Wednesday, October 12, 2011

Penang, Bangkok, Phuket - Part Two

Bangkok, 7 Oct 2011 - Selepas dari Bandara Penang kami tiba di Bandara Svarnabhumi, Bangkok Thailand pukul 07.00 malam. Bandara yang baru diresmikan 3 tahun lalu ini bisa menampung 30-40 juta penumpang setiap tahunnya. Arsitektur bandara ini sangat ramah lingkungan dengan sinar matahari yang bisa mengurangi lampu disiang hari dan sangat luas sekali. Sebenarnya hampir mirip dengan bandara Soekarno Hatta tapi dengan sentuhan modern dan menyatu menjadi one stop airport. Antara terminal internasional dan domestik menyatu, sehingga memudahkan penumpang untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Selesai mengambil bagasi, kami segera menuju ke Express Rail Link yaitu lintasan kereta bawah tanah dari/ke kota Bangkok menuju ke/dari bandara Svarnabhumi. Tarifnya yang cukup murah yaitu Baht 150 untuk tiket return dan Baht 90 untuk oneway. Return ticket adalah yang terbaik dan termurah, dan kami segera menunggu kereta yang berangkat menuju kota Bangkok setiap 1 jam sekali. Tapi sayangnya tidak disediakan tempat duduk seperti di Singapore, jadi kami harus duduk lesehan dilantai marmer yang dingin sambil menunggu kereta tiba. Express Link ini akan berhenti di Stasiun Makassan ditengah kota Bangkok dan ditempuh selama 15 menit, lebih cepat dari mobil melewati jalan tol yang macet menuju kota Bangkok.

Jangan lupa untuk membeli sim card True Move pas dibandara selama di Bangkok, ada paket untuk Blackberry selama 3 hari senilai 199 Baht sudah termasuk sim card, pulsa, bisa telepon dan sms international. Jadi lebih murah dibanding pakai sim card dari Indonesia. Beli dan pakai ini saja buat update status di BB dan kirim SMS ke Indonesia. Ada counter khusus di terminal kedatangan dibandara Svarnabhumi.

Kota Bangkok terkenal dengan kemacetannya seperti di Jakarta. Sesampainya di stasiun Makassan, decak kagum segera membuat saya terdiam. Stasiun ini begitu besar dan bersih serta sangat modern. Dari stasiun ini kami berjalan kelantai 3 dan keluar stasiun menuju ke hotel. Di Bangkok pun ada tukang ojek ternyata, cuma bedanya tukang ojek dikota ini memakai jaket bernomor. Kami pun ditawarin naik ojek tetapi jarak dari stasiun ke hotel sangat dekat, hanya 15 menit berjalan kaki.

Trotoar dijalanan kota Bangkok sama seperti Jakarta, sering digunakan pengguna motor untuk melawan arus macetnya kota Bangkok. Saya jadi merasa di negri sendiri, tidak ada perbedaan perilaku terhadap pengguna motor dan pejalan kaki di trotoar.

Sesampainya di Hotel FX Makassan yang bertarif Baht 900 permalam ini, saya mendapati kamar dengan 1 double bed dan 1 single bed...wow jadi bisa muat untuk 3 orang. Pilihan menarik untuk berlibur bersama teman-teman nantinya dikota Bangkok. Cukup satu kamar muat 3 orang, kamarnya bagus dan dilengkapi dengan AC, safe deposit box, LCD TV dan kamar mandi yang nyaman dengan air panas.

Selepas beristirahat, kami segera menikmati malam dikota Bangkok. Dari hotel ini kita cukup berjalan kaki 10 menit menuju kereta bawah tanah di stasiun Petchaburi. Saya jadi iri dengan kota Bangkok yang macet ini, pilihan transportasi mulai dari MRT, LRT, Busway, Riverbus, taxi dan ojek..semuanya tersedia. Bus di kota Bangkok sama seperti di Jakarta, ada yang bagus ala busway dan bahkan yang jelek ala Kopaja atau Metromini. Bahkan bus tua tersebut tanpa jendela,...kebayang kalau hujan deras, kasihan penumpangnya. Taxi disini ada yang berwarna pink dan sepertinya seragam serta mereka memakai argo meter tidak seperti di Penang. Tanpa argo.

Memasuki stasiun kereta bawah tanah ini, eskalator berjalan dengan  cepat sehingga kalian yang tidak terbiasa harus berhati-hati agar tidak jatuh. Dan khususnya bagi orang tua, akan sangat membahayakan, sehingga saya jarang melihat penumpang yang sudah tua, rata2 anak-anak muda dari umur 10 - 45 tahunan. Keamanan cukup ketat memasuki, harus melewati detector machine dan diperiksa tasnya oleh petugas walaupun kalian membawa koper, harus dibuka. Bagus sekali dan membuat penumpang nyaman.

Tiket MRT dibeli dengan harga sangat murah sekitar Baht 20 - 40 oneway, untuk bulanan pun bisa dan bahkan bisa dibeli melalui ticket machine sama seperti di Singapore or Kuala Lumpur. Jakarta kapan ya bisa???? Woii bung kumis...kerja donk jangan molor melulu jadi gubernur, kagak malu apa sama Bangkok...huftt

Setelah kita membayar tiket sesuai tujuan, akan diberikan koin plastik yang mengandung magnet, cukup ditempelkan dipintu masuk dan secara otomatis akan terbuka. Jangan lupa dimasukan koinya ke kantong dan simpan baik-baik untuk jalan keluar stasiun nantinya, jangan sampai hilang...bisa ribet kalau hilang karena dinegara orang dan kena denda.

Keretanya sangat bersih dan informasi sangat jelas, dari stasiun petchaburi menuju ke stasiun Silom ditempuh selama 10-15 menit saja. Dan kereta berhenti dengan mulus...sekali lagi iri.com karena membayangkan busway berhenti seperti naik Kopaja. Untuk keluar stasiun, cukup memasukkan koin magnet kedalam pintu keluar dan selesai. Ternyata dari stasiun Silom ini bisa sambung ke stasiun LRT menuju kerute lainnya.

