Showing posts with label architecture. Show all posts
Showing posts with label architecture. Show all posts

Thursday, July 21, 2011

Beautiful Iran




Persia..siapa yang tidak mengenal sebutan kata ini untuk sebuah negara yang berada di Timur Tengah yaitu IRAN. Negeri yang didirikan sekitar 3200 SM ini mempunyai sejarah yang cukup tua dan mengesankan. Pada abad 8 M, Islam masuk kedalam kehidupan masyarakat Persia. Dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan yang sangat mengagumkan baik serta menyebarkan filsafat, karya seni, ilmu sains dan tehnik kesegenap penjuru dan bahkan ke dataran Eropa.

Dari Jakarta, kini Emirates menerbangi rute Jakarta - Dubai - Teheran 2 x dalam seminggu dan memakan waktu selama 4 jam perjalanan. Negri ini menyimpan bangunan sejarah Islami yang mengagumkan terlepas dari seluruh masalah politik dan agama.

Dan satuhal, negri ini juga terdapat Gereja dan bahkan Sinagog bagi pemeluk Kristiani dan Yahudi yang tergolong minoritas. Berbagai masjid bisa kita kunjungi dan terutama bagi para penganut Shiah. Ada beberapa tempat yang patut dikunjungi.

Beragam masjid menampilkan mozaik yang menawan dan mengundang decak kagun, mulai dari mozaik porselen berwarna biru yang dijamannya blm dikenal tehnologi untuk membuat porselen secantik itu.

Kubah dalam bagian masjid yang berlekuk-lekuk untuk menimbulkan suara anti gema sehingga tidak diperlukan pengeras suara serta taman-taman kota yang sangat menawan dan dijamin bersih.

Bayangkan aliran air berjalan dengan sangat jernih serta bunga-bunga ditaman yang berwarna warni dan biasa anda nikmati dimusim semi serta panas yang hangat disana. Semuanya adalah hasil karya agung bangsa Persia yang memukau dunia.

Selain itu dibandar Turkaman, Anda bisa membeli caviar kalengan yang terbaik didunia dengan harga yang sangat murah. Serta anda bisa menikmati peninggalan masa lampau di era sebelum Islam yaitu dikota Bam Citadel serta Persepolis. Pandangan mata anda akan dihibur dengan patung2 kuno serta bangunan megah dimasanya.

Isfahan adalah salahsatu kota tercantik di Republik Islam Iran, dimana anda bisa menikmati jembatan kuno yang sangat indah - The Khaju Bridge sambil duduk-duduk dicafe kecil dan menimakti penganan khas - Baglava. Dimalam hari jembatan ini akan terasa begitu magic, aliran air sungai yang jernih dan dingin serta lampu sorot semakin menambah romantisnya suasana dimusim panas. Tetapi disini, muda mudi yang dilarang berpacaran didepan umum.

Iran memang sebuah negri seribu satu malam yang sesungguhnya....

Wednesday, July 20, 2011

Tenggarong Stadium




Stadium berkapasitas 60,000 penonton ini dibuat untuk PON beberapa waktu yang lalu. Amat disayangkan apabila stadion megah ini tidak digunakan untuk event bertaraf internasional...

Thursday, November 12, 2009

My me moment @ Dataran Merdeka




Dibangun tahun 1894 – 1897 oleh arsitek Inggris – A.C Norman sebagai gedung administrasi bagi penguasa colonial Inggris disemenanjung Malaya waktu itu. Ketika ia tinggal di Afrika, arsitektur bangsa Moor yang banyak terdapat dinegri Afrika telah mempengaruhinya. Pada tahun 1957, Malaysia merdeka dari Inggris dan kemudian gedung tersebut diserahkan kepada pemerintah Malaysia dibawah pemerintahan Tunku Abdul Rahman.

Pagi itu, Dataran merdeka terlihat sepi karena jalanan didepan gedung Sultan Abdul Samad (SAS) ditutup untuk sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka diMalaysia. Jadi saya bisa leluasa mengambil berbagai macam angle foto. Dataran merdeka dulunya merupakan lokasi permainan polo bagi para petinggi Inggris dan dibagian barat terdapat sebuah bangunan ala colonial Inggris “Royal Selangor Club”.

Kini lapangan luas tersebut yang ditata rapi dengan tanaman hias yang cantik disekitarnya, dijadikan sebagai lokasi pesta kemerdekaan Malaysia setiap tanggal 31 August dan berbagai macam acara seremoni lainnya. Dibagian timur terdapat sebuah tiang bendera setinggi 95 meter.

Kemudian saya berjalan menuju ke gedung SAS dan ternyata sedang tahap renovasi karena banyak batu bata merahnya yang sudah lapuk sehingga harus direstorasi. Restorasi sendiri akan selesai dipertengahan tahun 2010 nanti. Sehingga saya tidak bisa leluasa mengambil gedung tersebut.

Dari gedung SAS, saya melanjutkan kesisi timur Dataran merdeka dan ada beberapa buah bangunan tua yang cantik dan terawat. Satu hal yang patut dicontoh adalah dari segi kebersihan dan perawatan gedung tua sehingga menjadi daya tarik wisata yang menarik.

