Wednesday, July 6, 2011

Manisnya Gula, Ironi Petani Tebu




Membaca nasib petani tebu di Indonesia seperti membuka tabir masa lalu petani tebu di era penjajahan Belanda 350 tahun yang lalu. Para petani tetap dianggap hanya sebagai buruh dan manisnya gula hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Manisnya gula memang membuat orang mabuk kepayang, bahkan sejarah mencatat bahwa bisnis gula dapat membuat pertumpahan darah dan peperangan.

Tanaman tebu ‘Saccharum Officinarum’ diperkirakan berasal dari papua sekitar 8000 tahun sebelum masehi (SM) dan karena dorongan manusia yg bermigrasi maka tanaman tersebut pindah ke kepulauan Solomon dan Kaledonia Baru. Kemudian tanaman tebu masuk ke Indonesia bagian tengah dan barat, Pilipina dan India Barat. Menurut catatan sejarah, gula kasar sudah diproduksi tahun 400 – 700 Masehi di India serta mulai dibawa ke dataran Cina. Di Cina, cairan tebu dikeringkan dengan matahari dan dinamai Madu Batu. Tahun 500 M, tanaman tebu mulai dibawa ke Persia dan kemudian gula mulai sebagai pemanis dalam makanan atau minuman yang mengganti pemanis dari madu.
Pada jaman Nabi Muhammad SAW tahun 632 M, gula mulai dibawa ke jazirah arab lainnya dan bahkan ke Afrika. Di awal abad ke 7 ketika para kafilah menguasai Eropa, gula dibawa ke Spanyol dan Italia. Masyarakat Eropa mulai mengenal manisnya gula sebagai campuran makanan atau minuman.

Kemudian pada tahun 1493, ketika Columbus berlayar untuk menemukan sumber tanaman tebu dan lainnya, ia menemukan benua Amerika. Disanalah tanaman tebu mulai ditanam dibenua Amerika. Tahun 1500 – 1700 merupakan masa penanaman tebu dibenua Amerika Selatan yang beriklim tropis seperti Mexico, Kuba, Brazil dan Peru. Tahun 1800, tebu ditanam di Australia, Fiji dan Afrika Selatan.

Tanaman tebu sendiri mulai dikembangkan pada tahun 75 M di zaman Aji Saka. Perantau China I Tsing mencatat bahwa pada tahun 895 M, gula dari tebu dan nira sudah diperdagangkan di Nusantara. Bahkan penjelajah Italia, Marcopolo ketika berkunjung ke Nusantara telah mencatat bahwa gula sudah menjadi alat barter dan bahan komoditas yang paling dicari pada waktu itu.
Ketika Belanda masuk ke Indonesia tahun abad ke 17, industri gula mulai dikembangkan oleh VOC atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, dikelola bersama dengan orang Cina. Sedikit demi sedikit Pengolahan Gula serhana mulai berkembang ditanah Jawa. Dan VOC mulai melakukan ekspor gula pertama ke Eropa yang dikumpulkan dari 130 tempat pengolahan gula.

Awal abad ke 18, pabrik pengolahan gula yang lebih modern dibuka untuk pertama kali di daerah Pamanukan, Subang (Jawa Barat) dan Besuki (Jawa Timur) karena perkebunan tebu di Batavia sudah tidak bagus lagi akibat penyempitan lahan untuk pemukiman serta perubahan cuaca waktu itu. Lahan-lahan pertanian mulai dirubah untuk perkebunan tebu akibat permintaan yang besar dari Eropa.

Van den Bosch mulai membuat Cultuurstelsel atau pola tanam paksa yang memicu industrilisasi perkebunan tebu di tanah Jawa. Pola tanam paksa harus dilakukan untuk menutup defisit keuangan kerajaan Belanda akibat perang dan sebagainya. Semua perdagangan gula oleh swasta dibatasi dan hanya boleh diperdagangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia membuka ribuan hektar lahan untuk perkebunan tebu diseluruh Jawa dan bahkan hingga ke Sumatra. Pabrik tebu didirikan dan dikelola secara profesional. Seluruh managerial dikuasai oleh para kompeni Belanda dan keluarganya. Penduduk desa diharuskan menanam tebu dan seluruh hasilnya diberikan kepada pemerintah Hindia Belanda. Inilah awal perbudakan akibat manisnya gula di Indonesia.
Para petani yang memiliki lahan dipaksa untuk menanam tebu dan jerih payahnya tidak dihargai. Para kompeni Belanda bekerjasama dengan penguasa bumiputera untuk memaksa para petani agar memberikan seluruh hasil panennya ke pemerintah Hindia Belanda. Dan para penguasa bumiputera tersebut akan menikmati dari hasil pajak perkebunan tebu yang hanya sekian persen. Rakyat dibuat menderita, kelaparan dan pemberontakan terjadi dibeberapa daerah. Bahkan salahsatu konflik awal perang Diponegoro adalah mengenai pola tanam paksa yang merugikan rakyat di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Perang Diponegoro mendorong perjuangan yang gigih akibat penindasan Belanda atas berlakunya pola tanam paksa. Dan bahkan pemerintah Hindia Belanda merugi akibat peperangan yang gigih dari bala tentara Pangeran Diponegoro.