Dari Stasiun Silom, kami bertiga menelusuri malam kota Bangkok, jangan lupa hati-hati dengan copet. Jadi harus waspada dan sekali lagi trotoar di kota Bangkok sama seperti di Jakarta, dipakai para penjaja makanan kaki lima sampai pedagang baju, dll. Ramai tapi rapi....pedagang diberikan akses berjualan dan menjadi tempat wisata, walau sampah dimana-mana. Mereka juga membuat sampah dikantong plastik yang diikat dan ditempatkan dibawah pohon pelindung, serta pedagang makanan membuang air kotoran dipedestrian...sama persis seperti di Jakarta...Oh I Love Bangkok, serasa dikota sendiri...hehehee

Dari sini kita bisa menikmati hiburan malam esek-esek ala kota Bangkok, para penjaja sex dengan santainya menjajakan diri disepanjang jalan. Ada germo (maaf) yang membawa kertas laminating dengan foto-foto perempuan siap pakai begitu harga disetujui. Tapi dari internet, saya mendapatkan kabar untuk berhati-hati didaerah ini karena cukup rawan dan jangan sembarangan menawar kecuali anda tertarik.

Kawasan Patpong adalah kawasan lampu merah dikota Bangkok, sejumlah bar menjajakan berbagai macam kesenangan duniawi bagi para pria-pria nakal dan dari luar kita bisa melihat wanita-wanita setengah telanjang menari meliuk-liuk ala stripter. Turis-turis bule pun banyak berkumpul baik pria maupun wanita. Kami hanya menikmati dari luar karena Bangkok terkenal akan penyebaran HIV Aids terbesar di Thailand serta mafia-mafianya dikawasan ini.

Kami pun masuk ke pasar malam Patpong, melihat pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam barang mulai dari kaos Thailand, jam, topi, lukisan hingga sex tools. Mereka dengan bebas menjual peralatan sex seperti menjual peralatan lainnya disisi jalan tanpa takut ditangkap polisi. Bangkok juga terkenal akan polisi yang korup dan sama seperti di Jakarta...selama ada uang, bisnispun aman.....

Disini saya membeli lukisan serta jajanan ala Bangkok yaitu gorengan isi bakso ikan, udang,dan cumi seharga hanya Baht 20 isi 3 tusuk sate bakso ikan. Untuk buah-buah potong segar dihargai Baht 20 serta kelapa muda Thailand dihargai Baht 40. Tapi hanya satu pedagang yang menjual durian Bangkok dan harganya sedikit lebih murah dibanding di Jakarta.

Mencari makanan halal di Bangkok harus benar-benar serius, jangan malu untuk minta menu ayam atau ikan kepada sipedagang makanan. Mereka akan menunjukkan menu halal. Sudah pukul 11.00 malam dan segera bergegas ke hotel karena MRT akan tutup pukul 11.30 malam...

Pagi hari pukul 08.00, saya sudah berada direstauran dan minta paket menu seharga Baht 180 untuk satu set makanan udang goreng dan kopi. Sangat murah dibanding makan pagi di Penang dan rasa makanan Thailand sangat pas sekali buat saya dibanding nasi kandar yang terlalu banyak rempah. Makanan Thailand gabungan antara asam, manis dan pedas sehingga sangat pas buat orang Indonesia. Feels like home...

Jumat pagi sama seperti di Jakarta, jutaan penduduk Bangkok bergegas menuju ke kantor, kemacetan dimana-mana. Bahkan di trotoar yang malamnya tidak ada pedagang makanan, kini berdiri sebuah gerobak dorong dan menjual mie serta ayam goreng. Pengunjung makan ditrotoar dengan bangku plastik. Beberapa wanita Thailand yang cantik-cantik tersenyum kepada saya, sepertinya mereka menganggap saya orang Thai....hehehehe. Lumayan dapat senyuman gratis...

Kembali ke stasiun MRT dan menuju ke stasiun Silom, dan kali ini harus naik kereta MRT berhimpitan dengan penduduk Bangkok yang mau berangkat kerja atau sekolah. Berhenti di Silom, naik ke lantai dua menuju ke stasiun LRT menuju River Boat Chao Praya. Di stasiun ini, sistimnya kita menukar uang logam di counter kemudian menuju ke ticket machine, caranya : pilih statsiun yang dituju dan ada nomornya, misalkan no. 25 untuk ke river boat, kemudian masukkan koin seharga Baht 20, dan akan keluar otomatis kartu magnet untuk masuk ke stasiun.

Beberapa orang Thailand pun sering bingung karena belum terbiasa seperti saya, jangan salah tekan nomor stasiun karena uang anda tidak bisa kembali. Hanya 10 menit naik LRT, dan kami sudah tiba distasiun river boat disisi sungai Chao Praya. Tiket river boat senilai Baht 30 sekali pergi, dan sepertinya air sungai baru meluap malamnya sehingga berkarung-karung pasir dijejer disepanjang sungai. Pagi itu puluhan wisatawan asing sudah mengantri.

Sungai Chao Praya sangat lebar seperti sungai Mahakam di Kalimantan sungai di Palembang. Airnya berwarna coklat dan beberapa sampah terapung terdapat diatasnya. Dari atas ferry boat ini, kita bisa melihat Venice from the East, Bangkok dengan kanal-kanalnya, rumah-rumah pinggir kali seperti di Indonesia, gedung tinggi disisi sungai...hebatnya tempat ini dijadikan wisata, di Indonesia...biasa aja kaleee....sampe pejabat nggak mikir...

Saya berjumpa dengan 4 wisawatan dari Bali yang juga berkunjung, ketika hampir sampai di Grand Palace - Wat Arun, kita harus berhati-hati karena stasiun boatnya biasa saja. Dan jangan sampai terantuk kayu palang distasiun boatnya.

Dari stasiun boat, berjalan kaki 5 menit kita bisa menemukan pasar kecil yang berjualan souvenir, makanan, ikan segar dan sayuran. Pasar tua ini sudah berdiri seratus tahun yang lalu dan diujung pasar, kita bisa masuk ke Wat Po - Kuil Budha disamping Istana Raja.

Tiket masuk ke Wat Po senilai Baht 15 perorang dan pengunjung dilarang memakai celana pendek. Jadi memakai jeans atau celana panjang adalah keharusan seperti ketika memasuki pura di Bali. Kuil Budha ini sangat cantik dan beberapa diantaranya berlapis emas. Patung Budha berlapis emas 24 karat dan sedang tiduran sepanjang 20 meter menjadi tontonan utama di kuil ini. Ketika memasuki kuil, pengunjung harus melepas sepatu atau sandal. Ruang yang sempit, sehingga kami harus bergantian untuk berfoto diantara wisatawan asing lainnya, terutama wisawatan dari India yang pagi itu memenuhi ruangan dan ribet sekali.

15 menit didalam ruangan kuil, kami memasuki pelataran kuil yang cukup luas dengan dihiasi pagoda yang dilapisi keramik dan patung-patung mitologi Thailand. Sangat bersih dan terawat, itu adalah kesan pertama saya. Secara arsitektur hampir mirip dengan lokasi istana raja di Jawa, dekat dengan keraton pasti ada tempat peribadatan....di Jawa ada Masjid dan di Thailand ada kuil Budha.