Padahal kawasan gedung tua Batavia di utara Jakarta dan Semarang akan sangat cantik bila dipoles. Ratusan wisatawan asing pasti akan datang setiap harinya. Padahal gedung SAS masih kalah cantik dengan bangunan tua Belanda di Indonesia….

Monday, November 9, 2009

I hate petronas tower coz...




coz it's so damned beautiful....mau diliat dari angle mana aja...baik malam maupun siang hari..tetap saja cantik...makanya nggak aneh kalau manusia dari berbagai bangsa sampe antri tiket untuk naik ke sky bridgenya....
padahal it's man made ya...
tapi inilah hebatnya...membuat sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa..
dibutuhkan seorang yang visioner sehingga bisa mewujudkan bangunan hebat ini..........

Friday, October 16, 2009

Festival of Light in Berlin, 14 - 25 Oct 2009




Mit einem Feuerwerk an Illuminationen und Veranstaltungen verwandelt das FESTIVAL OF LIGHTS™ auch 2009 wieder die deutsche Hauptstadt zwei Wochen lang in eine einzigartige Glitzermetropole. Weltberühmte historische Wahrzeichen und Orte Berlins wie das Brandenburger Tor, der Funkturm, der Berliner Dom und der Fernsehturm werden spektakulär mit Licht, Events, Projektionen und Feuerwerk in Szene gesetzt. Begleitet wird das Festival von zahlreichen Kunst- und Kulturveranstaltungen rund um das Thema Licht

For the fifth time, the FESTIVAL OF LIGHTS™ will turn Berlin into a sparkling metropolis with a firework of illuminations and events for two weeks from 14th to 25th October, 2009. World-famous historical landmarks and spots in Berlin, e.g. the Brandenburg Gate, the Television or Radio Tower will be staged impressively by means of light, events, projections and fireworks. Complementary to the festival, there will be numerous cultural events dealing with the subject “light”.

The City Stiftung Berlin, the Union Investment Real Estate AG, the light artist Andreas Boehlke and the festival coordinator Birgit Zander with her agency Zander & Partner Event-Marketing GmbH are the initiators and organisers of the festival.

Kalau di jakarta dibuat festival serupa saya akan pilih kawasan kota tua di Jakarta Kota....pasti akan sangat cantik sekali dimalam hari and eksotis....
trus kawasan pohon disudirman akan saya sulap warna warni diwaktu malam...trus sepanjang jembatan layang ancol - cawang akan dikasih lampu juga...

cantik kali ya...hmmm but when???

Seandainya Jakarta bisa melakukan hal serupa pasti sangat cantik sekali...sayang tamannya tidak sebaik di Berlin...Ich vermisse Berlin

Tuesday, October 13, 2009

Spoor Station




Berikut ini beberapa foto lama tentang stasiun Kereta Api waktu jaman Belanda dan masih banyak yang bisa dinikmati gedungnya hingga kini.

walau sudah banyak berubah tampilannya.....

Sunday, October 11, 2009

Beautiful Sunday




Hari minggu yang cerah dikota Bandung, syaa habiskan untuk foto beberapa gedung tua yang cantik dan megah.

Mulai dari Gereja Katolik hingga Gereja Bethel dan juga sebuah bangunan kastil mirip di kota Lyon and Nantes, France. Sayang saya tidak bisa masuk karena dimiliki oleh TNI AD. Seharusnya bangunan yang cantik itu bisa dinikmati oleh para wisatawan lokal and asing.

Bangunan lama kota ini memang sangat memukau...

Monday, July 20, 2009

Mausoleum at Petamburan Memorial Service Park




Selepas mengambil foto di stasiun sepoor (KA) Tanjoeng Priuk, saya kemudian menuju kearah Petamburan. Terinspirasi dari koran Kompas Minggu, saya jadi ingat mantan saya dulu kost di Petamburan. Hampir selama bertahun-tahun saya menjemput dan main kekostannya atau bahkan sering makan sate malam hari dihalaman depan taman pemakaman umum (TPU) Petamburan yang uenak tenan.

Mausoleum merupakan sebuah bangunan berbentuk monument yang digunakan sebagai makam atau kuburan untuk menyimpan jasad orang mati atau abunya. Dan bahkan diagama tertentu disediakan juga sebuah tempat ibadah. Ada banyak mausoleum di dunia seperti Taj Mahal, Pyramid, Mao Zedong and Lenin Mausoleum hingga Astana Giri Bangun di Solo.

TPU Petamburan merupakan salahsatu pemakaman Belanda yang masih tersisa hingga kini dan sebagian besar untuk umat Kristiani. Ketika masuk kearea pemakaman ini tidak ada sesuatu yang spooky, suasananya hiruk pikuk maklum bagian depan makam dijadikan mini soccer dan sedang ada pertandingan tujuh belasan. Mulai dari para pemain, penonton hingga pedagang makanan dan minuman pun ada.

