Tuesday, July 10, 2007

The Rise of Indonesian Movies

















Sudah beberapa tahun terakhir ini film Indonesia berusaha bangkit dari keterpurukannya, selama tahun 1992 - 1999 film Indonesia mati suri. Bisa dikatakan hampir tidak ada film Indonesia yang berjaya dinegeri sendiri. Masih ada sebenarnya satu atau dua film Indonesia yang muncul di bioskop tapi dengan umur yang pendek. Bahkan banyak film Indonesia yang agak porno malaha merajai bioskop kelas bawah. Masih kuat dalam ingatan, saya dan teman-teman menonton sebuah film Indonesia semi porno di sebuah bioskop kelas bawah di bilangan tebet. Yang ada kami hanya canda tawa waktu menyaksikan film tersebut...

Saya masih ingat waktu promo film Petualangan Sherina di awal tahun 2000, saya harus mengantri di loket sebuah theater di bilangan Jakarta untuk mengantar adik saya yang waktu itu masih kelas 6 SD. Antrian panjang terjadi kala itu dan isi theater penuh oleh orang tua dan anak-anak mereka yang hendak menyaksikan film Petualangan Sherina.

Kemudian satupersatu film Indonesia bermunculan yang dimulai dengan film bergenre kisah cinta anak muda dengan balutan cerita masa kini "Ada Apa Dengan Cinta" yang terkenal dengan singkatan AADC. Mulailah diikuti dengan film-film yang lain dengan genre yang berbeda dan dibesut oleh sutradara muda Indonesia berbakat.

Ca Bau Kan salahsatu film besutan Nia Dinata berhasil masuk kedalam ajang nominasi oscar untuk film berbahasa asing terbaik. Kemudian dilanjutkan dengan film-film karya Riri Reza "GIE" salahsatu film indonesia termahal dan berhasil memikat banyak penonton Indonesia. Dari sisi sinematografi, film GIE layak diacungkan jempol dan didukung oleh akting para aktor dan aktris yang memikat. Nicolas Saputra memerankan dengan baik tokoh Soe Hok Gie dalam film tersebut. Bahkan semasa pemutaran perdana di kampus sastra UI beberapa waktu yang lalu dalam rangka Hut Mapala UI, banyak teman-teman Soe Hok Gie yang merasa bahwa Gie telah hidup kembali di jaman ini. Saya sendiri yang tidak banyak tahu tentang Gie, jadi mengagumi kebesaran tokoh Gie dan daya hidupnya yang besar serta penolakannya terhadap ketidakmapanan bangsa ini. Saya tidak akan pernah bosan menonton film ini......

Rudy Soejarwo mulai menunjukkan kemampuannya untuk menjadi sutradara handal di bumi Indonesia dengan beberapa filmnya yang layak ditonton ulang seperti film 9 Naga dan  Mengejar Matahari. Film ini bertutur tentang kesetiakawanan dan salahsatu ciri khas hasil karya Rudy adalah warna filmnya yang sedikit gelap. Rudy seakan hendak menyampaikan pesan bahwa dibalik sebuah kegelapan ada sesuatu yang terang.

Nan T Achnas dengan filmnya Pasir Berbisik juga berhasil menyabet penghargaan internasional. Mbak Sekar Ayu Asmara juga berhasil membubuhkan karyanya Biola Tak Berdawai dan beberapa film lainnya, cuma sangat disayangkan karena filmnya jeblok di pasaran.

Salahsatu film yang banyak mendapatkan perhatian adalah film Arisan karya JA atau Joko Anwar sebagai penulis dan Nia Dinata sebagai sutradara. Film ini berhasil memikat banyak penonton Indonesia dengan cerita yang berbeda mengenai kehidupan homoseksual dan gaya hidup kelas atas di Indonesia. Saya masih ingat waktu pembukaan film ini sempat diundang datang oleh JA tapi tidak bisa karena harus berangkat ke Bali malam harinya. JA pun berhasil membuat karya film lainnya seperti Janji Joni yang cukup sukses di pasaran dan memikat perhatian international. Film Kala hasil karya terbaru JA kurang diminati oleh pasar di Indonesia.

Total dari awal tahun 2000 hingga 2006 ada sekitar 100 buah film karya anak bangsa. Walau saat ini film-film bertema horror masih menyedot perhatian penonton. Dimulai dari film fenomenal Jelangkung yang konon ditonton oleh 1 juta orang di Indonesia. Dan diikuti oleh oleh berbagai film dengan tema horror yang ditambahi dengan efek sound yang mencekam.

Berikut ini promo film Indonesia terbaru yang layak disaksikan,

The Photograph

http://www.thephotographmovie.com/about.html


SITA (25), a karaoke bar hostess moves in a small attic room in a house cum studio belonging to JOHAN (50), a Chinese-Indonesian traveling photographer.

Sita also moonlights as a prostitute. One day, she is gang raped by a group of drunken customers and is badly beaten up and Johan saves her. Sita decides that she can no longer return to her life as a bar hostess and offers to be Johan's servant because she cannot pay the rent.

Sita finds out that Johan has only a few months to live and eventually helps him to fulfill three wishes which are represented in three photographs. One, a photo of the sea which is his wish to travel on a ship and visit China; the second, a photo of railway tracks which represents his yearning to travel by train and the third is a photo of an empty chair beside an old camera which is his quest to find a successor.