Next trip adalah Grand Palace, istana raja ini dikelilingi tembok istana berwarna putih dan sangat luas, sama seperti keraton di Yogyakarta dan di Solo. Sepertinya sejarah panjang yang membuat dua keraton ini hampir mirip. Bedanya keraton Yogya tampak sangat sahaja dan mistis, ada suasana yang berbeda ketika memasuki keraton. Sementara kerajaan Thailand sangat megah, warna kuning emas meliputi sebagian besar arsitektur. Warna emas adalah warna kerajaan, karena emas adalah lambang kehebatan seseorang..lambang keagungan. Jadi tidak aneh warna kuning adalah warna Sang Raja di Thailand.

Raja dan Ratu di Thailand sangatlah dihormati sehingga tidak aneh disepanjang Grand Palace, khususnya perkantoran pemerintah, foto raja dan ratu harus dihias dengan begitu indah. Begitulah cara orang Thailand menghormati The Royal Family.

Grand Palace baru buka pukul 12.45 sehingga kami memutuskan naik tuk-tuk, alias bajaj ala Bangkok. Seperti tertulis di buku wisata, naik tuk-tuk di Bangkok harus harus hati-hati karena akan dikerjai oleh si driver. Kami pun naik tuk-tuk menuju Wat Arun, dan si tukang tuk-tuk bilang kalau ke wat arun tidak bisa naik boat, harus mutar dulu selama 1 jam naik ferry boat. Padahal kami sudah tahu bahwa dari tempat kami turun naik boat, cukup menyebrang naik boat saja sudah tiba di wat arun temple. Akal bulus tukang tuk-tuk membawa kami ke sebuah jalan buntu dengan ujung sungai dan seseorang sudah memegang paket wisata naik ferry mengelilingi sungai Chao Praya. Sekali lagi tukang tuk-tuk akan mendapatkan fee bila kami membeli paket wisata tersebut.

Kami pun menolak dengan halus dan membayar Baht 30 untuk naik tuk-tuk. Dan selanjutnya kami berjalan kaki menuju pasar depan Wat Po untuk nyebrang naik boat ke Wat Arun. Ada hikmahnya, karena kami menemukan pedagang penjual souvenir dan makanan khas Thailand dengan harga murah. Khusus untuk souvenir, harus ditawar dan sementara untuk makanan sudah harga pas. Tapi lebih murah dibanding beli di hypermarket dikota Bangkok.

Boat untuk ke Wat Arun seharga Baht 3 perorang/oneway, Wat Arun sebuah kuil Budha yang dibangun diatas bukit kecil setinggi 30 meter dan dihiasi keramik cantik, usianya pun sudah ratusan tahun. Tiket masuk Wat Arun senilai Baht 30/orang dan kita bisa naik hingga ke atap menara pagodanya kalau sanggup. Harus hati-hati ketika naik anak tangganya apalagi abis hujan. Disamping Wat Arun sebelah kiri pintu masuk, ada pasar souvenir...disinilah pasar mini ala sukawati. Pedagang souvenir disini bisa bahasa Indonesia, dan bahkan harganya pun ditulis dalam bahasa Indonesia. Jadi jangan kuatir, Anda bisa membeli dan menawar souvenir mulai dari kaos, tas, kalung, cincin, gelang, hingga hiasan dinding bordir khas Thailand dengan harga sangat murah. Puluhan wisatawan Indonesia berburu souvenir disini. Jadi jangan lewatkan pasar souvenir Wat Arun kalau ke Bangkok buat belanja oleh-oleh.

Ketika menyebrang ke Wat Arun, air sungai meluap dan sangat besar. Beberapa boat SAR pemda Bangkok melewati sungai ini, dan arus sungainya sangat mengerikan sehingga membahayakan penumpang. Siang itu, angkatan laut Thailand melarang ferry ke pusat kota Bangkok. Sehingga kami harus merubah rute naik taxi argo ke stasiun pusat Hua Lamphong. Naik taxi hanya 60 Baht saja menuju ke stasiun ini dan kami lanjutnya dengan MRT ke petchaburi station menuju ke hotel. Disepanjang perjalanan naik taxi, kami bisa melihat kawasan toko yang menjual peralatan ibadah umat Budha, patung Budha dari kuningan yg ukuran besar dibungkus dengan kain warna Oranye seperti kain para biksu Budha. Bahkan dijual patung Budha dari emerald...wow...jadi pengen bawa...hahaha, mikir gimana bawanya....

Pukul 03.00 sore kami sudah tiba dihotel beruntung kami mendapatkan hotel yang dekat kemana-mana dan dibeli lewat www.agoda.com jadi lebih murah harganya. Masih ada waktu 5 jam lagi di Bangkok sebelum berangkat ke Phuket naik pesawat. Kami berpencar dan berkumpul dihotel jam 6 sore, Waktu 3 jam, saya gunakan untuk ke Siam Paragon dengan naik MRT menuju ke Silom dan pindah naik LRT ke Siam Paragon.

Siam Paragon seperti mal Senayan City, dan sepertinya mal ini jadi tempang nongkrongnya anak muda Bangkok. Begitu hips dan beragam barang branded dijual disini, makanan fast food tersedia di mal ini. Cuma buat apa saya ke mal, akhirnya saya memutuskan ke Siam City dan menuju ke lorong penjual baju. Konon, harga baju dikota Bangkok sangatlah murah dan saya diberitahu bahwa Platinum Mall di pratunam street sangat murah. Cuma sayang tidak ada kereta ke pratunam dan bahkan saya ditawari ojek. Tapi karena saya harus menukar US dollar ke baht jadi harus mencari money changer terdekat, yaitu Bangkok Bank. 1 US setaraf 31 Baht. Lebih mudah menukar USD dibanding rupiah ke baht dibangkok, harga rupiah akan sangat jatuh sekali. Di Jakarta 1 baht senilai Rp 291, dibangkok 1 Baht = Rp 270-281. Jadi lebih baik tukar baht atau USD di Jakarta.

Harga baju hanya 1/3 dari harga di Jakarta, jadi pintar-pintarlah menawar dan memang barang-barangnya sangat beragam dan menggoda dompet. Dompet kulit untuk paspor hanya seharga 150 Baht satu buah, sementara di Jakarta bisa Rp 250.000 - 3000.000. Tas dan sepatu buat pria sangat menggoda iman, kalau tidak mikir besok masih ada perjalanan, sudah pengen belanja saja. Huftt....

