Wednesday, July 20, 2011

Tenggarong Stadium




Stadium berkapasitas 60,000 penonton ini dibuat untuk PON beberapa waktu yang lalu. Amat disayangkan apabila stadion megah ini tidak digunakan untuk event bertaraf internasional...

Wednesday, July 6, 2011

Manisnya Gula, Ironi Petani Tebu




Membaca nasib petani tebu di Indonesia seperti membuka tabir masa lalu petani tebu di era penjajahan Belanda 350 tahun yang lalu. Para petani tetap dianggap hanya sebagai buruh dan manisnya gula hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Manisnya gula memang membuat orang mabuk kepayang, bahkan sejarah mencatat bahwa bisnis gula dapat membuat pertumpahan darah dan peperangan.

Tanaman tebu ‘Saccharum Officinarum’ diperkirakan berasal dari papua sekitar 8000 tahun sebelum masehi (SM) dan karena dorongan manusia yg bermigrasi maka tanaman tersebut pindah ke kepulauan Solomon dan Kaledonia Baru. Kemudian tanaman tebu masuk ke Indonesia bagian tengah dan barat, Pilipina dan India Barat. Menurut catatan sejarah, gula kasar sudah diproduksi tahun 400 – 700 Masehi di India serta mulai dibawa ke dataran Cina. Di Cina, cairan tebu dikeringkan dengan matahari dan dinamai Madu Batu. Tahun 500 M, tanaman tebu mulai dibawa ke Persia dan kemudian gula mulai sebagai pemanis dalam makanan atau minuman yang mengganti pemanis dari madu.
Pada jaman Nabi Muhammad SAW tahun 632 M, gula mulai dibawa ke jazirah arab lainnya dan bahkan ke Afrika. Di awal abad ke 7 ketika para kafilah menguasai Eropa, gula dibawa ke Spanyol dan Italia. Masyarakat Eropa mulai mengenal manisnya gula sebagai campuran makanan atau minuman.

Kemudian pada tahun 1493, ketika Columbus berlayar untuk menemukan sumber tanaman tebu dan lainnya, ia menemukan benua Amerika. Disanalah tanaman tebu mulai ditanam dibenua Amerika. Tahun 1500 – 1700 merupakan masa penanaman tebu dibenua Amerika Selatan yang beriklim tropis seperti Mexico, Kuba, Brazil dan Peru. Tahun 1800, tebu ditanam di Australia, Fiji dan Afrika Selatan.

Tanaman tebu sendiri mulai dikembangkan pada tahun 75 M di zaman Aji Saka. Perantau China I Tsing mencatat bahwa pada tahun 895 M, gula dari tebu dan nira sudah diperdagangkan di Nusantara. Bahkan penjelajah Italia, Marcopolo ketika berkunjung ke Nusantara telah mencatat bahwa gula sudah menjadi alat barter dan bahan komoditas yang paling dicari pada waktu itu.
Ketika Belanda masuk ke Indonesia tahun abad ke 17, industri gula mulai dikembangkan oleh VOC atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, dikelola bersama dengan orang Cina. Sedikit demi sedikit Pengolahan Gula serhana mulai berkembang ditanah Jawa. Dan VOC mulai melakukan ekspor gula pertama ke Eropa yang dikumpulkan dari 130 tempat pengolahan gula.

Awal abad ke 18, pabrik pengolahan gula yang lebih modern dibuka untuk pertama kali di daerah Pamanukan, Subang (Jawa Barat) dan Besuki (Jawa Timur) karena perkebunan tebu di Batavia sudah tidak bagus lagi akibat penyempitan lahan untuk pemukiman serta perubahan cuaca waktu itu. Lahan-lahan pertanian mulai dirubah untuk perkebunan tebu akibat permintaan yang besar dari Eropa.