Saya kemudian menuju ketengah pemakaman dimana terdapat salahsatu mausoleum yang terbesar dan terindah di Indonesia yang masih bisa disaksikan. Pemilik mausoleum ini salahsatu orang kaya Tionghoa jaman dulu, dimakamkan tahun 1931 dan mempunyai luas 10 x 10 m persegi. Bangunan tinggi berwarna hijau berlapis marmer impor dari Australia, almarhum adalah salahsatu pengusaha Tionghoa asal Surabaya dan meninggal di Batavia. Kini keluarga beliau juga dimakamkan diarea makam ini.

Ada 5 buah patung yang terdiri 4 buah patung pria bermotif romawi dari pualam yang menandakan siklus kehidupan seorang pria mulai dari bayi, remaja, dewasa dan masa tua. Ditengah makam terdapat patung angel yang cantik tapi dengan raut muka sedih seperti belasungkawa. Sangat cantik sekali dan bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk makam yang cantik ini.

Belum lagi rasa terpana saya usai…terdapat sebuah tangga turun ala bangunan taman di Perancis...terdapat tulisan REST IN VERDE dan bagian bawah terdapat sebuah lorong yang sepertinya tempat untuk menaruh peti jenasah. Sangat indah sekali Cuma saying ada beberapa coretan disana sini dari tangan jahil.

Kehidupan dimakam cukup beragam, ada yang sedang berjualan makanan diarea makam dan bahkan ada beberapa orang yangsedang asyik mengobrol. Tidak jauh dari mausoleum tersebut terdapat sebuah pemakaman Tionghoa yang beraneka ragam mulai dari gaya art deco hingga yang minimalis. Dan bahkan ada sebuah makam untuk menyimpan abu orang Jepang. Selesai berkeliling dan foto2 dimakam, saya berjalan keluar.

Tiba-tiba ada rasa panas dipunggung saya, entah apa dan memang panas cukup terik tetapi tidak sepanas ini. Wah saya jadi nggak enak…ada perasaan takut juga. Padahal saya sudah kulonuwon dalam hati….hmm…saya agak sensi dalam xxx files memang. Tapi ya sudah maksud saya baik koq dan minta maaf apabila tidak berkenan diambil foto “rumahnya”. Namanya juga fotografer amatiran…

Saya kemudian nyuwon sewu kepada para "penunggu" dan langsung menuju keparkiran, gone by the wind…..Jakarta memang indah…semuanya ada …hingga para bajingan teroris itu mengganggu jadwal liburan saya kali ini….

The Most Beautiful Train Station in Indonesia




This is the the most beautiful train station in Indonesia....sudah lama saya mengincar lokasi ini. Dulu ketika masih tinggal didaerah kebantenan 3, semper timur, north jakarta...hampir setiap hari semasa ingin kuliah saya selalu melihat bangunan tua yang indah tapi kusam. Tapi saya tidak berani masuk kedalamnya karena daerah ini terkenal bronx...alias banyak premannya. Puluhan tunawisma menempati sepanjang stasiun ini.

Tahun 1995 sempat dicat ulang dan kemudian stasiun ini tidak beroperasi selama beberapa tahun dan nasibnya semakin tidak jelas. Kini ditahun 2009, stasiun KA terindah di Indonesia ini kembali beroperasi dengan beberapa rute.

Menurut sejarah stasiun kereta api ini dibangun pada tahun tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 diantaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.

Bahkan sejak diselesaikannya stasiun ini, telah timbul protes mengenai "pemborosan" yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum. Sementara, kereta api-kereta api kapal yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd langsung menuju ke dermaga pelabuhan dan tidak menggunakan stasiun ini. Stasiun ini terutama hanya digunakan untuk kereta rel listrik yang mulai digunakan di sekitar Jakarta pada tahun 1925.
(dari situs wikipedia)

Pada tahun 2009, diresmikan kembali oleh Presiden SBY dan kini kembali cantik. Bangunan bergaya art deco ini memang sangat indah, pilar-pilar besi baja jaman Belanda masih kokoh berdiri dan belum lagi peron yang berbentuk lengkungan baja ini merupakan yang terpanjang di Indonesia. Mengingatkan saya akan beberapa bentuk stasiun KA serupa di Eropa. Dan yang masih memiliki mungkin hanya Indonesia dan India (ingat film Slumdog Millionaire ketika diakhir film mereka menari distasiun tua kota Mumbai?)

Hari minggu ternyata tidak ada kegiatan distasiun KA ini, saya sempat kecewa ketika mengetahui bahwa stasiun tutup. Tapi saya mencoba bertanya dan diberitahu oleh seorang penjaga parkir bahwa masih bisa masuk dari pintu samping.

Dan masuklah saya dari pintu samping, beberapa foto mulai saya ambil hingga bagian bangunan utama dengan lengkungan terbesar di Indonesia. It's awesome!! Tiba-tiba seorang petugas security menyapa dan bertanya mengenai maksud kedatangan saya. Kemudian saya memberitahukan bahwa maksud kedatangan saya adalah untuk mengambil foto stasiun ini untuk kepentingan pribadi.