Pukul 05.30 sore sudah sampai dihotel dengan tas koper yang bertambah beratnya dan pasti overweight dibandara. Sebelum berangkat ke bandara, saya makan dulu dan setelah itu berjalan kaki 15 menit ke stasiun Express Link tanpa harus membayar lagi kebandara. Bangkok, I will come back.......

Penang, Bangkok, Phuket - Part One

Jakarta - 6 Oktober 2011, the trip had been planned 4 months ago. Berawal dari penawaran murah airasia dengan rute Jakarta - Penang return kemudian berkembang menjadi Penang - Bangkok - Phuket overland. Tetapi karena faktor hari yang tidak terlalu panjang akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan pesawat airasia Penang - Bangkok, Bangkok - Phuket serta overland by bus Phuket - Penang.

Jadwal pesawat yang terlalu pagi membuat saya harus siap bangun jam 3.30 dan harus sudah tiba dibandara Soekarno Hatta pukul 04.30, beruntung saya sudah melakukan web check in sehingga tidak terlalu buru-buru. Sesampainya dibandara saya hanya mengurus bagasi dan tentu dengan tambahan harga Rp 150,000 melalui web.

Jam 05.30 kami take off dan tiba dibandara Penang International Airport pukul 09.00 - satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia Bagian Barat. Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Penang Island, sebuah pulau kecil dibagian barat Malaysia. Pulau Penang terkenal untuk berobat bagi warga Indonesia khususnya mereka yang tinggal di pulau Sumatera. Dan bahkan berobat dipulau ini lebih murah dibanding harus ke Singapore. Tidak aneh ketika saya tiba, beberapa petugas bandara sedang bersiap-siap memasukan penumpang dengan kursi roda, salahsatu fasilitas dibandara tersebut.

Bandara ini sedang dalam masa renovasi dan akan selesai diakhir tahun 2011 ini dan saya salut dengan pemerintah Malaysia sehingga membuat pulau kecil ini ramai dengan maskapai asing seperti pesawat Cathay, China Airways, Sriwijaya Air, dll. Bagaimana sebuah pulau kecil ini bisa menarik wisawatan asing untuk berkunjung? 40% wisawatan khusus untuk berobat disejumlah rumah sakit berstandar internasional, 20% untuk bisnis dan 40% tentu untuk wisata.

Selesai keluar dari imigrasi dan bagasi, kami segara bergegas keluar untuk mencari taxi. Sementara dibrosur pariwisata kami bisa menggunakan bus bandara ke Georgetown, kota kami selanjutnya. Tetapi tidak satupun Rapid Penang yang terlihat sehingga kami harus meneruskan perjalanan dengan taxi bandara senilai RM 45.

Perjalanan dari bandara Penang ke Georgetown membutuhkan waktu 30 menit saja. Sepanjang perjalanan kami dihibur dengan pemandangan gedung apartemen serta jembatan terpanjang di Malaysia yang menghubungkan kota Georgetown dengan Butterwoth disemenanjung Malaya.

Memasuki kota Georgetown, pemandangan berganti dengan perumahan kuno berarsitektur Peranakan Cina dan Eropa. Beberapa bangunan sangat terawat karena dijadikan hotel/motel bertarif terjangkau tetapi ada juga yang dibiarkan rusak dimakan usia. Taxi kami berhenti di Jalan Love Lane disebuah penginapan kecil bernama Civillian's Inn seharga Rp 100,000/malam.

Kerana kami hanya punya waktu hingga jam 5 sore waktu Penang, sehingga tidak perlu harus menginap dihotel yang mahal. Dihotel tersebut terlihat beberapa turis asing yang sedang check in, receptionist menerima kami dengan ramah dan menunjukkan kamar. Kamar seukuran 3 x 4 m yang dilengkapi fan tanpa ada TV or AC dan bahkan kamar mandi didalam. Tak apa, karena kami hanya membutuhkan kamar untuk menyimpan tas dan ganti baju. Dari Civillian's Inn kami berjalan kaki untuk mencari makan pagi.

Makanan halal adalah pilihan kami mengingat banyaknya kaum peranakan dikota ini sehingga kami harus memilih makanan yang halal dan salahsatunya yaitu Nasi Kandar. Nasi Kandar seperti makanan Padang tetapi dengan bumbu yang lebih kuat menyerupai masakan timur tengah. Direstoran ini, kita bisa memilih berbagai macam menu mulai dari nasi campur hingga roti prata. Menu nasi campur saya dengan cumi rebus dan bumbu kari seharga RM 10, cukup mahal buat saya.

Selesai makan pagi, kami bertiga harus berwisata dan salahsatunya yaitu Penang Hill. Dari Georgetown kami mempunyai 2 pilihan yaitu dengan taxi atau bus Rapid Penang nomor 204. Kekurangannya dari kota ini yaitu halte bus dan informasi bus nomor berapa yang harus kami tumpangi. Sehingga Anda harus proaktif mencari di internet. Bus Rapid Penang bahkan bisa berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang dimana saja, walau kadang mereka tidak berani sembarangan khususnya ditempat-tempat yang terbuka.

Akhirnya taxi adalah pilihan kami, dari Georgetown ke Penang Hill harus dibayar RM 25 dengan jarak tempuh hanya 15 menit saja mengingat kota ini tidak besar jadi bisa ditempuh dengan singkat. Penang Hill salahsatu tourist attraction yang paling terkenal dikota ini, sebuah tempat pelesiran para bangsawan Inggris disebuah puncak bukit. Dan yang paling menarik adalah kereta bergerigi menuju kepuncak bukit tersebut yang dibuat pada tahun 1920an. Bukit setinggi 700 m tersebut harus ditempuh selama 10 menit dengan kereta listrik bertekhnologi modern. Kereta listrik tersebut baru saja selesai direnovasi.

Harga RM 30 untuk turis asing untuk return ticket cukup mahal, mengingat untuk warga Malaysia hanya membayar RM 8 saja/orang/return. Hari itu tidak terlalu ramai pengunjung, kereta semakin lama semakin mendaki dan apabila Anda takut ketinggian disarankan jangan mencoba karena kereta akan berjalan dengan kemiringan 45 - 50 derajat menuju kepuncak bukit. Ada beberapa pemberhentian buat masyarakat lokal dan digratiskan khusus bagi mereka yang tinggal dibukit tersebut.

Beberapa vila kuno terlihat diantara rerimbunan hutan hujan tropis yang masih terawat. Pulau Penang masih dikelilingi bukit dengan hutan tropis sehingga membuat pulau ini masih mempunyai kadar polusi yang minim. Perpaduan antara kawasan pantai yang panas dan bukit yang sejuk membuat kontras. Apalagi dengan ketinggian yang tiba-tiba, kuping Anda akan berdengung karena tekanan oksigen yang berbeda.