One day, Johan is enraged because Sita discovers his grim past and drives her away. Weeks pass and one evening a very ill Johan asks her to take a photograph of him. As she is about to take the photo, Johan dies. Sita pretends that Johan is still alive and using the timer she takes a final photo of her smiling into the camera with Johan sitting beside her.

Lari dari Blora:

http://www.laridariblora.com/home.htm

IBAR Pictures dibentuk atas prakarsa Egy Massadiah , mantan wartawan dan seniman teater, yang kini berkiprah dalam bisnis teknologi informasi melalui perusahaan bernama PT Esa Mandiri Teknologi (Esatek). Melalui Esatek ini, Egy ingin mencoba mengayun sebuah langkah di mana bisnis teknologi informasi/komunitas IT memberi kepedulian nyata dalam kegiatan kebudayaan dan kesenian, salah satunya melalui karya cipta film.

Bersama Budi Nugroho, Dindin Zenture, dan Akhlis Suryapati, dimulailah menjadikan Ibar Pictures sebagai perusahaan sekaligus komunitas kreatif bidang film, yang bergerak khusus untuk produksi film layar lebar, dengan mendapat dukungan dari PT Cahaya Kristal Media Utama (Cakrisma) yang bergerak dalam bidang periklanan, serta Creative Plus Communications yang selama ini banyak memproduksi film dokumenter, film iklan, video profile dan desain grafis.

Film Lari dari Blora merupakan proyek pertama, dari rencana Ibar Pictures memproduksi sejumlah film layar lebar pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

Film Lari dari Blora merupakan drama-roman dengan latarbelakang budaya, diharapkan terkemas dalam karya sinematografi yang bisa memberi apresiasi kepada masyarakat tentang sebuah Film Indonesia, tentang sebuah budaya Indonesia, dari sudut pandang sineas Indonesia, serta memiliki daya tutur dan bahasa gambar yang komunikatif.


Anak-Anak Borobudur

Di sebuah desa yang dikelilingi 7 gunung sekitar Candi Borobudur, sebagian penduduk mencari nafkah dengan menggali bebatuan untuk diukir menjadi patung. Amat (Adadiri Tampalang) sering membantu ayahnya (Adi Kurdi) yang bisu. Meskipun memenangkan lomba mematung, Amat mengembalikan piala perlombaan patung ke panitia karena ia merasa tidak berhak menerima nya, Ayahnya dan Siti (Acintyaswasti Widianing) yang menyelesaikan patung tersebut. Akibatnya, Amat dilarang masuk sekolah dan Ayahnya diberhentikan

Sampai akhirnya seorang pengamat seni, Doni (Butet Kertaredjasa) menulis bahwa hukuman pengasingan tersebut tidak mendidik. Saat Gubernur Jawa Tengah, Ibu Suryani (Christine Hakim) datang dan memberikan hadiah secara langsung kepada Amat: “Hadiah untuk keberanian, untuk kejujuran”

Akahkah Amat menolak untuk kedua kalinya?

Rilis di bioksop mulai 5 Juli 2007


Coklat Strowberry

Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy), dua sahabat yang mengontrak di Jakarta. Keseharian mereka adalah kuliah sambil bekerja. Citra bekerja di sebuah distro dan Key sedang berjuang untuk menjadi pemain sinetron. Karena masalah keuangan, Key tidak bisa membayar kontrakan tahun ini. Apalagi kontrak sinetron yang menjadi harapan terakhirnya untuk mendapatkan uang, gagal karena produsernya punya maksud terselubung sehingga membuat Key kabur 
Ibu Ratna (Tieke Priatnakusuma) sang pemilik kontrakan yang sudah bosan dengan seribu satu alasan Key, akhirnya memutuskan memasukkan 2 orang cowok sepantaran mereka untuk meringankan biaya hidup Key dan Citra, yaitu Nesta (Nino Fernandez) dan Aldi (Marrio Merdhithia). Kehadiran 2 cowok keren itu membawa warna baru di kehidupan Key dan Citra. Tapi dibalik itu semua ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Nesta dan Aldi. Rahasia apa yang mereka sembunyikan?

Kamulah Satu-satunya

http://www.kamulahsatusatunya. com/

ndah (Nirina Zubir)., seorang gadis desa biasa, bekerja di sebuah kedai milik kakeknya (Didi Petet) dan penggemar berat grup band Dewa 19. Karena cintanya pada grup band tersebut, Indah rela melakukan apa saja, termasuk meninggalkan orang-orang terdekatnya! Kabur ke Jakarta, terjebak dalam berbagai situasi

Ia juga tidak menyadari, betapa sahabat terdekatnya, Bowo (Junior) diam-diam mencintainya, rela melakukan apa saja demi membuktikan cintanya pada Indah. Namun, justru di saat Indah hampir meraih apa yang diimpikannya, tiba-tiba ia menemukan kenyataan bahwa apa yang dilakukannya selama ini, telah melukai hati orang-orang terdekat yang menyayanginya dengan sepenuh hati.

Apakah Indah berhasil menemui anggota grup band Dewa 19?


1 comment: