menjadi pilihan utama, selain cukup dekat dan berhawa sejuk serta dimalam hari bisa melihat kerlap kerlip lampu kota Yogya dimalam hari dari atas gunung. Tentu saja sangat romantis sambil mengajak di Doi (istilah jadul banget) dan membelikannya kembang edelwies yang banyak dijual dan menikmati jagung bakar…arghh.
Pantai Parangtritis sebuah kenangan yang tidak terlupakan ketika beberapa teman mengajak saya ikutan jalan naik motor dan diiming-imingi banyak ceweknya dimalam minggu. Setibanya disana ternyata tidak ramai, beberapa gubuk dipinggir pantai berdiri tegak dan seorang penyewa tikar menawarkan tikarnya. Teman saya menyewa 3 tikar dan kami berenam tiduran dipinggir pantai hingga subuh. Sialan….saya dikerjai karena tidak ada apa-apanya yang ada hanya seram karena deru ombak pantai selatan yang ganas dan mitos Ratu Pantai Selatan. Sementara yang lain tertidur pulas, saya malah tidak bisa tidur karena alasnya hanya tikar dan bawahnya dari pasir laut serta udara pantai yang dingin, tapi taburan bintang diangkasa sangat indah sekali.
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditengah deru kotamu
Rasa lapar karena merindukan nasi goreng yang dimasak diatas anglo dengan arangnya menjadi menu utama dan pengamen jalanan mulai beraksi. Hmm….waktu saya sangat terbatas dikota ini. Rasa kangen belum tuntas dan masih banyak tempat yang belum saya sambangi.
Walau kini kau tlah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Pukul 21.00 dan saya harus bergegas menuju ke setasiun Tugu Yogyakarta..
Pendar lampu jalanan masih menyala terang
Bau tanah sehabis hujan memberikan nuansa sendiri malam itu
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada ….tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Senyummu abadi, abadi…………
Saya kembali duduk diperon sambil menunggu kereta Lodaya malam menjemput saya
Termenung kembali ketika terakhir kali akan meninggalkan kota ini….
Kata seorang sahabat dalam suratnya kepadaku,
“Aku menangis ketika melihatmu dalam kereta yang membawamu pergi,
Tak kuasa rasanya ingin memelukmu terakhir kali,
Kali ini saja dan kuselalu berdoa agar kita bisa bertemu kembali”.
Kota ini selalu menghadirkan senyum tersendiri buat saya dan pilihanku untuk menginjakkan kaki dikota ini selama beberapa jam saja memang tepat. Rasa kangen sedikit terobati…
Dalam kereta menuju Bandung, saya habiskan hanya untuk tidur hingga pukul 05.30 WIB saya kembali tiba disetasiun kota Bandung.
Seperti mimpi rasanya…mimpi yang menjadi kenyataan…
Izinkanlah aku selalu untuk pulang lagi, selalu pulang lagi
To Yogya With Love, March 7th 2010
The Beauty of A Mask
Mimi Rasinah salahsatu maestro tari topeng Cirebonan yang masih tersisa ditanah air, kembali akan mementaskan sebuah tarian klasik Cirebonan. Selain itu akan ada penampilan Didi Nini Thowok dan sebuah fashion show dari Batik Komar pada tanggal 8 Mei 2010 pukul 19.00 - 21.00 WIB. Untuk reservasi hubungi 022 203 0333
Friday, February 26, 2010
Xploring Pangalengan
Perjalanan darat ditempuh selama 1,5 jam dari kota Bandung, banjir dasyat yang terjadi di dayeuhkolot karena banyak bukit yang gundul. Manusia semakin rakus dan pemda tidak peduli. sepanjang jalan beberapa area terlihat longsor dan beberapa pohon ditebang untuk dijual kayunya.
Pangalengan masih berdenyut walau gempa dasyat terjadi tahun 2009 lalu dan bekasnya masih banyak seperti kantor polisi yang rusak parah dan beberapa rumah penduduk yang hancur. daerah ini terkenal akan susu sapinya dan kebuh teh malabar.
Malabar didirikan oleh seorang genius dan pecinta seni serta dermawan Belanda yaitu Boscha. Beliau dimakamkan ditengah kebuh teh yang sangat asri dan bahkan keluarganya masih sering berkunjung ke makam ini. Konon bberapa penduduk dan pemetik teh masih sering melihat sosok Tuan Belanda ini berada disekitar makam dan rumahnya.