Sesampainya dipuncak bukit yang disebut dengan Bukit Merdeka, kami segera berjalan kaki melihat kota Penang dari puncak. Jembatan terpanjang di Malaysia terlihat dengan jelas dan bahkan semenanjung Malaya. Udara segar segera berhembus dan membersihkan paru-paru kami. Beberapa kanak-kanak sekolah Malaysia sedang berdarmawisata kebukit merdeka ini. Dan dipuncak bukit ini tidak ada sesuatu yang menarik kecuali sensasi menaiki kereta dengan kemiringan 45 derajat dan city view from the top. Dipuncak bukit terdapat sebuah kuil Hindu dan Masjid, disini kami segera menuju ke kios untuk makan dan minum.

ABC atau Air Batu Campur alias Es Campur kalau di Indonesia...berisi es serut dengan ice cream, kacang merah dan siraman sirup. Bahkan ada menu Indonesia yaitu mie Jawa, mie Bandung dan Es Cendol, saya memesan mie bihun Singapore dan teman saya memesan nasi goreng serta nasi lemak serta satu es cendol. Es Cendol disini terasa aneh karena menggunakan gula jawa, cendol dan juga sirup jagung sehingga rasanya tidak karuan. Es Cendol ala Bandung atau Banjarnegara masih yang terbaik, tidak ada yang mengalahkan taste of Indonesia. We are the best in cuisines.

Setelah beristirahat kami bergegas turun dengan kereta listrik dan mendapatkan bagian paling ujung, paling menantang adrenaline kami. Karena dengan kemiringan 45 derajat dibawah kami, dengan jelas kereta ini berjalan dan rasanya membuat jantung berhenti sekejap. Alhamdullilah kami sudah tiba distasiun dan perjalanan  dilanjutkan ke Kuil Budha - Kuan Yin Temple.

Jarak dari Penang Hill ke Kuan Yin Temple bisa ditempuh selama 10 menit dengan taxi dan berjalan kaki 30 menit. Dengan taxi adalah pilihan terbaik dan sekali lagi kami harus naik taxi dan menawar karena tidak ada satu taxipun yang menggunakan argo meter. RM 50 adalah harga yang harus kami bayar dari Penang Hill - Kuan Yin Temple - Hotel. Supir taxi kami mau menunggu selama 30 menit ketika kami berkunjung ke kuil Budha ini yang berada di bukit sebelahnya.

Di sepanjang jalan menuju Kuan Yin Temple banyak ditemukan Chinese Restaurant dan tentu ada menu halal serta non halal. Kuil Budha ini cukup luas dengan sebuah patung Dewi Kuan Yin atau Kuan Im di Indonesia. Disepanjang pintu masuk terdapat beberapa pengemis peranakan yang meminta belas kasihan pengunjung, uang receh bisa digunakan untuk memberikan mereka sedekah. Untuk menuju ke puncak Dewi Kuan Yin setinggi 20 meter, bis ditempuh dengan taxi atau inclinator (kereta listrik) dengan kemiringian 45 derajat seharga RM 2 untuk return. Inclinator ini mengingatkan saya ketika berkunjung ke Ayana Rock Bar di Bali.

Dari puncak bukit ini kita bisa melihat patung Dewi Kuan Im yang sedang direnovasi serta pemandangan city view. Bagi saya kuil Budha ini tidak terlalu menarik kecuali sensasi inclinator dan patung raksasa Dewi Kuan Im, selebihnya hanya buatan manusia serta ruang untuk bermeditasi kepada Yang Kuasa bagi pemeluk Budha.

Kami segera turun kembali ke hotel dan sepanjang jalan kami bisa melihat begitu banyak gereja dibanding masjid. Betul...Pulau Penang adalah salahsatu kota multi etnis yang didiami Melayu, Cina dan India. Dan sejarahnya yang panjang membuat agama Kristen berkembang pesat dan bahkan komunitas Kristen terbesar di Malaysia Barat ada ditempat ini. Mereka hidup dengan damai.

Sesampainya dihotel, saya menyempatkan diri untuk membasuh badan di sharing bathroom dengan handuk hotel serta perlengkapan mandi lainnya. Pukul 05.00 sore kami harus sudah tiba di bandara Penang untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Taxi dari hotel menuju kebandara senilai RM 35, lebih murah dibanding sebelumnya. Penang, sebuah kota kecil yang sarat sejarah...dan saya akan kembali lagi untuk menikmatinya...I will be back..

Wednesday, September 7, 2011

The Burning Stadium




Ketika semua orang berteriak dan menyalahkan para penonton, apakah para penguasa negri ini saat ini sudah sadar hukum? Kami rakyat kecil selalu mengikuti apa kata dan tindakan para pemimpin bangsa ini. Dimulai dari penguasa Gelora Bung Karno yang seharusnya menunjukkan his Golden Fingers untuk menyuruh anak buahnya dan pihak kepolisian menggeledah dengan ketat isi tas dan jaket para penonton sepakbola.

Jangan salahkan rakyat apabila para pemimpinnya juga tidak peduli dengan hal-hal kecil yang sebenarnya penting dan bahkan bisa dikatakan berbahaya. Tadi malam ketika saya tiba di stadium kebanggaan bangsa ini, saya sempat tertegun betapa megahnya stadium ini. Ketika memasuki stadium ada beberapa penjaga dan petugas kepolisian, mereka hanya memeriksa tas seadanya saja. Bahkan ketika saya membawa air minum mineral, tidak dirampas oleh petugas. Padahal beberapa orang dirampas botol air mineralnya dan sementara saya bebas melenggang masuk. Mungkin tadi malam saya masih pakai kemeja kerja rapi dan tas ransel kantoran.

Begitu memasuki tangga masuk dengan nafas terengah-engah menaikin tribun 2, dinding grafiti menyambut saya. Ternyata hanya bagian luar stadium saja yang dicat agar terlihat rapi menjelang Sea Games 2011 di Jakarta dan Palembang. Kepalsuan seperti kerap terjadi dinegeri ini, dari luar tampak begitu indah dan baik-baik saja. Ketika tahu dalamnya, baru kita sadar bahwa masih banyak yang harus dibenahi dinegeri ini.

Dengan berlari kami memasuki tribun 2 dekat dengan layar lebar dan dalam waktu 30 menit kemudian permainan sudah akan dimulai. Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dipenjuru stadium, rasa bangga dan terharu melihat ribuan rakyat ini masih sangat mencintai merah putih tanpa memandang bulu apakah dia pribumi atau non pribumi, tua muda, tanpa sekat agama atau tanpa sekat kepartaian tertentu. Kami bersatu menghormati bendara Merah Putih dan lagu kebangsaan negri kami demi Sang Garuda menuju Road to Brazil 2014.

Dan setelah lagu kebangsaan berakhir, beberapa pengunjung mulai menyalakan suar (flare) dan petasan dibeberapa titik stadium. Asap dari suar (flare) sungguh sangat menyesakkan dan beruntung hampir 60% stadium mempunyai atap yang terbuka sehingga asap segera hilang dalam waktu 10-15 menit. Padahal asap suar (flare) cukup membahayakan bagi tubuh. Suar (flare) sendiri biasanya digunakan untuk keperluan pendaratan pesawat darurat atau untuk sinyal SOS dan bahkan penerangan dalam air. Petasan kembang api yang dinyalakan dalam stadium juga berbahaya apabila arahnya tidak benar. Bahkan di Malaysia, beberapa waktu lalu seorang penonton mengalami buta total akibat terkena kembang api.

Diam adalah kata yang baik malam tadi ketika kami melihat asap suar dan kembang api karena tidak ada satupun penjaga atau polisi yang segera mengamankan penonton yang membakar suar atau kembang api. Sama seperti para penjaja makanan yang lalu lalang diantara penonton dan membantu kami untuk menghilangkan dahaga dan lapar malam itu.

TST atau Tahu Sama Tahu bagi sesama penonton fanatik bola dan para penjaga stadium. Diluar negeri sekalipun bahkan di Inggris dan Brazil, penyalaan suar kerap digunakan setiap pertandingan sepakbola diadakan. Jadi kalau Pak Djohar Arifin - Ketua PSSI yang terhormat sekarang mengatakan bahwa pembakar suar dan petasan adalah penghianat bangsa, ADALAH TIDAK BENAR......

Mereka bukan penghianat bangsa, mereka hanya sekumpulan fanatik penggemar bola yang belum sadar akan hukum dan bahaya. Andaikata mereka sadar hukum dan melanggar, jangan katakan mereka penghianat bangsa. Rasa kebangsaan mereka dan bahkan kami yang hadir malam itu sangat TINGGI. Dan terkadang membutakan segalanya hingga lupa bahwa hal tersebut adalah SALAH.

Apakah Pak Djohar Arifin sudah melakukan tugas dengan benar sebagai pengurus PSSI? Apakah tanpa suporter, PSSI akan bisa hidup? PSSI dan Suporter adalah sebuah partner dan sudah seharusnya kalian turun tanah dan berbicara dari hati ke hati. Ketika kami melihat permainan buruk tim Garuda tadi malam, jujur sebagian besar suporter tim Garuda kecewa. Dan memang kami mungkin salah karena telah menyalakan petasan dan suar, tapi apakah kalian tidak menyalahkan petugas dan kepolisian yang berjaga malam itu?

Ketika tim Garuda kebobolan 0-2, saya segera meninggalkan stadium dengan tertib dan bahkan kami dengan lantang meneriakkan KAMPUNGAN bagi mereka yang melempar botol aqua kearah tibun bawah. Kami mencegah agar penonton TIDAK melakukan hal serupa. Kami juga berteriak keras agar semua tertib. Bahkan ketika pertunjukkan telah usai, penonton bubar dengan tertib tanpa ada kerusuhan atau chaos. Kami kecewa tapi kami juga telah dewasa.

Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, mari duduk bersama. PSSI melihat kedalam apakah timnas sudah siap atau harus diganti, apakah pelatih timnas sekarang cukup mumpuni, apakah dipertandingan selanjutnya tiket bisa dibeli dengan tertib, apakah dipertandingan selanjutnya petugas jaga pintu masuk lebih 3x ketat dari biasanya tanpa pandang bulu.

Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Dan walaupun timnas kalah 0-2, kami tetap akan mendukung timnas demi Sang Garuda dan Sang Merah Putih, tidak ada yang lebih membanggakan kami ketika senandung lagu Indonesia Raya dan Sang Saka Merah Putih berkibar demi kemenangan, demi Sang Juara!

CARPEDIEM

Thursday, July 28, 2011

Mak Jogi, Hikayat Melayu




Tak kenal maka tak sayang, tanpa disadari bahasa yang kita ucapkan sehari-hari berakar dari bahasa Melayu. Melalui pendekatan budaya dan tarian, budaya melayu semakin berkembang hingga ke Asia dan bahkan Madagaskar.

Dalam pementasan kali ini, Djarum Bakti Budaya mempersembahkan "Mak Jogi" yang diperankan oleh para penari dan pemain berbakat dan bahkan seorang kritikus terkenal. Dari pertunjukkan ini bahkan membuka mata para penonton akan kekayaan budaya Melayu yang telah mempengaruhi budaya nasional baik bahasa maupun gerak tari.

Tom Ibnur, adalah pemeran utama dari Mak Jogi...yang menggambarkan seorang wanita yang pandai menari disebuah kerajaan. Dalam hal ini digambarkan bahwa seorang wanita adalah seorang pria yang tangguh yang mampu mengarungi lautan untuk mengambil air 7 muara. Dan dengan kelembutan seorang wanita, Mak Jogi berhasil mengambil 4 air dari 4 muara.

Setelah ia kembali ke kekerajaan, ia difitnah bahwa tugas yang diembannya telah gagal sehingga patut dikenakan hukuman pancung. Alkisah dari pengembaraannya, ia berhasil membawa seorang putri cantik yang kelak akan dinikahi oleh anak raja dan akan melengkapi air 7 muara.

Sepanjang pertunjukkan banyak dengan dagelan politik yang masih gres...yang membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal hingga ke akhir acara. Sebuah acara yang menyegarkan ditengah suasana politik yang tidak jelas serta kenaikan bahan pangan menjelang puasa.

Friday, July 22, 2011

Calonarang at Bentara Budaya Jakarta




Calon Arang merupakan tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali. Berdasarkan kalendar Saka, Calon Arang adalah legenda yang ditulis pada 1462.

Mengisahkan kehidupan Dayu Datu, perempuan dari Desa Girah, desa pesisir yang termasuk wilayah Kerajaan Kediri (dahulu bernama Daha). Dayu Datu kerap dipanggil dengan sebutan Rangda Nateng Girah, yang artinya Rangda adalah janda, Nateng adalah penguasa, dan Girah adalah nama desa asalnya. Jadi, arti sebutannya adalah Janda Penguasa dari Desa Girah. Dayu Datu, selain dikenal dengan nama Rangda Nateng Girah, juga punya nama julukan lain, yaitu Calon Arang.