Tiba-tiba saya dituntun masuk kedalam ruang security, wah ada apa neh?? Dengan sopan saya menjawab maksud kedatangan saya dan security itu mempersilahkan saya duduk dan menunggu atasannya. Ketar ketir juga apabila kamera saya ditahan hanya karena mengambil foto dalam stasiun KA yang menurut saya tempat ini adalah ruang publik dan tidak ada larangan untuk mengambil foto.

Selama 15 menit saya menunggu, kemudian saya dipanggil keluar dan diajak masuk keruangan atasan security. Seseorang berperawakan pendek dan hanya memakai kaos oblong, berkumis tebal ala seorang security jaman dulu mempersilahkan saya masuk keruangannya yang berAC.

"Nama anda siapa?"
"Arief, Pak"
"Anda mengambil foto untuk kepentingan apa?"
"Saya mengambil foto untuk kepentingan pribad, pak!"
"Oh...Mas tau kalau hari minggu tidak ada jadwal kereta api?"
"wah saya tidak tahu pak...saya pikir stasiun KA ini buka setiap hari."
"Oh tidak...hanya hari kerja saja. Dan mas dari mana?"
"Saya dari bekasi dan dulu sempat tinggal di daerah priuk, dan saya sangat menyukai bangunan tua, Pak!"
"Oh gitu...disini sering dilakukan pengambilan foto untuk kawinan."
"Oh foto untuk pre wedding, wah bagus donk! Tapi saya bukan untuk bisnis, hanya untuk kepentingan pribadi saja pak."
"Oh gitu...biasa untuk foto kawinan ada harganya sekitar 200rb dan kemarin bahkan ada yg membawa layar untuk foto segala."
"Wah kalau saya tidak untuk foto kawinan dan saya tidak bawa uang sebanyak itu pak!"
"Ya karena menurut Ibu Ella dari dinas PJKA memang segitu harganya."
"Saya akan kasih cuma tidak banyak koq pak!"
"Ya biasa minimal mereka kasih 50rb sikh!"
"Oh kalau segitu saya ada, pak!'
"ya buat anak-anak disini dan mereka yang ngebersihin stasiun."
Kemudian saya mengambil selembar uang 50ribuan dan memberikannya kepada si bapak yang berinisial "P".

"Oh iya pak, katanya disini ada bunkernya ya?"
"Oh mas mau lihat bunkernya? nanti saya suruh anak buah saya antar mas kebunker". Dan ia kemudian berdiri dan memanggil anak buahnya, menyuruh seseorang untuk mengantarkan saya berkeliling stasiun tua ini.

Percakapan usai dan semua lancar akibat selembar uang 50rban...hmm koq masih ada pungli sikh. Kalau ada peraturannya yang terpampang dan jelas bahwa dikenakan biaya masuk + foto + tour = Rp 50,000 ya nggak apa-apa deh. Mudah-mudahan saja uang itu dibagikan ke anak buahnya buat beli rokok....ironic!!

Seorang security menuntun saya menuju ke lokasi bunker dibawah stasiun KA Tanjung Priok ini. Bau lembab segera menerpa dan saya tidak berani ambil resiko untuk masuk kedalam bunker yang digenangi air. Konon bunker ini menuju ke pelabuhan untuk membawa candu dan barang selundupan di jalan Belanda. Saya juga snake phobia...so i dunt wanna step my feet into the bunker with fullfilled of water.

Kemudian saya dibawa kelantai dua yang dulu digunakan sebagai dapur untuk para karyawan PJKA jalan Belanda, sebuah bekas cerobong asap masih kokoh berdiri dan sebuah ruangan dengan luas 4 x 4 m yang agak spooky membuat saya tidak mau berlama-lama didalamnya. Dan yang hebat ada sebuah lift kecil yang membawa makanan dari dapur dilantai 2 kelantai 1. Jadi tidak udah naik tangga bawa makanannya kelantai satu stasiun..hebat euy!!

Perjalanan dilanjutkan menuju keruangan lantai 3 yang langsung menghadap udara terbuka. Jaman belanda dulu sering digunakan untuk open air party dansa dansi para noni dan pembesar belanda. Dari lantai 3 saya membayangkan jaman dulu bisa melihat laut utara jakarta dan kini menjadi stasiun bus yang kumuh dan paling utara menjadi lahan persero pelabuhan dan peti kemas....

Pemandangan dari atas sangat menakjubkan, tembok besar dan cat putih membuat saya seperti jaman dulu dan bangga bangunan ini masih bisa dinikmati setelah puluhan tahun saya hanya bisa melihatnya dari jendela bus yang membawa saya kekampus.