Rumah Boscha di kebun teh malabar sangat asri, luas dan kebunnya yang masih tertata. Beberapa perabot masih asli jaman dulu dan sebagian kamar disewakan dengan harga 300rb/malam. Bahkan rumah ini dijadikan lokasi syuting film percintaan ala remaja yg terkenal dan juga film horor.
Sekitar 5 km dari makam terdapat pemandian air panas Cibolang, sayang tidak ada penunjuk wisata yang resmi dan jalan masuknya masih cukup rusak. Tiket masuk hanya 8000/orang dan cukup terawat walau minim informasi. Airnya tidak terlalu panas seperti di Ciater, cukup hangat dan sangat meyegarkan berada ditengah kebun teh dengan pemandangan asri hutan tropis dibukit samping kolam renang ini. Berendam selama 2 jam lebih sangat mengasyikkan dan masih tidak terlalu ramai pengunjung.
Situ Cileunca ternyata tidak menarik buat saya dan padahal alamnya sangat menawan tetapi pemda sepertinya sedang tidur nyenyak. Wisata padahal mempunyai potensi cukup baik untuk dikembangkan dan beberapa kali saya mencoba bertanya karena tidak ada penunjuk arah yg jelas. It's absolutely a sleeping beauty....
Sunday, February 21, 2010
Xploring Tasikmalaya
Seperti biasa disaat rasa suntuk mulai menyerang, my body n soul sudah tidak menyatu lagi sehingga dibutuhkan penyegaran. Jalan satu-satunya yaitu keluar kota dan pergi ketempat yang baru dan belum pernah saya jajaki. Destination No Where mulai, dengan googling akhirnya saya memutuskan ke Galunggung dikota Tasikmalaya.
Tanpa peta, saya hanya menduga bahwa rutenya ke arah Ciamis dan Pangandaran, karena sudah 2 kali melewati kota ini sebagai transit ke kota yang lain. Tiba-tiba saya teringat sama Rizky - adiknya teteh yang kerja di kota tersebut dan ia bekerja disebuah perusahaan telekomunikasi. Then I called and told him dat I wanna go there.
Sabtu malam pukul 7.30 saya berangkat dengan motor dan perjalanan darat ditempuh selama hampir 3 jam karena rutenya yang cukup sulit dan jauh. Pukul 10.30 malam saya tiba dikota Tasik yang cukup bersih, malam minggu kota ini belum tidur dan ternyata kota Tasik lumayan besar dengan pertokoan dikanan kiri jalan. Beberapa toserba dan mal juga bermunculan sesuai permintaa jaman.
Asia Plaza - tempat meeting point dengan Rizky dan Ella. Setelah makan malam dengan mereka, saya ke kamar kost dan disediakan 1 buah kamar tidur kecil yg cukup untuk merebahkan diri.
Pagi pukul 07.45 saya dibangunkan karena Rizky mau kerja dan sudah dijemput Ella dibawah. Malas rasanya bangun pagi di hari minggu, tapi saya harus mencapai puncak gunung Galunggung dengan ketinggian 2167 meter diatas permukaan laut. Gunung ini pernah meletus dahsyat pada tanggal 5 Mei 1982.
Dan yang menghebohkan gunung galunggung ini meletus selama 9 bulan dan berhenti ditanggal 8 Januari 1983. Wah kalau manusia mungkin sudah punya anak satu kali ya nih gunung....tercatat 18 orang meninggal bukan karena letusan tetapi pasca letusan. 22 Desa ditinggalkan oleh penghuninya.
Cukup dengan cerita mistis dan mengerikan akibat letusan, saya berangkat ke tempat tersebut yang berjarak 17 km dari kota Tasik. Rute Inhidang - Galunggung harus ditempuh dengan perjuangan karena jalannannya cukup rusak, saya sarankan jangan menggunakan mobil sedan ceper. Dipastikan akan rusak karena jalannya banyak yg masih berbatu akibat puluhan truk besar pengangkut batu pasir gunung lalu lalang dan pemdanya yang tidak begitu peduli. Padahal akibat letusan galunggung, jutaan material pasir dan batu yang konon kualitas satu ini tersedia dan diangkut ke jakarta dan daerah sekitarnya. Tapi hasil retribusi sepertinya hilang diterpa angin gunung. Pak Bupati Tasik yang terhormat, minta tolong diperbaiki jalan masuknya agar banyak wisatawan datang berkunjung kelokasi wisata ini dan papan penunjuk arah diperbanyak.