Perempuan ini adalah Ratu Leak yang sakti. Ia memiliki anak perempuan yang digambarkan cantik jelita. Namanya, Diah Ratna Mengali. Meski cantik, tidak ada satu lelaki pun yang berminat menikahinya. Sudah bisa ditebak, semua lelaki lebih baik menghindar dan memilih tidak berurusan langsung dengan Calon Arang. Satu hal lagi, masyarakat Daha berpendapat, Diah Ratna Mengali juga memiliki kemampuan meleak, mewarisi ilmu ibunya.

Kesendirian Diah Ratna Mengali membuat Calon Arang terusik. Ditambah perkataan seisi Daha, Calon Arang semakin tersinggung. Walhasil, Calon Arang bersama para muridnya menyerang Daha dengan gerubug, yaitu wabah penyakit yang sulit diobati.

Legenda Calon Arang bisa dibilang salah satu legenda Indonesia yang menyeramkan. Tapi, ia tetap hidup dalam kehidupan orang Indonesia melalui banyak kelahiran kembali. Salah satu sastrawan yang menulis kembali legenda negeri Daha ini adalah Pramoedya Ananta Toer.

Selain melalui karya tulis, legenda Calon Arang juga kerap dihidupkan kembali melalui pentas tari dan teater. Untuk pementasan di Bentara Budaya Jakarta, Calon Arang hadir dalam bentuk pentas tari. Judul pementasan ini adalah Calonarang: Ketundung Ratna Mengali.

Sanggar Gita Lestari adalah kelompok tari yang akan memanggungkan Calon Arang. Mereka adalah kelompok yang berasal dari Banjar Petak, Desa Petak Kaja, Gianyar, Bali. Sanggar yang sudah berdiri sejak 1995 ini dipimpin oleh Anak Agung Gede Putrayasa yang aktif dalam seni tari dan gamelan. Soal perjalanan kreatif mereka, Sanggar Gita Lestari sudah beberapa kali diundang pentas di beberapa negara, seperti Korea, India, dan Swiss.

Dan malam itu, suasana magic sudah terasa ketika pembukaan dimulai. Tiba-tiba ada angin kencang diatas panggung dan setelah pandita membacakan doa, semuanya berlalu dan pertunjukkan pun berjalan dengan lancar.

Teater Calonarang diduga muncul pada tahun 1825 pada zaman kejayaaan dinasti kerajaan Klungkung. Lakonnya bersumber dari cerita semi sejarah dengan seting kejadian pada abad XI, zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Dalam wujudnya sebagai seni pertunjukan Bali, disamping tetap mengacu kepada sastra sumbernya, terjadi pula mengembangan dan penyimpangan. Misalnya muncul tokoh penting yang disebut Rangda yang merupakan siluman Calonarang dalam wujud yang menakutkan. Padahal yang dimaksud rangda dalam sastra sumber adalah janda—Calonarang adalah seorang janda sakti dari Dirah.

Sudah lazim dalam konsep kreativitas seniman Bali yang menjadikan sastra sumber sebagai bingkai intrinsik saja. Implementasi dan transformasi tata pentasnya dicangkokkan dengan pola-pola, idiom-idiom, atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam seni pertunjukan tradisional Bali. Namun dalam teater Calonarang, yang selalu bahkan harus ditonjolkan, adalah sub-tema sihirnya yang disebut leak tadi.

Adalah Antonin Artaud, seorang dramawan terkemuka Prancis, sempat sangat terpesona dengan drama tari Calonarang. Ceritanya pada tahun 1931, Artaud dan para pekerja seni pertunjukan di Eropa sempat digemparkan pementasan Calonarang oleh para seniman Bali yang dipimpin oleh Cokorda Gede Raka Sukawati di arena Paris Colonial Exhibition. Karya Artaud seperti No More Master Sieces dan The Theatre and Plague dikenal kental bernuansa drama tari Calonarang. Seorang koreografer terkenal Indonesia, Sardono W. Kusumo, juga pernah menggarap drama tari Calonarang dengan tajuk Dongeng dari Dirah.

Kajian ilmiah menyangkut teater Calonarang juga cukup banyak, baik hasil penelitian para sarjana asing maupun Indonesia sendiri. Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya Dance and Drama in Bali (1931), Urs Ramseyer dalam The Art and Culture of Bali (1977), Soedarsono dalam Jawa dan Bali, Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia (1972), I Made Bandem & Fredrik deBoer dengan Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition (1981), dan lain-lainnya mengupas dan menempatkan drama tari Calonarang sebagai the drama of magic.

Sub tema sihir memang selalu ditonjolkan dalam teater Calonarang. Di tengah arena panggung ditancapkan gedang renteng di depan sebuah tingga. Gedang renteng adalah sejenis pepaya yang buahnya bertangkai panjang—asosiasi buah dada menggelayut nenek sihir Calonarang. Dibawah pohon itulah Calonarang dalam wujud Rangda mengangkang dan menjerit-jerit memamerkan kesaktiannya. Sedangkan tingga adalah sejenis rumah panggung yang dibuat agak tinggi di sisi arena yang merupakan simbol sarang si janda Dirah. Di rumah panggung inilah Pandung, patih andalan Raja Airlangga, bergumul menancapkan kerisnya bertubi-tubi ke tubuh Calonarang yang trance yang membuat penonton tampak tegang.

Adegan yang membuat penonton bergidik adalah saat mengisahkan akibat teror ilmu hitam Calonarang pada rakyat Airlangga. Di tengah panggung ditampilkan adegan madusang-dusangan (memandikan mayat). Orang yang jadi mayat-mayatan dimandikan dan diupacarai lengkap dengan sesajennya seperti orang mati sesungguhnya di Bali. Sementara madusang-dusangan ini berlangsung, muncul gangguan leak, makhluk jadi-jadian para anak buah Calonarang. Adegan yang menyeramkan ini mengkili-kili nyali penonton.

Dan saya masih ingat ketika berkunjung kerumah kerabat di Puri Sukawati ketika Galungan, Ibu teman saya mengatakan agar malam itu menyaksikan tarian Calonarang untuk memperingati puri Sukawati yg masih dalam kerabat dengan kerajaan Gianyar, Bali. Seketika saya diberitahu agar jangan pulang dahulu sebelum sendratari berakhir karena leak bisa mengikuti kita. Seperti kita ketahui leak adalah bentuk wujud dari roh halus yang membahayakan dan ditakuti karena menghisap darah. Dan biasanya bisa kita jumpai ketika seseorang di aben (kremasi) maka setra atau kuburan akan didatangi oleh para leak. Dan tidak jarang leak berwujud bola api dari kejauhan dan pernah saya jumpai dipinggir pantai sanur malam hari.