Sementara pemerintah Hindia Belanda menguasai ekspor gula ke Eropa yang tadinya dipegang oleh India, miliaran gulden membuat negeri Belanda dan pihak kerajaan hidup makmur dari hasil penjualan gula. Selain itu, pemerintah Hindia Belanda melakukan inovasi pabrik gula sehingga menghasilkan gula berkualitas tinggi dan bahkan menjadi rujukan pabrik gula diseluruh dunia. Semua mata tertuju pada keberhasilan pabrik gula di Jawa dalam meningkatkan produksinya. Mulai dari pembukaan lahan, irigasi yang bagus, bibit tanaman tebu yang unggul serta pengolahan yang lebih baik lagi.
Dan ketika Jepang masuk ke Indonesia, seluruh keluarga kompeni Belanda diusir dari seluruh perkebunan dan pabrik gula di Indonesia. Dan banyak diantara pabrik gula tersebut menjadi gudang penyimpanan senjata. Gula dianggap bukan sebagai sesuatu komoditas yang menarik bagi penjajahan Jepang. Akibatnya perkebunan tebu terbelengkalai dan pabrik tebu mati suri.
Ketika Belanda hijrah dari Indonesia setelah perang kemerdekaan tahun 1945, mereka kembali lagi dengan melakukan agresi militer Belanda pertama pada tahun 1947. Yang bertujuan untuk merebut kembali sejumlah perkebunan besar di Indonesia yang menjadi sumber pemasukan besar pasca PD II bagi kerajaan Belanda.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, seluruh perkebunan tebu dan pabrik gula milik pemerintah Hindia Belanda berubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara atau PTPN. PTPN IX (persero) adalah badan usaha milik negara (BUMN) agribisnis perkebunan dengan bisnis utamanya adalah gula.

Industri gula pasir dan perkebunan tebu (selain perkebunan lain) telah menumbuhkan sebuah kelas priyayi baru, yaitu para tuan dan mandor. Lebih dari itu, gula telah melahirkan konglomerasi, yaitu Oey Tiong Ham (kemudian warisannya menjadi Rajawali Nusantara). Beberapa pabrik gula warisan Belanda kemudian dinasionalisasikan ke dalam PTP (dulu PNP). Keraton Surakarta maupun Yogyakarta juga memiliki pabrik gula yang dulu memberikan pemasukan besar.

Ada yang lucu dari industri gula. Yakni julukan lucu untuk sebuah profesi, yaitu “dokter gula”. Itu bukan dokter melainkan analis pada laboratorium pemeriksa kualitas tebu dan gula. Pernah ada sekolahnya, bernama Akademi Gula Negara, Yogyakarta, yang kemudian beralih nama menjadi Lembaga Pendidikan Perkebunan.

Industri gula juga memperkenalkan sebuah pesta rakyat setahun sekali, biasanya disebut “wiwit” (Jawa: mulai), yang berlangsung di kompleks pabrik, berupa pasar malam dan hiburan. Dan bahkan dibeberapa daerah seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur dikenal istilah manten tebu, yaitu sepasang batang tebu yang didandani boneka pria dan wanita sebelum memulai panen tebu dipabrik gula. Setelah masa panen dan produksi, para petinggi pabrik gula menerima tantiem atau bonus atau entah apa yang disebut “icip-icip”. Ketika sebagian pabrik gula negara tutup, festival dan bagi-bagi tezeki itu pun menguap. Rel dan roli yang membelah lahan persawahan pun tinggal kenangan.
Di era reformasi, banyak lahan perkebunan tebu berubah menjadi lahan pertanian lain yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan perkebunan tebu. Dan bahkan pada bulan september 2002, dibentuklah tata niaga gula yang hanya menguntungkan perusahaan yang mendapat ijin mengimpor gula dalam bentuk Impor Terdaftar (IT) yang dipegang oleh PTPN IX, X, XI dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Fluktuasi harga, perubahan iklim, hama tanaman tebu mengakibatkan berkurangnya produksi gula di Indonesia. Memang diakui pulau Jawa masih yang terbanyak memiliki pabrik gula walau nomor dua adalah pulau Sumatera dan ketiga di Sulawesi. Produksi gula nasional mengalami penurunan.
Faktor lain adalah munculnya pabrik gula rafinasi sejak pasca reformasi, pabrikan gula ini bisa memperoleh gula mentah impor yang kemudian diproses menjadi gula putih dan kemudian menjualnya dipasaran. Sehingga dipasar modern kini banyak ditemukan gula rafinasi yang dihasilkan bukan dari tebu lokal melainkan tebu impor. Yang tentu saja merugikan petani tebu nasional.

Ketika gula rafinasi menguasai pasaran, apakah yang akan terjadi dengan gula lokal?