Kami turun dan memasuki peron utama, wow sangat luas dan indah, ornamen yang dibuat dari batu marmer membuat saya terpana. Tidak ada stasiun lain seperti ini...dan setiap kanan dan kiri peron ada ruangan untuk meeting yang cukup besar. Apabila PJKA ingin menambah pemasukan halal dari stasiun ini, bisa dialihfungsikan sebagai ruang sewa untuk pameran, konser musik, fashion show, dll. Bayangkan apabila opening party Jakarta Great Sale or Jakarta Fashion Week dibuat dilokasi ini atau music party dengan dentuman DJ dan sinar laser membuat ruangan ini menjadi lebih berwarna dimalam hari...

Diluar negeri tempat-tempat indah yang tidak biasa, dijadikan sebagai tempat party. Tapi tentunya wilayah sekitar stasiun ini masih belum mendukung....semrawutnya stasiun depan KA yang menurut saya harus direlokasi dan dijadikan taman terbuka dengan air mancur...pasti akan sangat indah. Tempat parkir mobil dan motor yang memadai juga perlu dipikirkan mengingat daerah ini masih "BRONX"....

Hmm...akhirnya liburan saya menjadi semakin menarik walau MU tidak jadi datang dan sempat ada yang tidak mengenakan akibat pungli...Bila kalian berkunjung ke lokasi ini, pastikan disaat weekend ketika tidak ada jadwal kereta api sehingga leluasa memotret, kunci ganda kendaraan sangat dibutuhkan dan pakai baju yang santai dan siapkan uang untuk pihak security dan beri tips bagi guidenya...

Kenyamanan dalam stasiun tidak usah diragukan cuma dibutuhkan informasi yang jelas juga tentang sejarah stasiun ini...

Monday, May 4, 2009

Aquatic Museum Design for NYC




Bosan dengan berita politik yang membuat otak semakin mumet. It's better to see another magnificient design for New York City...The Aquatic Museum.

Museum ini rencananya sebagai Sea Worldnya Big Apple, tetapi hebatnya menggabungkan unsur hiburan dan kenyamanan bagi para pengunjung yang hadir dimuseum ini.

Seandainya ada di Jakarta....hmmm...keren abiz....

Sunday, April 19, 2009

Station Hall Bandung




Stasiun Bandung saat ini sudah berumur 120 tahun pada tanggal 17 Mei nanti, banyak sekali peristiwa yang sudah dilalui oleh stasiun tua ini.
Kisah perjalanan anak bangsa ada dalam sejarah stasiun ini mulai dari jaman Belanda hingga penjajahan dan era modern.

Bangunan ini sudah mengalami renovasi dan merupakan salahsatu stasiun tertua di pulau Jawa. Nasibnya kini harus bertarung dengan moda transportasi modern. Geliat kehidupan distasiun tua ini belum berakhir. Tidak ada salahnya pemkot Bandung menata kembali stasiun ini untuk dijadikan tempat wisata baru, mungkin bisa saja dibuatkan museum mini mengenai sejarah stasiun KA Bandung.

Sunday, April 12, 2009

Mon Voyage à l'Istiqlal




I always love the architecture of this great mosque, Istiqlal..
Designed by FX. Silaban...a famous architect at the era of Soekarno..
He was also a Chatolic...
The giant pilars remind me to the design of Hagia Sophia in Istambul, Turkey and St. Peter Chatedral in Rome, Italy...
This 6 storey building - mosque has a magnificent air circulation, FX Silaban had made it environmental friendly...
He put this great mosque at the 2nd floor to minimize hot temperature and let the air entered through the stainless steel decorations amongs the walls.
He also choosed the stainless steels and marble stones to minimize the maintenance of the building...coz it's easy to clean up and long lasting..

Tuesday, March 31, 2009

Under Renovation




Iseng coba - coba foto sebuah proyek pembangunan gedung didaerah Dago, kota Bandung. And here they are...

Wednesday, February 18, 2009

Jelajah Museum Geologi




Hanya selemparan batu dari Gedung Sate di kota Bandung, museum geologi ini menyimpan berbagai macam kekayaan isi perut bumi nusantara dari jaman pra sejarah hingga kini. Museum ini diresmikan di tahun 1920an oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menyimpan segala jenis laporan dokumen hasil tambang dan berbagai macam temuan fosil yang menguntungkan bagi penjajah waktu itu.

Dengan desain art deco, bangunan ini masih memikat dan koleksi yang tersimpan didalamnya menjadi hiburan tersendiri. Ketika Indonesia merdeka di tahun 1945, jawatan geologi dipegang oleh RI hingga tentara NICA kembali menjajah ditahun 1946 dan membumi hanguskan kota Bandung (masih ingat cerita Bandung Lautan Api?)

Arie Frederic Lasut - salahsatu petugas kantor geologi saat ini diculik dan dibunuh Belanda dikota Yogya pada saat almarhum sedang menyelamatkan berbagai macam dokumen penting yang berisikan laporan isi perut bumi nusantara dan berbagai macam temuan yang ada. Atas jasanya, almarhum diabadikan disebuah piagam dan dianggap sebagai pahlawan bangsa. Dokumen merupakan hal yang sangat penting karena waktu itu tehnologi belum semaju sekarang sehingga seluruh dokumen yang ada masih dalam bentuk tulisan manual.

Tahun 2000, pemerintah Jepang menghibahkan bantuan untuk merenovasi museum ini karena waktu tahun 1942 - 1945, bangunan museum ini digunakan sebagai kantor tentara Jepang waktu itu. Tahun 2000 museum geologi dibuka untuk umum kembali dan diresmikan secara formal oleh Presiden Megawati waktu itu. Museum ini buka dari pukul 10.00 - 15.00 dan tidak dipungut bayaran, hari Jumat libur.

Fosil Dinosaurus merupakan hiburan tersendiri dan museum ini cocok bagi keluarga dan anak-anak sekolah. Temuan berbagai macam fosil dan rangka seperti fosil binatang laut yang sudah membatu, meteroit yang dulu digunakan sebagai pamor atau campuran untuk membuat keris agar diyakini semakin sakti, rangka otak manusia Jawa yang terkenal sebagai homo erectus dari wajak (Tulungagung - my kampong) dan Mojokerto serta Sangiran, hingga berbagai macam batuan kristal.

Kota Bandung yang terkenal sebagai cekungan juga diceritakan disini dan berbagai macam lapisan tanah hingga maket pegunungan grasberg di bumi papua yang kini tambangnya digerogoti oleh Free Port.

It's fun to be here....mengunjungi museum adalah salahsatu cara untuk melihat perkembangan suatu budaya dan bangsa dan beruntung nasib museum ini lbih banik dari museum lainnya yang ada di Indonesia....come and see it!!

Sunday, February 1, 2009

Stasiun Beos




Stasiun Beos adalah stasiun kereta api yang berusia cukup tua di Jakarta. Keberadaannya pada saat ini diributkan karena hendak direnovasi dengan penambahan ruang komersial. Padahal, stasiun ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, selain bangunannya kuno, stasiun ini merupakan stasiun tujuan terakhir perjalanan. Seperti halnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut di Surabaya yang merupakan cagar budaya, namun terjadi renovasi yang dinilai kontroversial.

Pada masa lalu, karena terkenalnya stasiun ini, nama itu dijadikan sebuah acara oleh stasiun televisi swasta. Hanya saja mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi.

Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia.

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.

Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Stasun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Walau masih berfungsi, di sana-sini terlihat sudut-sudut yang kurang terawat. Keberadaannya pun mulai terusik dengan adanya kabar mau dibangun mal di atas bangunan stasiun. Demikian pula kebersihannya yang kurang terawat, sampah berserakkan di rel-rel kereta. Selain itu, banyak orang yang tinggal di samping kiri kanan rel di dekat stasiun mengurangi nilai estetika stasiun kebanggaan ini. Pihak KA sendiri seolah-olah tidak memperhatikan hal ini.

Saya sudah mencintai stasiun KA ini semenjak saya kursus di LIA Kota tepatnya digedung BNI 46 lama di tahun 1991 - 1994. Lengkungan baja diatap gedung yang sangat memikat dan dapat bertaha hingga kini tanpa ada kerosi karat. Saya dulu biasa menghabiskan makan siang direstoran siap saji A&W yang terletak diujung paling selatan stasiun ini. Sepertinya nanti penumpang kereta akan memakai tiket otomatis seperti dihalte busway karena beberapa peralatan sudah terpasang diujung pintu masuk.

Didepan stasiun ini juga sudah dibangun underpass yang bisa terhubung dengan stasiun busway ke Harmoni sehingga penumpang tidak perlu menyebrang jalan lagi. Cuma sangat disayangkan underpassnya kurang terawat, temboknya sudah kusam, beberapa jalan turunnya sudah mengelupas semennya. Kebersihan harus jadi perhatian serius pemda DKI dan belum lagi lift untuk kaum cacat yang belum berfungsi. Sudah hampir setahun lebih pembangunan underpass ini cuma hasilnya belum maksimal...

Wednesday, January 28, 2009

Museum Wayang




Bangunan bekas gereja abad ke 18 ini hanya bagian depannya saja yang tampil apik setelah direnovasi, sementara bagian dalamnya masih tetap sama...tidak terawat dengan baik.

Puluhan dan mungkin ratusan wayang koleksinya tampak tampil begitu saja, bagian dalam ruang museum yang seharusnya berpendingin ruangan agar tidak cepat rapuh dan kotor...ternyata tidak berpendingin ruangan.

Konon akan segera direnovasi karena bagian samping museum juga sedang diperbesar dengan sumbangan bangunan dari Bapak Probosutedjo. Tiket masuk seharga Rp 2000/orang tidak bisa diharapkan banyak tanpa ada sumbangan besar dari para donatur yang mencintai kota tua dan koleksinya + perhatian dari pemerintah pusat...Wayang kini sudah diakui oleh PBB sebagai warisan budaya dunia...

Sunday, January 18, 2009

Sociteit Concordia, Bandung




Kawasan perbukitan Cieumbeluit, Bandung sudah dikenal sejak jaman Belanda sebagai tempat tetirah kaum bangsawan kolonial Belanda. Perumahan mewah sudah bermunculan sejak dulu sehingga tidak heran apabila masih ditemukan rumah-rumah dengan desain kolonial dan taman yang cukup luas. HIngga saya menemukan sebuah bangunan lawas yang memukau.