Van den Bosch mulai membuat Cultuurstelsel atau pola tanam paksa yang memicu industrilisasi perkebunan tebu di tanah Jawa. Pola tanam paksa harus dilakukan untuk menutup defisit keuangan kerajaan Belanda akibat perang dan sebagainya. Semua perdagangan gula oleh swasta dibatasi dan hanya boleh diperdagangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia membuka ribuan hektar lahan untuk perkebunan tebu diseluruh Jawa dan bahkan hingga ke Sumatra. Pabrik tebu didirikan dan dikelola secara profesional. Seluruh managerial dikuasai oleh para kompeni Belanda dan keluarganya. Penduduk desa diharuskan menanam tebu dan seluruh hasilnya diberikan kepada pemerintah Hindia Belanda. Inilah awal perbudakan akibat manisnya gula di Indonesia.
Para petani yang memiliki lahan dipaksa untuk menanam tebu dan jerih payahnya tidak dihargai. Para kompeni Belanda bekerjasama dengan penguasa bumiputera untuk memaksa para petani agar memberikan seluruh hasil panennya ke pemerintah Hindia Belanda. Dan para penguasa bumiputera tersebut akan menikmati dari hasil pajak perkebunan tebu yang hanya sekian persen. Rakyat dibuat menderita, kelaparan dan pemberontakan terjadi dibeberapa daerah. Bahkan salahsatu konflik awal perang Diponegoro adalah mengenai pola tanam paksa yang merugikan rakyat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Perang Diponegoro mendorong perjuangan yang gigih akibat penindasan Belanda atas berlakunya pola tanam paksa. Dan bahkan pemerintah Hindia Belanda merugi akibat peperangan yang gigih dari bala tentara Pangeran Diponegoro.

Sementara pemerintah Hindia Belanda menguasai ekspor gula ke Eropa yang tadinya dipegang oleh India, miliaran gulden membuat negeri Belanda dan pihak kerajaan hidup makmur dari hasil penjualan gula. Selain itu, pemerintah Hindia Belanda melakukan inovasi pabrik gula sehingga menghasilkan gula berkualitas tinggi dan bahkan menjadi rujukan pabrik gula diseluruh dunia. Semua mata tertuju pada keberhasilan pabrik gula di Jawa dalam meningkatkan produksinya. Mulai dari pembukaan lahan, irigasi yang bagus, bibit tanaman tebu yang unggul serta pengolahan yang lebih baik lagi.
Dan ketika Jepang masuk ke Indonesia, seluruh keluarga kompeni Belanda diusir dari seluruh perkebunan dan pabrik gula di Indonesia. Dan banyak diantara pabrik gula tersebut menjadi gudang penyimpanan senjata. Gula dianggap bukan sebagai sesuatu komoditas yang menarik bagi penjajahan Jepang. Akibatnya perkebunan tebu terbelengkalai dan pabrik tebu mati suri.
Ketika Belanda hijrah dari Indonesia setelah perang kemerdekaan tahun 1945, mereka kembali lagi dengan melakukan agresi militer Belanda pertama pada tahun 1947. Yang bertujuan untuk merebut kembali sejumlah perkebunan besar di Indonesia yang menjadi sumber pemasukan besar pasca PD II bagi kerajaan Belanda.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, seluruh perkebunan tebu dan pabrik gula milik pemerintah Hindia Belanda berubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara atau PTPN. PTPN IX (persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) agribisnis perkebunan dengan bisnis utamanya adalah gula.

Industri gula pasir dan perkebunan tebu (selain perkebunan lain) telah menumbuhkan sebuah kelas priyayi baru, yaitu para tuan dan mandor. Lebih dari itu, gula telah melahirkan konglomerasi, yaitu Oey Tiong Ham (kemudian warisannya menjadi Rajawali Nusantara). Beberapa pabrik gula warisan Belanda kemudian dinasionalisasikan ke dalam PTP (dulu PNP). Keraton Surakarta maupun Yogyakarta juga memiliki pabrik gula yang dulu memberikan pemasukan besar.

Ada yang lucu dari industri gula. Yakni julukan lucu untuk sebuah profesi, yaitu “dokter gula”. Itu bukan dokter melainkan analis pada laboratorium pemeriksa kualitas tebu dan gula. Pernah ada sekolahnya, bernama Akademi Gula Negara, Yogyakarta, yang kemudian beralih nama menjadi Lembaga Pendidikan Perkebunan.