Sesampainya dipintu gerbang, tiket masuknya cukup murah hanya Rp 4200/orang. Begitu masuk area wisata, jalan masuk cukup baik walau ada beberapa bagian yang bergelombang. Yang unik vegetasi di gunung ini berbeda dengan vegetasi tanaman di gunung papandayan dan tangkuban perahu.
Kini tibalah saya harus bertempur dengan 620 anak tangga menuju kepuncak gunung. Saya membutuhkan 8 x pemberhentian untuk mencapai tepian kawah...dibutuhkan stamina yang tinggi dan bagi penderita penyakit jantung sangat tidak disarankan kelokasi ini. Dengan nafas tersengal-sengal, akhirnya saya bisa menuntaskan 621 anak tangga hingga ke tepian kawah yang cukup luas.
Subhanalllah....God's the Almighty...it's so huge. 9 months eruption had made a depth and giant crater. Kalau gunung papandayan dinobatkan sebagai gunung dengan kawah terluas diasia, maka gunung galunggung dinobatkan sebagai kawah terdalam. Menurut catatan sejarah, selama gunung ini meletus - petir dan halilintar terus menyambar (as you can see at the image from the US Geological Survey). Bahkan sebuah pesawat 747 jurusan Sydney - London hampir mengalami kecelakaan ketika melewati awan panas diatas ketinggian 11000 meter diselatan Jawa Barat.
Syaa mencoba berbicara dengan seorang ibu tua penjual minuman, sambil menyeruput kopi saya coba mencari tahu sejarahnya. Menurut si ibu, ia dan keluarganya harus mengungsi selama 1,5 tahun akibat letusan dan selama 1 minggu langit gelap gulita karena asap dan debu gunung yang pekat. Bisa dibayangkan kepanikan yang terjadi....tetapi karena kemajuan tehnologi, maka kematian akibat letusan gunung bisa dikurangi.
Sebenarnya kita bisa menuruni tangga dan bisa mencapai bibir kawah yang menyerupai danau berwarna hijau tosca, tapi kaki saya tidak kuat lagi untuk diajak jalan-jalan. Dikejauhan sebuah air terjun yang tertutup awan muncul, lambat laun mulailah tampak keseluruhan air terjun. OMG....mungkin ini air terjun tertinggi di Indonesia dan bahkan di dunia.
Perkiraan saya ada lebih dari 15 tingkat dengan ketinggian sekitar 2-3 km, menakjubkan bagaikan dinegri Lord of The Ring. Tapi sayang rute yang sulit sehingga membuat air terjun ini tidak bisa dijamah. Biarlah agar awet dan hanya dinikmati bak lukisan alam abadi....
Kini saatnya pulang dan menuruni anak tangga...kali ini sangat mudah sekali. Cipanas menjadi rute selanjutnya, hampir setiap gunung selalu menyimpan air panas dan konon apabila ingin meletus biasanya airnya akan sangat panas sekali yang menandakan peningkatan lava atau beberapa hewan gunung lari kedesa-desa karena biasanya hewan sangat peka akan gempa. Getaran gempa yang kecil dan tidak dirasakan oleh manusia bisa dirasakan oleh hewan. Sudah terbukti misalkan disaat pra tsunami dan meletusnya gunung merapi...
Pemandian air panas gunung galunggung ini mempunyai luas 3 hektar dan cukup nyaman serta gratis karena sudah masuk tiket kawasan wisata galunggung. Saya mengambil kolam dibagian belakang yang masih alami dibandingkan dengan kolam buatan yang dialiri air panas. Dikolam alami yang tidak terlalu luas dan dialiri oleh sungai kecil berair deras....saya merendamkan diri. Ternyata cukup unik, air sungainya berair dingin khas pegunungan tetapi ada beberapa pancuran yang berair panas. Rasa penat hilang ketika merasakan hangatnya air sungai ini....nikmat rasanya.
Hampir 1 jam saya berada dilokasi dan saatnya turun gunung, bapak tua menjajakan gula aren buatannya dan saya beli 2 bungkus besar hanya seharga Rp 16.000 saja. Padahal dijakarta, gula aren cukup mahal...dan ada yg aneh yaitu buah pisang yang super gede. Konon pisang ini baik untuk obat dan dimasak dengan direbus. tapi gimana bawanya, karena saya naik motor. Akhirnya saya urungkan niat untuk membeli pisang tersebut.