Pabrik gula di Indonesia sebagian besar masih peninggalan Belanda termasuk dengan peralatannya yang harus segera direvitalisasi sehingga bisa menghasilkan gula putih. Bagi kebanyakan masyarakat perkotaan, gula yang berwarna putih dengan butiran yang halus merupakan gula yang terbaik. Padahal gula hasil pabrikan dari pabrik gula di Indonesia yang berwarna agak kecoklatan juga tidak kalah unggul. Tetapi tampilan terakhir merupakan salahsatu syarat jual yang paling baik.

Selain itu penetapan harga tebu yang rendah dipasaran menyebabkan kerugian bagi para petani disaat harga gula didunia melambung tinggi. Padahal banyak daerah di Indonesia merupakan perkebunan tebu unggulan. Ketika wabah penyakit tanaman tebu menyerang atau musibah banjir terjadi, para petani banyak yang merugi.

Belum lagi masalah transportasi yang tidak lagi menggunakan lori atau kereta kecil pengangkut tebu dari lokasi perkebunan ke pabrik gula. Tanpa disadari, kereta lori banyak berguna dimasa penjajahan Belanda walau bahan bakar kereta lori tersebut dari kayu bakar. Revitalisasi kereta lori dan rel kereta bisa dikembangkan, mengingat biaya pengangkutan tebu dengan truk membutuhkan biaya transportasi yang tidak murah. Kenaikan BBM juga memicu keengganan para petani untuk menanam tebu khususnya di pulau Jawa yang masih menjadi sentra tebu nasional. Transportasi dengan truk menguntungkan banyak pihak seperti pungutan liar dan lain sebagainya tetapi merugikan petani.

Saya masih ingat ada beberapa pabrik gula jaman Belanda yang kini tidak terpakai lagi dan bahkan sudah tutup sehingga para petani tebu harus mengirim tebunya dengan truk dan jarak yang cukup jauh. Sehingga mengurangi pemasukan para petani dari penjualan tebu setiap masa panen. Belum lagi kenaikan harga pupuk urea dan ulah para tengkulak yang memainkan harga pupuk.

Wacana pemerintah untuk swasembada tebu di Indonesia sepertinya masih jauh dari harapan. Padahal Indonesia adalah penghasil gula yang sukses dijamannya dan dari bumi nusantaralah gula bisa memaniskan indera pengecap seluruh manusia dipenjuru dunia.

Swasembada gula harus melibatkan para petani hingga kepabrik yang mau menerima tebu dari petani tersebut serta keikutsertaan perbankan untuk memotivasi para petani. Mantan presiden Brazil, Louis da Silva telah sukses merevitalisasi perkebunan tebu di Brazil. Ia berani mengambil gebrakan baru dengan memaksa para bank untuk memberikan pinjaman lunak kepada para petani. Serta disaat petani mengalami musibah seperti terkena hama atau banjir, maka petani tidak dibebani bunga yang tinggi atau bahkan tanpa bunga sekalipun tetapi diberikan jeda waktu pembayaran cicilan yang fleksibel agar mereka bisa memulai tanam dan setelah panen bisa membayar kembali hutangnya.

Dan mengharuskan setiap pabrik untuk merevitalisasi peralatan serta membentuk pusat penelitian untuk mengembangkan produk turunan dari tebu yang kini terkenal diseluruh dunia yaitu etanol. Brazil adalah negara penghasil etanol terbesar didunia dan digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi untuk kendaraan umum.

Tebu tidak hanya menghasilkan gula padat tetapi juga berguna mulai dari batang hingga daun serta ampas tebu. Saat ini tercatat 60 pabrik gula di Indonesia yang terdiri dari 51 pabrik gula milik BUMN dan 9 pabrik gula swasta. Pengetatan gula impor harus digalakkan dan bahkan dikenakan sangsi yang tegas kepada para pengusaha pabrik gula agar tidak mengimpor gula mentah.

Pembukaan lahan baru dan pabrik gula yang sahamnya bisa dimiliki oleh para petani lokal menjadi salahsatu pilihan terbaik agar ada kesinambungan antara investor dan petani. Selama ini petani hanya dijadikan obyek penderita saja tetapi hasil keuntungan terbesar tetaplah pada investor pabrik gula disaat harga gula dunia naik. Dan buatlah skema seperti VOC ketika seluruh penjualan gula harus melalui satu pintu bukan diberikan kepada swasta seperti sekarang.
Dan dengan pemerintahan yang tidak pro rakyat seperti saat ini, saya pesimis swasembada gula bisa dilakukan pada tahun 2014. Petani hanya sebagai obyek penderita dan gula tetap menjadi barang komoditas yang mahal seperti saat ini.

2 comments:

  1. Artikel yang menarik. saya juga sedang meneliti tentang gula di jaman hindia belanda dan korelasinya hingga kini. Bisakah saya meminta waktu anda untuk berdiskusi dengan saya tentang gula?

    ReplyDelete
  2. Artikel yang menarik. saya juga sedang meneliti tentang gula di jaman hindia belanda dan korelasinya hingga kini. Bisakah saya meminta waktu anda untuk berdiskusi dengan saya tentang gula?

    ReplyDelete