Berbentuk setengah lingkaran dengan taman yang cukup luas didepannya, sebuah tulisan terdapat dipintu gerbangnya "Bumi Sangkuriang". ternyata tempat ini adalah semacam club house untuk kaum bangsawan jaman penjajahan Belanda. Dikenal dengan Sociteit Concordia dan tahun 2009 ini genap berusia 130 tahun, sebuah perkumpulan creme de creme Bandung yang cukup tua. Awalnya mereka berkumpul di gedung Merdeka dan tahun 1957, perkumpulan orang kaya ini pindah ke gedung baru di Jl. Kiputih no.12 dengan nama Country Club Concordia.

Didalamnya dilengkapi tempat dansa - dansi yang bisa disulap menjadi meeting room untuk berbagai macam acara seminar dan pesta lainnya. Beberapa perabot jaman dulu juga masih ada seperti kursi kayu yang sudah tua tapi masih layak pakai.

Dihalaman belakang terdapat sebuah taman yang cukup luas sekitar 2 hektar dan dilengkapi dengan sebuah kolam renang. Kolam renang ini akan diairi air hangat pada saat weekend saja saya jadi membayangkan masa silam ketika noni dan sinyo Belanda dan keluarganya berkumpul ditempat ini. Bring me to the past!!

Selain itu tempat ini dilengkapi dengan fitness centre, lapangan tenis dan juga hotel bahkan ada sebuah tempat yang memikat saya yaitu resto concordia. Restoran ini bercat putih dan menggunakan cahaya matahari sebagai penerangnya dikala siang hari. Jendela yang terbuka dan besar memberikan ventilasi yang baik ketika kita sedang menyantap makanan disiang hari. Selain itu warna putin mendominasi resto ini...so cute!!

Jadi pengen bikin wedding ceremony ditempat ini, I wish! Mau sewa ruangan juga murah coba saja buka laman mereka di www.bumisangkuriang.com

mau menginap dihotelnya juga cukup terjangkau.....sekitar Rp 225,00 hingga Rp 400,000 ++/room...enjoy your weekend or party here!!

Monday, January 5, 2009

Bosscha – Keindahan yang Tersembunyi




Beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi Observatorium Boscha dikawasan Lembang, selama ini saya belum pernah menginjakkan kaki ditempat ini. Padahal lokasinya sering saya lewati ketika ingin berkunjung ke Tangkuban Perahu atau Subang, tetapi tidak ada penunjuk jalan yang jelas disepanjang jalan. Dari kejauhan hanya terlihat sebuah bangunan kubah berwarna keperakan diujung bukit dan baru tahu bahwa itu yang selama ini saya cari….Observatorium Bosscha. It’s ironic!

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.
Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia hingga saat ini.

Ketika kami memasuki area perbukitan tidak tampak penunjuk jalan yang memadai sehingga kami harus bertanya kepada penduduk setempat. Yang terpasang kini spanduk bertulisankan penjualan kavling tanah/rumah diarea perbukitan Lembang. Ironis sekali karena perbukitan diLembang kini sudah hampir gundul dan digantikan oleh bangunan rumah atau bahkan perkebunan sayur/buah-buahan.

Sampailah kami dipintu masuk Bosscha dan seorang petugas satpam menghampiri kami serta menyapa kami berdua. Ia memberikan selembar kertas fotokopian yang berisi tentang informasi jadwal kunjungan. Kunjungan pada siang hari dikelompokkan menjadi 3 sesi dengan pengaturan sbb:
• Sesi 1 : 09.00 – 10.00.
• Sesi 2 : 12.00 – 13.00
• Sesi 3 : 15.00 – 16.00

Sementara jadwal kunjungan pada malam hari ditentukan berdasarkan fasa bulan dan dikeluarkan setiap awal tahun. Untuk paket kunjungan siang hari (perlu perjanjian) min. 25 orang dan max. 200 orang dengan biaya Rp 5,000/orang sementara pada malam hari dikenakan biaya Rp.10,000/orang/kunjungan sambil menikmati tour teleskop Zeiss. Dan untuk jadwal kunjungan sudah penuh hingga bulan Oktober 2009…….wow!! Beruntunglah bagi mahasiswa ITB fakulti astronomi karena hanya mereka yang bisa menikmati layanan teleskop Zeiss untuk penelitian tanpa harus mengantri jadwal kunjungan.

Jadi saya hanya bisa menikmati bangunan Observatorium dari halamannya saja tanpa bisa masuk kedalam dan menikmati teleskop Zeiss tersebut. Padahal terdapat 5 buah teleskop didalam bangunan observatorium tersebut. Suasana sangat sepi sekali siang itu tanpa ada satu pengunjung sedikitpun. Ada suasana magis disekeliling bangunan yang tidak bisa saya gambarkan disini, padahal tamannya cukup menarik dengan bunga tropis yang berwarna warni.