Mistik bagi masyarakat Bali adalah bagian dalam kehidupan mereka. Percaya atau tidak, tarian ini memang sakral dan bertujuan untuk membersihkan sesuatu dari hal yang buruk.

Thursday, July 21, 2011

MRI CT Scan @ MRCC Siloam Hospital Semanggi

This is my first time to do this. MRI atau Magnetic Resonance Imaging adalah sebuah pemeriksaan yang bersifat non-invasif yang menggunakan medan magnet yang kuat, gelombang frekuensi radio dan sebuah komputer untuk menciptakan gambar organ, jaringan lunak dan struktur organ internal dalam tubuh secara detail.

Pagi tadi saya memberanikan diri untuk melakukan medical check up disebuah rumah sakit MRCC Siloam Hospital Semanggi yang baru saja diresmikan oleh SBY. Setelah membayar biaya administrasi, saya menunggu diruangan lobby yang terletak dilantai 2 rumah sakit tersebut. Jangan bayangkan saya berada dalam rumah sakit, this is a five star hospital dengan pelayanan yang maksimal.

Ketika saya datang, sudah disapa oleh reception dan diantarkan menuju keruang administrasi serta sofa yang empuk, lukisan seni yang bernilai tinggi dipenjuru ruangan, lantai marmer yang mengkilap serta tempat yang sangat bersih. Jauh dari bayangan rumah sakit biasanya di Indonesia, agak menakutkan dan disini saya merasa seperti dihotel dan sangat nyaman.

30 menit kemudian saya diantar untuk konsultasi dengan dokter serta dicek tensi darahnya, setelah selesai saya dibawa keruang ganti. Seluruh pakaian dicopot dan semua yang berbahan magnet harus dilepaskan karena akan mengganggu proses CT Scan. Dan sekali lagi saya diantar oleh petugasnya yang sangat ramah menuju ke ruang MRI.

Sebuah ruangan berukuran 15 x 15 m yang didalamnya terdapat sebuah alat supermodern dgn merk Philips, kemudian saya disarankan untuk berbaring. Ada perasaan takut karena baru pertama kali melakukan pemeriksaan medis seperti ini.

Bagian kepala saya direkatkan dengan sebuah alat dan bagian badan ditutupi selimut untuk menghindari dinginnya AC. Kemudian saya dipegangi sebuah alat untuk memanggil petugas apabila ada sesuatu yang diinginkan selama pemeriksaan berlangsung. Setelah tiduran, saya diberi headset untuk menghindari suara bising alat tersebut. Pemeriksaan berlangsung selama 30 menit dan saya dilarang untuk bergerak .

Perlahan-lahan tubuh saya masuk kedalam ruangan sempit dan dalam hati saya selalu menyebut nama Allah SWT agar diberi perlindungan, Rasanya seperti masuk kedalam peti mati dan semuanya begitu hening hingga lantunan musik terdengar. Saya terus memejamkan mata dan perlahan mesin MRI tersebut bekerja.

Suara bising agak mengganggu dan itulah fungsi dari headset tersebut. Ketika MRI sedang bekerja mengambil foto organ tubuh saya, magnetnya begitu terasa. Karena tubuh manusia sebenarnya mengandung magnet dan bulu halus berdiri ketika pemeriksaan terjadi,

Alhamdullilah, 30 menit segera berakhir dan rasanya seperti 1 jam saja. Memang diperlukan keberanian untuk melakukan hal ini, tapi demi kesehatan saya siap untuk melakukan apa saja agar terhindar dari penyakit.

Fungsi dari MRI sendiri untuk melihat kelainan pembuluh darah dalam otak, melihat adanya tumor serta gangguan stroke. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bismillah....

Beautiful Iran




Persia..siapa yang tidak mengenal sebutan kata ini untuk sebuah negara yang berada di Timur Tengah yaitu IRAN. Negeri yang didirikan sekitar 3200 SM ini mempunyai sejarah yang cukup tua dan mengesankan. Pada abad 8 M, Islam masuk kedalam kehidupan masyarakat Persia. Dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan yang sangat mengagumkan baik serta menyebarkan filsafat, karya seni, ilmu sains dan tehnik kesegenap penjuru dan bahkan ke dataran Eropa.

Dari Jakarta, kini Emirates menerbangi rute Jakarta - Dubai - Teheran 2 x dalam seminggu dan memakan waktu selama 4 jam perjalanan. Negri ini menyimpan bangunan sejarah Islami yang mengagumkan terlepas dari seluruh masalah politik dan agama.

Dan satuhal, negri ini juga terdapat Gereja dan bahkan Sinagog bagi pemeluk Kristiani dan Yahudi yang tergolong minoritas. Berbagai masjid bisa kita kunjungi dan terutama bagi para penganut Shiah. Ada beberapa tempat yang patut dikunjungi.

Beragam masjid menampilkan mozaik yang menawan dan mengundang decak kagun, mulai dari mozaik porselen berwarna biru yang dijamannya blm dikenal tehnologi untuk membuat porselen secantik itu.

Kubah dalam bagian masjid yang berlekuk-lekuk untuk menimbulkan suara anti gema sehingga tidak diperlukan pengeras suara serta taman-taman kota yang sangat menawan dan dijamin bersih.

Bayangkan aliran air berjalan dengan sangat jernih serta bunga-bunga ditaman yang berwarna warni dan biasa anda nikmati dimusim semi serta panas yang hangat disana. Semuanya adalah hasil karya agung bangsa Persia yang memukau dunia.

Selain itu dibandar Turkaman, Anda bisa membeli caviar kalengan yang terbaik didunia dengan harga yang sangat murah. Serta anda bisa menikmati peninggalan masa lampau di era sebelum Islam yaitu dikota Bam Citadel serta Persepolis. Pandangan mata anda akan dihibur dengan patung2 kuno serta bangunan megah dimasanya.

Isfahan adalah salahsatu kota tercantik di Republik Islam Iran, dimana anda bisa menikmati jembatan kuno yang sangat indah - The Khaju Bridge sambil duduk-duduk dicafe kecil dan menimakti penganan khas - Baglava. Dimalam hari jembatan ini akan terasa begitu magic, aliran air sungai yang jernih dan dingin serta lampu sorot semakin menambah romantisnya suasana dimusim panas. Tetapi disini, muda mudi yang dilarang berpacaran didepan umum.

Iran memang sebuah negri seribu satu malam yang sesungguhnya....