Industri gula juga memperkenalkan sebuah pesta rakyat setahun sekali, biasanya disebut “wiwit” (Jawa: mulai), yang berlangsung di kompleks pabrik, berupa pasar malam dan hiburan. Dan bahkan dibeberapa daerah seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur dikenal istilah manten tebu, yaitu sepasang batang tebu yang didandani boneka pria dan wanita sebelum memulai panen tebu dipabrik gula. Setelah masa panen dan produksi, para petinggi pabrik gula menerima tantiem atau bonus atau entah apa yang disebut “icip-icip”. Ketika sebagian pabrik gula negara tutup, festival dan bagi-bagi tezeki itu pun menguap. Rel dan roli yang membelah lahan persawahan pun tinggal kenangan.
Di era reformasi, banyak lahan perkebunan tebu berubah menjadi lahan pertanian lain yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan perkebunan tebu. Dan bahkan pada bulan september 2002, dibentuklah tata niaga gula yang hanya menguntungkan perusahaan yang mendapat ijin mengimpor gula dalam bentuk Impor Terdaftar (IT) yang dipegang oleh PTPN IX, X, XI dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Fluktuasi harga, perubahan iklim, hama tanaman tebu mengakibatkan berkurangnya produksi gula di Indonesia. Memang diakui pulau Jawa masih yang terbanyak memiliki pabrik gula walau nomor dua adalah pulau Sumatera dan ketiga di Sulawesi. Produksi gula nasional mengalami penurunan.
Faktor lain adalah munculnya pabrik gula rafinasi sejak pasca reformasi, pabrikan gula ini bisa memperoleh gula mentah impor yang kemudian diproses menjadi gula putih dan kemudian menjualnya dipasaran. Sehingga dipasar modern kini banyak ditemukan gula rafinasi yang dihasilkan bukan dari tebu lokal melainkan tebu impor. Yang tentu saja merugikan petani tebu nasional.

Ketika gula rafinasi menguasai pasaran, apakah yang akan terjadi dengan gula lokal?

Pabrik gula di Indonesia sebagian besar masih peninggalan Belanda termasuk dengan peralatannya yang harus segera direvitalisasi sehingga bisa menghasilkan gula putih. Bagi kebanyakan masyarakat perkotaan, gula yang berwarna putih dengan butiran yang halus merupakan gula yang terbaik. Padahal gula hasil pabrikan dari pabrik gula di Indonesia yang berwarna agak kecoklatan juga tidak kalah unggul. Tetapi tampilan terakhir merupakan salahsatu syarat jual yang paling baik.

Selain itu penetapan harga tebu yang rendah dipasaran menyebabkan kerugian bagi para petani disaat harga gula didunia melambung tinggi. Padahal banyak daerah di Indonesia merupakan perkebunan tebu unggulan. Ketika wabah penyakit tanaman tebu menyerang atau musibah banjir terjadi, para petani banyak yang merugi.

Belum lagi masalah transportasi yang tidak lagi menggunakan lori atau kereta kecil pengangkut tebu dari lokasi perkebunan ke pabrik gula. Tanpa disadari, kereta lori banyak berguna dimasa penjajahan Belanda walau bahan bakar kereta lori tersebut dari kayu bakar. Revitalisasi kereta lori dan rel kereta bisa dikembangkan, mengingat biaya pengangkutan tebu dengan truk membutuhkan biaya transportasi yang tidak murah. Kenaikan BBM juga memicu keengganan para petani untuk menanam tebu khususnya di pulau Jawa yang masih menjadi sentra tebu nasional. Transportasi dengan truk menguntungkan banyak pihak seperti pungutan liar dan lain sebagainya tetapi merugikan petani.

Saya masih ingat ada beberapa pabrik gula jaman Belanda yang kini tidak terpakai lagi dan bahkan sudah tutup sehingga para petani tebu harus mengirim tebunya dengan truk dan jarak yang cukup jauh. Sehingga mengurangi pemasukan para petani dari penjualan tebu setiap masa panen. Belum lagi kenaikan harga pupuk urea dan ulah para tengkulak yang memainkan harga pupuk.

Wacana pemerintah untuk swasembada tebu di Indonesia sepertinya masih jauh dari harapan. Padahal Indonesia adalah penghasil gula yang sukses dijamannya dan dari bumi nusantaralah gula bisa memaniskan indera pengecap seluruh manusia dipenjuru dunia.

Swasembada gula harus melibatkan para petani hingga kepabrik yang mau menerima tebu dari petani tersebut serta keikutsertaan perbankan untuk memotivasi para petani. Mantan presiden Brazil, Louis da Silva telah sukses merevitalisasi perkebunan tebu di Brazil. Ia berani mengambil gebrakan baru dengan memaksa para bank untuk memberikan pinjaman lunak kepada para petani. Serta disaat petani mengalami musibah seperti terkena hama atau banjir, maka petani tidak dibebani bunga yang tinggi atau bahkan tanpa bunga sekalipun tetapi diberikan jeda waktu pembayaran cicilan yang fleksibel agar mereka bisa memulai tanam dan setelah panen bisa membayar kembali hutangnya.