Pada bagian depan kawasan Bosscha terdapat sebuah obelisk yang bertuliskan K.A.R. Bosscha dan tahun 1923, sepertinya sebuah tugu peringatan bahwa observatorium tersebut dibuat oleh jasa beliau dimasa hidupnya. Sayang kini kawasan Lembang tidak seindah dulu ketika langit masih cukup terang dan bersih untuk mengamati pergerakan bintang diangkasa. Kawasan tersebut kini sudah penuh dengan bangunan dan terang oleh lampu perumahan, padahal Bosscha merupakan observatorium didaerah khatuliswa di Asia dan yang tertua di Asia Tenggara. Keindahan Bosscha suatu saat nanti tinggal kenangan belaka….sudah seharusnya pemerintah membuat sebuah observatorium yang besar dan lengkap serta bebas polusi cahaya disebuah kawasan yang dekat dengan garis khatulistiwa.

Friday, December 5, 2008

Bandara Internasional Hasanudin




Bandara terbaik di Indonesia saat ini dari segi desain, bandara ini baru saja diresmikan pada bulan Agustus 2008 lalu. Yang patut dibanggakan yaitu hasil karya anak bangsa dalam mengerjakan bandara yang terlihat minimalis dan elok ini.

Sekilas bandara ini mirip dengan KLIA di Malaysia atau Svarnabhumi di Bangkok, rencana selanjutnya bandara ini akan dikembangkan hingga mencapai kapasitas 33 buah pesawat ditahun 2011. Yang perlu diperhatikan oleh pengelola bandara ini adalah kebersihan, ketertiban dan juga fasilitas internet serta penambahan cafe atau restoran yang memikat. Mengingat bandara ini menjadi transit bagi sejumlah penerbangan untuk menuju ke wilayah lain di Indonesia bagian timur...

I like the design.....karena menggunakan penerangan cahaya matahari diwaktu siang hari...diwaktu malam pendar lampu cukup indah untuk dinikmati..walau fasilitas hiburannya minim. Tips: membawa sejumlah buku/majalah untuk menghabiskan waktu tunggu...

Bandara Kuala Namu - the design




Bandar Udara Internasional Kuala Namu adalah sebuah bandar udara baru untuk kota Medan, Indonesia. Lokasinya merupakan bekas areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa, terletak di Kuala Namu, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang. Kuala Namu akan menggantikan Bandara Polonia yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Saat selesai dibangun, Kuala Namu yang diharapkan dapat menjadi bandara pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatra dan sekitarnya, akan menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta.

Pembangunannya direncanakan akan dilaksanakan sepanjang tiga tahap.Tahap I dimulai pada 29 Juni 2006 dan selesai pada tahun 2009 atau paling lambat 2010. Tahap ini dibangun sendiri oleh pemerintah dengan PT. Angkasa Pura II, dengan pembagian berupa sisi darat (misalnya terminal, areal parkir) dibangun Angkasa Pura sementara sisi udara dibangun Direktorat Jenderal Udara dari Departemen Perhubungan. Dana untuk pembangunan Tahap I terdiri dari Rp. 1,3 triliun dari Angkasa Pura dan dana pinjaman sebesar Rp. 2,3 triliun sehingga jumlahnya adalah Rp. 3,6 triliun.Prasarana awal berupa pemagaran panel beton, rehabilitasi jalan, dan pembuatan pos jaga senilai Rp 6 miliar dilakukan dari November 2006 hingga Februari 2007.Pada akhir November 2006 juga diumumkan pemenang tender untuk tim perancang bandara. Dari 18 peserta, tujuh telah melewati proses prakualifikasi dan akan bersaing hingga dipilih tiga peserta terbaik, yang jumlahnya selanjutnya diciutkan lagi menjadi satu. PT. Wiratman & Associates kemudian terpilih sebagai pemenang tender perancangan bandara pada Januari 2007.Setelah itu, pemenang diberi waktu delapan bulan untuk merancang bandara (hingga Agustus 2007). Setelah proses ini selesai, tender pembangunan bandara yang diperkirakan akan berlangsung selama dua bulan akan dilaksanakan. Jika sesuai jadwal, maka pembangunan sisi darat akan dimulai pada November 2007 dan diselesaikan dalam dua tahun.Tahap II yang direncanakan dibangun bersama oleh pemerintah dan investor, akan dimulai tahun 2010.

Pembangunan Tahap I disertai pula oleh pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Aras Kabu di Kecamatan Beringin ke bandara yang berjarak sekitar 450 meter. Stasiun Aras Kabu sendiri terhubung ke Stasiun Medan dengan jarak 22,96 km. Diperkirakan jarak tempuh dari Medan hingga Kuala Namu akan berkisar antara 16-30 menit.

Ada pula usulan pembangunan Jalan Tol Medan-Kuala Namu sebagai usaha pengembangan prasarana transportasi dari dan ke bandara. Namun pelaksanaan pembangunan selama periode pembangunan jalan tol tahun 2005 - 2010 belum dikabulkan oleh pemerintah pusat.