Perjalanan kembali ke kota Tasik yang cukup panas siang itu dan menghabiskan waktu di asia plaza untuk lunch dengan rizky dan sementara ella jaga warung. Well, it's a nice journey dan dengan biaya yang terjangkau.You should try to be here dan beli oleh2 batik tasik....
Sunday, February 14, 2010
Morning Dew
Crystalline droplets of summer's morning dew,
Bring gentle moisture, the dry earth to renew.
Adding richness to nature's colorful array,
It deepens the values of hues on display.
Dampening the ground and all of its features,
It slakes the thirst of God's smallest creatures.
The dew bathed everything, wherever it fell,
Freshening the air with its clean, crisp smell.
But soon the sun's heat will burn it away,
And scorch the earth for another day.
Then comes the morn when the temperature drops,
The dew will return to freshen the crops.
But when morning dew is upon the ground,
Its wispy white beauty leaves one spellbound.
It Gives the landscape a new beauty so fair.
Friday, January 29, 2010
When nature smiles - Curug Cimahi
Perjalanan ditempuh selama 1 jam dari arah Dago menuju ke lokasi disekitar Lembang. Dari terminal Ledeng, cukup ditempuh sekitar 30 menit saja dan melewati para penjual tanaman hias. Mungkin kalau Anda sering makan di Sapu Lidi or Kampung Daun maka lokasinya tidak jauh dari resto tersebut.
Dan tiket masuknya hanya Rp 3000 saja, perjalanan menuju ke lokasi air terjun ini kita harus menuruni tangga yang curam dan saya sarankan dalam kondisi tubuh yang fit dan memakai sepatu kets untuk menghindari jalan setapak yg licin dan berbatu.
Air terjun setinggi 85 m ini cukup menakjubkan dan apalagi dimusim hujan yg mana debit airnya cukup tinggi.Aroma hutan dan bunyi serangga menjadi hiburan tersendiri buat saya ketika rasa lelah dan stress memuncak dikala dateline. Disinilah saya bisa bersatu dengan alam, melepas semua yg ada diotak.
Tadinya saya ingin berenang dibawah air terjun ini tetapi dinginnya air terjun membuat saya mengurungkan niat untuk berenang ditengah kesejukan alam. Selepas mengabadikan beberapa buah foto, saya kemudian mengambil sisi selatan air terjun dimana terdapat sebuah sungai yg berair cukup dingin.
sambil melipat bagian bawah celana panjang, kedua kaki saya celupkan kedalam aliran sungai tersebut...nikmatnya tiada tara. Sejenak saya mengeluarkan sebuah buku yang belum sempat saya lahap semuanya "Soe Hok Gie...sekali lagi".
Sekitar 30 menit saya relaksasi sambil menikmati dinginya air sungai dan sinar matahari yang menghangatkan tubuh saya. Sebuah pancuran air menggoda saya untuk membasuh muka agar terasa segar. Tidak usah saya membeli face sprayer Evian atau produk Gaya Spa yang sering saya gunakan ketika muka sudah terasa lengket dan penat. Air jernih made in Nature ini terasa sangat menyejukkan.
Kini tiba saatnya saya kembali dan membutuhkan pengorbanan yg cukup layak, tangga berundak harus saya tempuh dengan 5 kali pemberhentian. Tapi sangat baik untuk membajar lemak diperut saya. Beberapa wanita muda terlihat sangat lelah dan bahkan sampai ada yg harus ditandu karena pingsan tidak kuat menanjak tangga menuju ke lokasi pintu keluar.
tapi saya cukup puas menikmati indahnya alam dan berharap agar hutan diatas gunung tetap terjaga agar debit air terjun ini bisa dinikmati hingga 100 tahun kedepan. Ketika saya ingin menuju ke Situ Lembang, ternyata lokasi tersebut ditutup untuk latihan Army.
Padahal lokasi wisata tersebut adalah milik rakyat yang seharusnya bisa dinikmati dan bukan milik sebagian orang. Saya protes keras karena perjalanan kedua saya menuju ke situ lembang terhambat karena perijinan untuk memasuki area tersebut tidak bisa didapat. Apa pasal pihak Angkatan Darat menutup area wisata tersebut.....it's not fair!!
Subscribe to:
Posts (Atom)