Dan mengharuskan setiap pabrik untuk merevitalisasi peralatan serta membentuk pusat penelitian untuk mengembangkan produk turunan dari tebu yang kini terkenal diseluruh dunia yaitu etanol. Brazil adalah negara penghasil etanol terbesar didunia dan digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi untuk kendaraan umum.

Tebu tidak hanya menghasilkan gula padat tetapi juga berguna mulai dari batang hingga daun serta ampas tebu. Saat ini tercatat 60 pabrik gula di Indonesia yang terdiri dari 51 pabrik gula milik BUMN dan 9 pabrik gula swasta. Pengetatan gula impor harus digalakkan dan bahkan dikenakan sangsi yang tegas kepada para pengusaha pabrik gula agar tidak mengimpor gula mentah.

Pembukaan lahan baru dan pabrik gula yang sahamnya bisa dimiliki oleh para petani lokal menjadi salahsatu pilihan terbaik agar ada kesinambungan antara investor dan petani. Selama ini petani hanya dijadikan obyek penderita saja tetapi hasil keuntungan terbesar tetaplah pada investor pabrik gula disaat harga gula dunia naik. Dan buatlah skema seperti VOC ketika seluruh penjualan gula harus melalui satu pintu bukan diberikan kepada swasta seperti sekarang.
Dan dengan pemerintahan yang tidak pro rakyat seperti saat ini, saya pesimis swasembada gula bisa dilakukan pada tahun 2014. Petani hanya sebagai obyek penderita dan gula tetap menjadi barang komoditas yang mahal seperti saat ini.

Monday, June 20, 2011

Micro Finance Event @ The Ayana Resort & Spa




Bali, 9 - 13 June 2011 berlangsung acara Micro Finance Seminar yang berlokasi di The Ayana Resort & Spa (Ex. Ritz Carlton) di Jimbaran, Bali. Lokasinya yang cukup jauh di jimbaran sebenarnya lebih cocok untuk honeymooners.

The Rock Bar - salahsatu tempat paling hips saat ini dikawasan Jimbaran, Bali, berlokasi dibibir tebing kapur yg menjorok ditepian laut lepas membuat suasananya begitu berbeda. Padahal sekitar 5 tahun lalu ketika berkunjung ke lokasi ini, semuanya biasa saja. Setelah diretouched serta dilengkapi dengan lift dengan kemiringan 45 derajat setinggi 20 m membuatnya semakin seru. Tips : untuk tamu hotel The Ayana, bisa langsung mengakses lift tersebut tanpa harus antri dan khusus pengunjung luar akan dikenakan minimum charge. Waktu yang paling baik berkunjung disini, ketika saat sunset.

Thermes Aquatic Pool di Ayana menjadi salahsatu wahana yang patut dinikmati. Dibuka pukul 12.00 siang, karena air kolamnya harus dihangatkan terlebih dahulu. Berendam dikolam ini sangatlah menyenangkan sambil menikmati pemandangan Jimbaran Bay.

Rasanya masih kurang apabila berkunjung ke Bali dalam waktu 3-4 hari, seminggu adalah waktu yang pas untuk mengunjungi semuanya. I always love Bali and always be back...

Sunday, May 22, 2011

Pagoda di Jakarta Utara




Tidak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai Pagoda yang sudah berusia cukup tua dan layak dijadikan heritage. Vihara ini terletak di cilincing, Jakarta Utara dan dulu saya masih ingat ketika banyak orang berdatangan untuk melihat seorang biksu yang sedang dikremasi dengan kayu bakar.

Vihara ini juga menyimpan ratusan abu jenazah dan dulunya tempat kremasi tetapi kini, lokasi kremasi sudah dipindahkan beberapa meter dari lokasi vihara. Keindahan pagoda ini cukup memukau saya dan seperti berada dinegri tirai bambu.

Masukan pagoda ini dalam daftar kunjungan wisata Anda ketika berkunjung ke Cilincing, Jakarta Utara. Sepulangnya Anda bisa membeli ikan dan berbagai macam produk laut dengan harga murah. Karena tidak jauh merupakan tempat pelelangan ikan. Dipastikan ikannya masih segar dan harganya murah apabila Anda berani menawar hingga harga yg sudah disepakati bersama.

Tuesday, May 10, 2011

Rumah Si Pitung




Masih jelas dalam ingatan sekitar setahun yang lalu, ketika jembatan gantung itu masih mengayun diantara dua daratan yang terpisah.

Nun diujung sana sebuah bangunan bersejarah berdiri dengan tegap dan diam sejuta bahasa. Tidak ada petunjuk arah yang jelas bahwa tempat tersebut menyimpan sejarah panjang kebanggan warga Betawi tempo dulu. Bahkan cerita si Pitung dianggap hanya sebuah cerita fiksi belaka.

Kini rumah tersebut tampil lebih cantik dari setahun yang lalu. Renovasi membuatnya semakin terawat dan lebih lengkap dengan beberapa informasi yang lebih baik.

Semoga rumah ini menjadi semakin penuh jiwa dan dihargai oleh kaum muda. Agar sejarah Jakarta tidak terlupakan, a Great Hero lived here once.

Carpediem!!

Sunday, March 27, 2011

Mystery of Batavia




Sabtu sore ketika sedang berjalan-jalan dengan si eneng ke kawasan kota tua Batavia, secara tidak sengaja kami berdua masuk kehalaman belakang museum Fatahillah untuk sholat maghrib. Sekerumunan orang sedang mengantri dan kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya kepada penjaga tiket. Dan dijelaskan bahwa malam itu ada pertunjukan film 3 Dimensi dari British Council secara cuma-cuma alias gratis.

Setelah menunggu si eneng selesai sholat maghrib, kami berdua segera mengantri tiket. Dan diumumkan bahwa pertunjukkan dimulai pukul 07.30 pm dan diminta agar tidak telat masuknya. Saya masih sangat penasaran, apa yang akan ditayangkan malam itu. Paling banter tentang sejarah Jakarta atau sejarah museum Fatahillah yang sudah hapal diluar kepala. Maklum sejak tahun 1992, saya les LIA digedung BNI 46 kota tua. Jadi kalau sedang menunggu waktu les masuk, saya sering tetirah dilokasi halaman museum atau menikmati benda-benda yang ada didalam museum tersebut.

Pukul 07.15 pm, kami berdua sudah mengantri dihalaman belakang museum yang tampak asri dengan lampu sorot yang semakin membuat suasana semakin romantis. Patung dewa Hermes dengan indahnya bertengger dihalaman belakang museum.

Seorang penjaga dengan pakaian tentara Belanda tempo doeloe menjadi rebutan objek foto pengunjung malam itu. Dan keluarlah seorang tua memakai sorban putih serta baju gamis warna merah menyala sambil membawa sebuah genta. Dan ia menyapa para pengunjung dengan tingkah teatrikalnya yang lucu.

Pukul 07.40, pintu masuk dibuka dan kami segera menempati tempat duduk semi lesehan yang disediakan oleh panitia. Dan disitulah perjalanan "Mystery of Batavia" dimulai. Lukisan dinding animasi yang disorot dengan teknologi 3D membuat saya terperanjat, karena sangat hidup sekali. Pria bersorban tersebut segera bermonolog ditengah panggung sambil menceritakan asal muasal mitos Pedang Pangeran Jayakarta yang hilang. Yang segera mengingatkan saya akan mitos pedang King Arthur.

Pertunjukan yang sangat menarik ini disponsori oleh British Council dengan teknologi Video Mapping Projection yang dikembangkan oleh para DJ di Jerman sekitar 3 tahun lalu, serta Interactive Animated Performance dengan sisipan gaya monolog. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah pertunjukan teatrikal yang didukung oleh teknologi canggih, sebuah pertunjukkan masa depan. Bayangkan suatu hari nanti Anda bisa menyaksikan sebuah Opera Turandot atau Opera I La Galigo yang dikemas dengan teknologi canggih sehingga penonton tidak perlu lagi menunggu agar layar dibelakang ditarik statis, dan semuanya ada dibelakang panggung sesuai tema yang akan ditampilkan.

Selepas acara tersebut berakhir, kami semua digiring keruangan samping teater dan disanalah harta karun Indonesia di era modern tersibak. Sebuah lukisan dinding atau mural yang dibuat pada tahun 1974 atas permintaan Gubernur Alm. Ali Sadikin waktu itu. Dan pelukis Harijadi Sumowidjojo menerima tawaran tersebut dengan bayaran 12 juta, dan ia mulai melukis mural didinding seluas 200m2.

Singkat kata selama hampir 35 tahun, tidak pernah ada orang awam yang mengetahui lukisan mural "The National Treasure" tersebut. Tidak ada yang peduli sehingga menyebabkan lukisan mural tersebut mengelupas karena lembab dan tidak ada yang peduli. Hingga British Council pun merenovasi lukisan mural tersebut dan bisa disaksikan oleh bangsa ini mulai tanggal 13 Maret - 15 April 2011. Pertunjukan dimulai pada hari Sabtu dari pukul 16.00 - 20.00 dan Minggu 10.00 - 14.00.

Dan konon lukisan mural ini pun ditemukan secara tidak sengaja oleh sekelompok seniman Inggris dan Indonesia yang mencoba menyimak harta karun yang terdapat disekitar area kota tua ini. Dan lukisan mural ini adalah salahsatunya...kota Paris punya lukisan Monalisa yang terkenal dan kota tua Jakarta punya lukisan mural yang sangat indah dan menyimpan nilai seni yang tinggi. Terimakasih untuk British Council dan seniman berbakat dari Inggris dan Indonesia yang bisa mewujudkan sesuatu yang hal yang mustahil apabila harus menunggu uluran tangan dari pemerintah. Gedung tua sudah banyak yang hancur baik dengan sengaja atau tidak sengaja....harta karun tersebut lambat laun akan hilang dimakan usia.

Wednesday, March 16, 2011

Road to Buble - Crazy Love Tour, March 2011




People said that I am lucky...it might be true, but it's impossible without God wishes. Minggu pagi, saya segera menghubungi sahabat lama yang menetap di Kuala Lumpur untuk dicarikan tiket apabila masih ada. Pukul 14.30 waktu Kuala Lumpur, sahabat saya mengirim text mesej bahwa masih ada tiket untuk yang berdiri senilai 200 RM. Akhirnya saya langsung menyetujui dan berterimakasih karena disaat hari terakhir konser saya masih kebagian tiket walau kelas festival dan harus berdiri. But it's okay coz it's my dream concert...

Setiba dibandara KLIA, saya segera bergegas menaiki kereta express senilai 35RM menuju kejantung kota Malaysia. Dan setelah check in di Cube Hotel, kawasan Bukit Bintang..saya segera merebahkan diri dan kemudian beranjak keluar untuk mencari makan dengan teman kantor.

Di Papa Rich, saya bertemu dengan sahabat lama yang sudah 10 tahun tidak bertemu semenjak dia menikah dengan orang Malaysia. Kami bertiga pun menikmati makanan khas Malaysia..roti canai serta nasi lemak dengan harga yang cukup mahal buat saya.

Selepas makan, kami pun segera bergegas menuju ke stadium malawati dishah alam yang berjarak sekitar 30 menit dari KL. Kemacetan yang luar biasa akibat hujan deras yang melanda KL membuat jantung saya berdetak kencang karena takut telat. Dan sahabat saya sempat tersesat akibat tidak jelasnya petunjuk jalan menuju ke stadium malawati malam itu.

Setelah bertanya dipom bensin, kami pun segera menemukan lokasi. Ratusan mobil sudah berada dipelataran parkir. Gerimis makin membasahi tubuh kami bertiga hingga kepintu masuk stadium yang berbentuk seperti Istora Senayan di Jakarta tetapi dengan kapasitas 3 x lebih besar dan lebih rapi.

Setibanya distadium, kamera Canon saya tidak boleh dibawa masuk dan akhirnya saya harus masukkan didalam tas. Dan saya terbebas dari ancaman tidak boleh memasuki stadium. Pukul 08.20 pm saya dan rekan2 sudah memasuki dalam stadium dan sempat menyaksikan penyanyi lokal malaysia menendangkan beberapa buah lagu.

Puluhan tempat duduk masih tampak kosong, walau sudah terisi 80% dari kapasitas sekitar 5000 penonton malam itu. Beberapa merchandise Buble dijajakan dengan harga yang cukup mahal, bahkan untuk segelas air putih dengan ice saja dihargai 2 RM atau sekitar Rp 6000/cup.

Pukul 08.45 pm, layar utama dipanggung terbuka dan semburat tulisan MB "Michael Buble" pun terkuak hingga lantunan opening act dari Crazy Love Tour pun segera hadir. Mr. Buble dengan suaranya yang khas segera membahana diseluruh ruangan stadium, tepuk tangan dan riuhan penonton segera memenuhi setiap ruang kosong didalam stadium.

Permainan cahaya dipanggung yang ciamik dengan tata panggung yang sederhana menambah semakin semaraknya konser Buble malam itu. Dan bukan hanya seorang penyanyi saja, ia juga seorang entertainer yang sangat baik. Buble memperkenalkan satu persatu musisi yang mengiringi penampilannya malam itu dengan luconan khasnya dan bahkan agak sedikit 'nakal' bagi para penonton Malaysia.

Ia pun segera memanaskan stadium dengan lagu-lagunya yang sudah dikenal oleh para pendengar setianya. Buble memberikan kejutan dengan menari 'Moon Walk' ala Michael Jackson, hingga ia memberikan sambutan bahwa ia adalah penggemar MJ dari kecil. Ia pun melantunkan beberapa bait lagu MJ dengan gayanya yang khas dan penonton pun segera berteriak.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, ketika Buble turun dari panggung menemui penonton dibagian belakang. Ia berteriak,"I know that you guys paid so expensive to see me here. And this is the time to see me closely". Penonton segera berhamburan menemuinya dan segera para bodyguardsnya melindungi Buble dari repalan tangan penonton yang ingin menyalaminya langsung.

Dibagian belakang ia segera menaiki sebuah panggung kecil yang memang sudah disiapkan oleh pantia sebelumnya, dan Buble menyanyikan lagu hitsnya "HOME" ala akuistik. Setelah menyanyikan satu lagu, ia segera kembali kepanggung utama.

Dan sekali lagi ia menyerukan,"This is a party, so let's dance!" Ribuan penonton segera berdiri dan menggoyangkan badan sambil mengikuti iringan lagunya. Sudah 10 buah lagu dinyanyikan dan ia membuat salam perpisahan.

Teriakan "We want more" segera bergema didalam stadium Malawati, dan waktu 5 menit ia segera kembali kepanggung dan penonton berteriak kencang. Ia memberikan bonus 2 lagu tambahan diakhir pertunjukannya. Hingga ribuan convetti yang ditembakkan membuat seluruh panggung terlihat seperti bintang-bintang malam akibat diterpa sorotan lampu sorot.

Tepat pukul 10.30 pm, Konser Michael Buble berakhir dan kami pun semua senang dan terpukau akan aksi panggungnya yang menawan. Penonton dengan tertib segera keluar stadium dan hujan pun telah reda.

Kini kami terhalang oleh penonton yang hendak pulang, dan kami seperti orang hilang karena sangat susah mencari taksi. Ternyata konser di Malaysia berbeda dengan di Indonesia, untuk urusan taksi sangatlah sulit karena lokasinya yang jauh dari tengah kota.

Kami bertiga harus jalan kaki sekitar 1 km dan menunggu taksi yang tidak mau distop ketika kerhenti. Puluhan turis asing tampak kebingungan karena seperti kami yang tidak tahu harus pulang naik apa. Bahkan banyak pengunjung dari Indonesia melakukan hal yang sama. Berjalan kaki tanpa arah tujuan.

Hingga salahsatu teman saya memberitahu bahwa ada free shuttle bus tapi tidak ada petunjuk yang jelas dimana shuttle bus tersebut berhenti. Kami bertiga memutuskan kembali kestadium dan bertanya kepada pihak panitia dengan baju yang basah akibat keringat.

Pukul 11.30 pm kami bertiga naik free shuttle bus setelah panitia menelpon petugas supir bus. Dan ada beberapa penumpang dari Indonesia dengan baju pesta menaiki bus kami.

Pukul 12.15 am, kami tiba di KL Sentral dan lanjut dengan naik taksi hingga kedepan hotel dengan biaya 11 RM saja. Akhirnya saya bisa menyaksikan konser tersebut dengan sangat nyaman, dan berharap Mr. Buble mau berkunjung ke Jakarta tahun depan agar kami bisa menyaksikan kepiawaannya tanpa harus menempuh jarak ribuan kilometer dari Jakarta.